Sabtu, 20 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Mari Belajar Ke Cina

Rabu, 24 Agustus 2011 09:57 WIB

Mari Belajar Ke Cina
Sahara Ganie
Oleh Sahari Ganie

HADIS Uthlubul ilma walaw bishshiin (Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina) cukup populer di kalangan umat Islam. Meskipun penafsirannya masih menyisakan kontroversi karena menurut sebagian ulama sanadnya dianggap lemah. Namun menariknya jika dikaitkan dengan success story pembangunan negera Cina sekarang ini, hadis di atas terasa relevan dan memiliki korelasi positif. Sebaiknya kalangan intelektual Islam perlu mengkaji ulang sanad hadis tesebut dengan kritis dan mengungkap konteks dan perspektif logika sosiologis yang melatari kemunculan hadis tersebut ratusan tahun silam di tengah peradaban Islam.

Paling tidak hadis tersebut berupaya mengajak pemimpin Islam untuk memetik pelajaran dari peradaban Cina. Kemajuan ekonomi, industri dan teknologi yang dicapai hanya dalam tiga dekade. Bandingkan dengan Indonesia meski sudah 66 tahun merdeka tapi pembangunannya masih berjalan di jalur lambat. Program 4 Modernisasi (ilmu pengetahuan, industri, pertahanan dan pertanian) yang digagas pada tahun 1978 oleh pemimpin kharismatis Cina Deng Xiaoping telah menggiring Cina tampil sebagai kekuatan global.

Peta Jalan Modernisasi Cina menuju abad ke-21 yang dipublikasikan Pusat Penelitian Modernisasi Cina dengan gamblang menegaskan ambisi tersebut. Ditargetkan pada tahun 2025 produk domestik bruto (GDP) Cina menyamai Jepang. Tahun 2050 Cina jadi negara industri maju. Tahun 2080 Cina setara dengan AS. Tahun 2100 Cina menjadi negara paling maju di dunia. Suatu ambisi strategis berskala mondial yang harus sedini mungkin diantisipasi secara taktis oleh negara-negara Asia calon penerima dampak hegemoni Cina di abad mendatang.

Padahal empat dekade lalu Cina digelar sebagai raksasa sakit Asia dan menjadi bulan-bulanan kolonial Barat dan Jepang dalam Perang Candu. Kini Cina muncul sebagai kandidat global power dalam sektor ekonomi, industri dan militer. Diprediksi dalam dua atau tiga dekade ke depan Cina akan tampil menjadi pesaing utama Amerika.

Cina sekarang ini memiliki semua kondisi yang dibutuhkan untuk mencapai status prestisius itu. Antara lain basic power (populasi, sumber daya alam, dan kesatuan nasional), economic power (kekuatan industry, pertanian, ilmu pengetahuan dan teknologi, kekuatan keuangan, dan perdagangan), national defense power (sumber daya strategi, teknologi, kekuatan militer, dan nuklir), dan diplomatic power (kebijakan luar negeri, sikap terhadap urusan internasional, bantuan luar negeri).

Ekonomi Cina sekarang berada di urutan ke 2 kekuatan ekonomi dunia setelah AS. Ketika krisis finansial menerpa Asia tahun 2008 Cina justru tampil menjadi pionir peredam krisis. Cina berhasil mengangkat 200 juta lebih rakyatnya dari perangkap kemiskinan menjadi kelas menengah dan membangun sejumlah kota megapolitan baru seperti Shanghai, Guanzo, dan Xinjuan. Nilai ekspor Cina naik sepuluh kali lipat, selama tahun 1990-2003 bernilai sekitar $436 trilyun dollar. Dominasi overseas chinese (Cina perantauan) dalam perekonomian nasional negara-negara Asia mempercepat akses ekspor Cina menguasai pasar Asia Pasifik. Dalam sektor bisnis finansial Bank of Cina sekarang berada di ranking nomor satu di dunia menggeser posisi City Bank milik AS. Cadangan emas Cina saat ini disinyalir jauh di atas AS, IMF dan World Bank.

Sebagaimana lazimnya kemajuan ekonomi berbasis industrial complex dengan ribuan hitech industry manufaktur, menyebabkan kebutuhan impor energi meningkat tajam. Untuk mejamin kelangsungan pasokan energi bagi industrinya, Cina harus memiliki kekuatan militer yang adidaya. Tentara Pembebasan Rakyat Cina atau PLA merupakan kekuatan milite terbesar di dunia memiliki 2.255.000 tentara aktif, 800.000 pasukan cadangan serta 3.969.000 paramiliter. Untuk menggenjot industri mesin perangnya Cina meningkatkan anggaran pertahanannya.

Tahun ini naik 12,7 persen menjadi 601,1 miliar yuan (91,7 miliar dollar AS) lebih tinggi dari tahun lalu. Dalam upaya mengamankan jalur suplai energi (sea lane) di Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan, Cina melakukan pembangunan angkatan laut (naval build up) besar-besaran. Albert Keidel seorang analis internasional dari The Carnegie Endowment for International Peace, menyatakan bahwa dengan kekuatan ekonomi besar itu, ada kemungkinan kepemimpinan lembaga-lembaga internasional seperti, PBB, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, Bank Pembangunan Regional dan Internasional, di masa depan akan berada dalam genggaman Cina. Markas-markas organisasi internasional ini tidak mustahil akan berpindah ke Beijing dan Shanghai.

Kemajuan Cina di sektor ekonomi dan militer telah mencekam dunia Barat yang merasa kekuasaan hegemoninya mulai diusik Cina. Dalam upaya menghambat gerak laju ambisi global Cina. AS dan sekutu Eropa menciptakan teori propaganda “sindrom ancaman Cina” (China Threat Theory). Dikembangkan dalam aneka varian ancaman seperti “China economic threat,” “China military threat,” dan “China diplomacy threat,”. Untuk melahirkan kekuatiran negara-negara berkembang di Asia Afrika dan Amerika Latin.

Resep sukses Cina adalah kombinasi kepedulian pemerintah atas pendidikan. Tercermin dari jumlah sarjana ilmu teknik dan eksakta yang mencukupi kebutuhan sektor industri. Pada tahun 2006 di Cina tercatat sekitar 1,5 juta lulusan ilmu eksakta. Fokus pada pendidikan adalah ajaran filsuf Konfusius, 500 SM yang mengatakan “Jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah benih. Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah pohon. Jika ingin kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah (didiklah) manusia”. Ditambah budaya kerja keras yang cerdas, dan kesungguhan pemeritah memerangi korupsi melalui hukuman mati. Kredibilitas dan wibawa pemerintah di mata rakyat cukup tinggi. Ini telah menumbuhkan rasa percaya diri dalam benak penguasa maupun rakyat. Semua merasa memiliki dan bangga menjadi bangsa Cina.

Konteks Aceh
Dalam konteks Aceh, aspek historis dan ekonomi strategis bisa jadi dasar “Belajar ke Negeri Cina” relevan bagi pembangunan Aceh di masa depan. Pertama, konteks relasi historis hubungan diplomasi kerajaan Aceh dan Tiongkok di masa silam, lonceng Cakra Donya adalah saksi bisu bukti itu. Laksmana Cheng Ho panglima armada laut Cina singgah di Pasai dalam muhibah pengembaraan dunia. Kedua, konteks geo ekonomi terkait posisi geografis Aceh Aceh terletak di jalur lalu lintas pelayaran Internasional atau disebut SLOC (Sea Lines of Communication) Samudera Hindia peluang mempromosikan hub Sabang bagi kapal-kapal Cina) yang melintas di Selat Malaka dan Samudera Hindia. Pemerintah Aceh perlu segera membentuk Desk Cina unit khusus yang menyusun strategi grand disain blueprint menyikapi dampak kebangkitan global ekonomi Cina. Perlu dilakukan transformasi paradigma berfikir (mindset) pembuat kebijakan di pemerintah Aceh (kepala dinas dan instansi teknis) maupun sektor swasta (KADIN dan asosiasi usaha terkait) agar lebih visioner, inovatif dan proaktif membaca pergeseran trend ekonomi dunia kedepan. Perlu disadari era America dan Euro Centris sedang diambang senja kala digantikan China awakening. Jika masih terpaku dalam paradigma dan pola pikir lama maka posisi dan potensi geo-ekonomi dan geo-strategis yang dimiliki Aceh akan sia-sia belaka.

* Penulis adalah peminat masalah internasional. Master Hubungan Internasional, American University London.
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas