A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Dengan Fikir dan Zikir Hadapi Era Globalisasi - Serambi Indonesia
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Serambi Indonesia

Dengan Fikir dan Zikir Hadapi Era Globalisasi

Sabtu, 6 Agustus 2011 10:54 WIB
Dengan Fikir dan Zikir Hadapi Era Globalisasi
Salah satu gedung pesantren modren Tgk Chik Oemar Diyan di Desa Lam Kreueng, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar.
SEJAK awal didirikan pada tahun 1990, pesantren yang berlokasi di Desa Krueng Lamkareung, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar ini, sudah mendidik para santrinya untuk menjadi kader-kader penerus perjuangan Islam, tanpa harus menjadi radikal.  Itu karena, pesantren ini memang didirikan atas prakarsa seorang aktivis muslim Aceh, yakni (alm) Sa’aduddin Djamal yang sepanjang hidupnya aktif di berbagai organisasi Islam, seperti PII, HMI, MI, dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Di samping itu, ia juga aktif di partai politik (PPP), yang pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Aceh,  dan hingga akhir hayatnya di tahun 1995 ia masih tercatat sebagai anggota MPR RI utusan daerah.

Tak heran, banyak alumni pesantren ini yang mampu mengisi berbagai bidang pekerjaan, seperti tokoh organisasi, PNS, pengajar pesantren, dan tak sedikit pula yang melanjutkan pendidikan di luar negeri seperti di Arab Saudi, Maroko, Kairo, serta Malaysia. Menurut Kepala Madrasah Aliyah (MA) di pesantren tersebut, Jawahir SPdI, para santri sengaja dididik untuk menjadi manusia yang berilmu, beriman, dan bertakwa kepada Allah Swt, serta menghayati dan mengamalkan ajaran Islam. Mereka juga diarahkan untuk menjadi kader penerus perjuangan Islam, yang bertanggung jawab terhadap pembangunan masyarakat, agama, bangsa, dan negara.

“Kami berharap, setelah tamat dari pesantren ini, para santri memiliki kecerdasan dan keterampilan, serta keseimbangan antara fikir dan zikir, dalam menghadapi kemajuan teknologi dan globalisasi yang terus berkembang,” katanya. Seperti pesantren modern lainnya, pesantren ini juga memadukan kurikulum dayah dengan kurikulum Depag, dengan penekanan pada kemampuan menguasai bahasa Arab, Inggris, secara aktif, baik lisan maupun tulisan.

“Setiap hari, santri menghapal dua kosa kata bahasa asing, dan bahasa sehari-hari harus menggunakan bahasa Arab. Jika kedapatan menggunakan bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah, akan kena sanksi berupa cukur rambut untuk pria, atau pemakaian ‘jilbab merah’ untuk wanita,” ujar Jawahir, sambil menegaskan bahwa kedisiplinan sengaja diterapkan dengan sangat ketat untuk membentuk karakter santri.  Dia menambahkan, terhadap dewan guru dan santri juga selalu ditanamkan konsep pancajiwa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Pancajiwa dimaksud, yakni jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa berdikari, jiwa ukhuwwah Islamiyah, dan jiwa kebebasan. Diharapkan, selain menguasai ilmu pengetahuan baik agama maupun umum, santri juga memiliki kepribadian yang luhur dan akhlak mulia, serta mampu hidup mandiri.(th)

profil pesantren
- Didirikan tahun 1990
- Jumlah santri 802 orang
- Tenaga pengajar 85 orang (S1 dan S2)
- Jenjang pendidikan, SD, MTs, MAS
Editor: hasyim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
493 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas