A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Khatib Jumat Dikeroyok Jemaah - Serambi Indonesia
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 20 Agustus 2014
Serambi Indonesia

Khatib Jumat Dikeroyok Jemaah

Sabtu, 10 September 2011 13:01 WIB
Khatib Jumat Dikeroyok Jemaah
Tgk Saiful Bahri
SIGLI - Tgk Saiful Bahri bin Ahmad Abu (41) mengalami kejadian yang tak biasa, Jumat (9/9) kemarin. Saat menyampaikan khotbah Jumat di Masjid Raya Keumala, Kampung Jijiem, Kecamatan Keumala, Pidie, sekitar pukul 13.15 WIB, ia dikeroyok oleh delapan jemaah. Korban menduga para pengeroyoknya anggota Komite Peralihan Aceh (KPA), namun Ketua KPA Pidie, M Sufi alias Abusyiek, membantahnya.

Kasus itu kini telah ditangani polisi.  Pemukulan warga Gampong Ara Bungkuk, Kecamatan Mila, Pidie itu diduga karena para pelaku tersinggung oleh isi khotbah Tgk Saiful yang, antara lain, menyinggung soal kisas (qhisas) atas pembunuhan bersengaja.

Pengeroyokan itu bukan saja menyebabkan khotbah terhenti beberapa menit, tapi juga mengakibatkan alis mata kanan Tgk Saiful robek terkena bogem. Meski terhenti sesaat, khotbah sebagai rukun shalat Jumat tetap dilanjutkan oleh khatib pengganti yang hanya membacakan dua rukun alkhutbah.

Selaku korban, Tgk Saiful Bahri mengungkapkan kepada Serambi bahwa kejadian itu berawal saat ia sedang menyampaikan nasihat agama melalui mimbar Jumat. Dia khotbah di masjid itu atas undangan Abu Muhammad Amin, Pimpinan Pesantren Darul Qamariah Keude Keumala.

Isi nasihat dalam khotbah itu, menurut Tgk Saiful, antara lain, jika hukuman Allah tidak diberlakukan umat manusia di dunia, maka akan tetap berlaku di akhirat. Misalnya, hukum syar’i terhadap bunuh-membunuh yang saat ini tidak berlaku di hampir seluruh dunia, tapi pasti akan berlaku di akhirat kelak. Kecuali manusia tersebut mau tobat nasuha serta meminta maaf kepada pihak keluarga yang terbunuh dan keluarga tersebut memaafkannya. “Maka bagi pelaku akan dikenakan hukum kisas dengan membayar diat (denda) seratus ekor unta.”

Jangankan manusia yang dibunuh, kata Tgk Saiful, kambing bertanduk pun yang menanduk kambing tidak bertanduk, maka ketika kambing tak bertanduk itu mencari keadilan, Tuhan akan memindahkan tanduk kambing itu kepada kambing yang tidak bertanduk.

“Itulah, antara lain, isi nasihat yang saya sampaikan secara panjang lebar. Jadi, tidak menyinggung organisasi mana pun, termasuk KPA. Lain halnya kalau saya menyinggung masalah KPA, itu baru salah, tapi ini kan tidak,” kata Tgk Saiful berbahasa Aceh.

Begitulah versi Tgk Saiful. Lalu, lima menit menjelang khotbah Jumat di mimbar itu selesai, tiba-tiba seorang jemaah bangun lalu meminta Saiful turun dari mimbar. Kemudian bangun pula beberapa temannya. “Total mereka delapan orang, langsung menuju mimbar, dan mengeroyok saya,” ungkap Tgk Saiful.

Dalam posisi sedang di mimbar, terang saja Tgk Saiful tak bisa melawan. tapi untunglah cepat dilerai oleh jemaah Jumat yang lain, sehingga pengeroyokan itu tak berlanjut. “Saya langsung dilarikan ke luar masjid oleh jemaah untuk menghindari amukan mereka. Pelaku saya kenal oknum-oknum KPA,” aku Tgk Saiful ketika ditanya siapa kira-kira pelaku yang menghajarnya.

Ia bersikeras kasus yang menimpanya itu agar tetap diproses secara hukum. “Saya telah melaporkan resmi kasus ini kepada polisi,” ujar Tgk Saiful. Kapolres Pidie, AKBP Dumadi, melalui Kasat Reskrim AKP Jatmiko, yang dihubungi Serambi kemarin mengatakan, saat ini polisi telah meminta keterangan Tgk Saiful selaku korban pengeroyokan saat khotbah di Mesjid Keumala. “Korban sudah divisum dokter. Terdapat empat jahitan di bagian pelipis kanannya,” jelas AKP Jatmiko.   

Selain itu, kata Jatmiko, polisi juga meminta keterangan dari enam saksi yang terkait dalam peristiwa itu. Mereka adalah Tgk Ilyas Abubakar (40), warga Gampong Jijiem, Kecamatan Keumala yang juga anggota DPRK Pidie dari Partai Aceh. Berikutnya M Amin (35), warga Gampong Ugadeng, Nurdin (32) dari Gampong Nicah, Zulkifli (28), warga Gampong Keumala, dan Sabirin (35), warga Cot Nuran, semuanya dari Kecamatan Keumala, Pidie.

Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik, kata AKP Jatmiko, dua orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Yakni, Tgk Ilyas dan Sabirin. “Keduanya telah ditahan. Kami membidik pelaku dengan Pasal 351 dan 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pengoroyokan,” kata Jatmiko.

 Bukan anggota KPA
Ketua KPA Pidie, M Sufi alias Abusyiek, kepada wartawan kemarin mengatakan, pemukulan khatib Jumat di Masjid Raya Keumala itu murni dilakukan jemaah yang bukan anggota KPA setempat sebagaimana dituding korban.

Ia menduga di antara jemaah ada yang bereaksi spontan mendengar isi khotbah, karena khatib menyampaikan misi politik. “Di antara jemaah ada yang meminta agar khatib tidak menyinggung masalah politik. Tapi, tidak diindahkan oleh khatib. Bahkan, setelah diminta turun, khatib tersebut bersikukuh tak mau turun dari mimbar. Akibatnya massa tidak sabar dan merasa geram, lalu memaksanya turut dari mimbar dan insiden itu pun terjadi,” urai Abusyiek panjang lebar.

Ia juga menegaskan bahwa kejadian itu tidak melibatkan anggota KPA, melainkan murni dilakukan oleh jemaah shalat Jumat. “Peristiwa itu terjadi secara spontan,” kata Abusyiek.  Sebuah sumber menyebutkan bahwa peristiwa itu bermotif politik, mengingat Tgk Saiful di Pidie merupakan ketua tim sukses salah satu kandidat gubernur Aceh yang bukan dari PA. Namun, informasi ini belum terkonfirmasi.

Wakil Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pidie, Tgk Ramli SAg yang ditanyai Serambi mengaku belum tahu secara detail penyebab dan latar belakang peristiwa itu. Tapi, menurutnya, mengasari khatib yang sedang berkhotbah, tidak dibenarkan baik secara agama maupun hukum negara.

“Semua pihak harus bisa menahan diri dan tidak perlu melakukan tindakan seperti itu. Seharusnya insiden tersebut tak perlu terjadi. Apalagi kejadiannya di dalam masjid,” ujar Tgk Ramli. Reaksi lebih keras disampaikan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) yang menyatakan mengutuk aksi tersebut. “Tidak ada alasan yang membenarkan tindakan pemukulan terhadap khatib yang sedang menyampaikan khotbah. Perilaku seperti ini, mencerminkan orang tidak beriman,” tulis Sekjen HUDA Tgk H Faisal Ali, melalui pesan pendek (sms) kepada Serambi kemarin.(naz/c43/nal)
Editor: hasyim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
3447 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas