Minggu, 1 Februari 2015
Home » Opini

Mari Belajar Ke Cina

Rabu, 24 Agustus 2011 09:57 WIB

Mari Belajar Ke Cina
Sahara Ganie

HADIS Uthlubul ilma walaw bishshiin (Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina) cukup populer di kalangan umat Islam. Meskipun penafsirannya masih menyisakan kontroversi karena menurut sebagian ulama sanadnya dianggap lemah. Namun menariknya jika dikaitkan dengan success story pembangunan negera Cina sekarang ini, hadis di atas terasa relevan dan memiliki korelasi positif. Sebaiknya kalangan intelektual Islam perlu mengkaji ulang sanad hadis tesebut dengan kritis dan mengungkap konteks dan perspektif logika sosiologis yang melatari kemunculan hadis tersebut ratusan tahun silam di tengah peradaban Islam.

Paling tidak hadis tersebut berupaya mengajak pemimpin Islam untuk memetik pelajaran dari peradaban Cina. Kemajuan ekonomi, industri dan teknologi yang dicapai hanya dalam tiga dekade. Bandingkan dengan Indonesia meski sudah 66 tahun merdeka tapi pembangunannya masih berjalan di jalur lambat. Program 4 Modernisasi (ilmu pengetahuan, industri, pertahanan dan pertanian) yang digagas pada tahun 1978 oleh pemimpin kharismatis Cina Deng Xiaoping telah menggiring Cina tampil sebagai kekuatan global.

Peta Jalan Modernisasi Cina menuju abad ke-21 yang dipublikasikan Pusat Penelitian Modernisasi Cina dengan gamblang menegaskan ambisi tersebut. Ditargetkan pada tahun 2025 produk domestik bruto (GDP) Cina menyamai Jepang. Tahun 2050 Cina jadi negara industri maju. Tahun 2080 Cina setara dengan AS. Tahun 2100 Cina menjadi negara paling maju di dunia. Suatu ambisi strategis berskala mondial yang harus sedini mungkin diantisipasi secara taktis oleh negara-negara Asia calon penerima dampak hegemoni Cina di abad mendatang.

Padahal empat dekade lalu Cina digelar sebagai raksasa sakit Asia dan menjadi bulan-bulanan kolonial Barat dan Jepang dalam Perang Candu. Kini Cina muncul sebagai kandidat global power dalam sektor ekonomi, industri dan militer. Diprediksi dalam dua atau tiga dekade ke depan Cina akan tampil menjadi pesaing utama Amerika.

Cina sekarang ini memiliki semua kondisi yang dibutuhkan untuk mencapai status prestisius itu. Antara lain basic power (populasi, sumber daya alam, dan kesatuan nasional), economic power (kekuatan industry, pertanian, ilmu pengetahuan dan teknologi, kekuatan keuangan, dan perdagangan), national defense power (sumber daya strategi, teknologi, kekuatan militer, dan nuklir), dan diplomatic power (kebijakan luar negeri, sikap terhadap urusan internasional, bantuan luar negeri).

Ekonomi Cina sekarang berada di urutan ke 2 kekuatan ekonomi dunia setelah AS. Ketika krisis finansial menerpa Asia tahun 2008 Cina justru tampil menjadi pionir peredam krisis. Cina berhasil mengangkat 200 juta lebih rakyatnya dari perangkap kemiskinan menjadi kelas menengah dan membangun sejumlah kota megapolitan baru seperti Shanghai, Guanzo, dan Xinjuan. Nilai ekspor Cina naik sepuluh kali lipat, selama tahun 1990-2003 bernilai sekitar $436 trilyun dollar. Dominasi overseas chinese (Cina perantauan) dalam perekonomian nasional negara-negara Asia mempercepat akses ekspor Cina menguasai pasar Asia Pasifik. Dalam sektor bisnis finansial Bank of Cina sekarang berada di ranking nomor satu di dunia menggeser posisi City Bank milik AS. Cadangan emas Cina saat ini disinyalir jauh di atas AS, IMF dan World Bank.

Sebagaimana lazimnya kemajuan ekonomi berbasis industrial complex dengan ribuan hitech industry manufaktur, menyebabkan kebutuhan impor energi meningkat tajam. Untuk mejamin kelangsungan pasokan energi bagi industrinya, Cina harus memiliki kekuatan militer yang adidaya. Tentara Pembebasan Rakyat Cina atau PLA merupakan kekuatan milite terbesar di dunia memiliki 2.255.000 tentara aktif, 800.000 pasukan cadangan serta 3.969.000 paramiliter. Untuk menggenjot industri mesin perangnya Cina meningkatkan anggaran pertahanannya.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas