Lintas Meureubo Masih Diblokir
Aksi pemblokiran jalan Ranto Panyang-Tumpok Ladang di lintas Meureubo-Kaway XVI, Aceh Barat, hingga Jumat (16/9) masih dilakukan
Kepada Serambi, Jumat kemarin, Mukim Ranto Panyang, Cahidin mengatakan pemblokiran jalan masih dilakukan warga dan warga akan membuka ketika sudah dimulai pengerjaan. “Kami memang sudah mendengar khabar sudah diumumkan proyek jalan di wilayah kami, tetapi baru akan dibuka ketika sudah dimulai pengerjaan,” ujar Cahidin.
Menurutnya, jalan itu saat ini hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua, sedangkan roda empat masih lumpuh sebab hampir sepanjang jalan sepanjang 5 km masih ditanami berbagai jenis pohon oleh penduduk sebagai bentuk kekecewaan dengan harapan jalan yang sudah dijanjikan bisa segera dimulai pembangunannya. Sebab jalan itu sudah hancur dan sudah sangat sulit dilewati.
Sementara itu, Kadis Bina Marga Aceh Barat, Marhaban mengungkapkan proyek jalan Ranto Panyang-Tumpok Ladang bersama 18 paket lainnya yang jumlah dana sebesar Rp 39,8 miliar itu sudah diumumkan pemenang oleh Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh di Banda Aceh pada Selasa lalu. “Harapan kita dengan telah diumumkan proyek jatah Aceh dana Otsus 2011 itu bisa segera dikerjakan, sebab tahun anggaran hanya tersisa beberapa bulan lagi,” ujar Marhaban.
Ia mengaku, belum dilakukan pengerjaan akibat belum diumumkan oleh BMCK Aceh meski pengumuman dibuka tender sudah empat bulan lalu. Padahal, masyarakat sudah menantikan jalan dan jembatan di wilayah mereka segera dibangun. Karena itu, dengan sudah diumumkan itu maka harus segera dipacu pengerjaannya sehingga bisa segera rampung.
Sebelumnya diberitakan, masyarakat empat desa di Kabupaten Aceh Barat, Senin (12/9) memblokir jalan Ranto Panyang-Tumpok Ladang di lintas Meureubo-Kaway XVI. Jalan sepanjang 4 kilometer yang sebelumnya pernah dijanjikan dibangun dalam tahun 2011 melalui dana Otsus sebesar Rp 4,8 miliar tetapi hingga kini belum direalisasikan sehingga kerusakan kian parah. Akibat aksi blokir oleh ratusan warga ini, arus transportasi darat menggunakan armada empat roda menjadi lumpuh.
Pemblokiran dilakukan ratusan warga dengan cara menebang pohon dan meletakkannya di badan jalan serta menanam berbagai jenis pohon seperti pinang, kelapa, dan sejumlah tamanan lain. “Aksi yang kami lakukan hari ini memblokir jalan merupakan aksi lanjutan yang pernah kami lakukan awal tahun 2011 lalu, tetapi waktu itu dijanjikan akan dibangun mulai bulan Juni 2011, tetapi sudah masuk September belum juga dikerjakan,” ujar Mukim Ranto Panjang, Cahidin kepada wartawan di lokasi pemblokiran, Senin (12/9).
Jalan ini dijanjikan akan dibangun dengan melalui dana Otsus 2011 tetapi hingga kini belum ada realisasinya, sehingga masyarakat dari empat desa yaitu Desa Pasi Aceh Baroh, Pasi Aceh Tunong, Pasi Aceh Tengoh, dan Tumpok Ladang menjadi kecewa.
Zanuddin dan Muhammad, penduduk Pasi Aceh Baroh mengungkapkan, kerusakan jalan kian parah dan selama ini tidak pernah diperbaiki sehingga penduduk tidak tahu kemana mengadu lagi. Namun, yang makin kecewa adalah sebelumnya sudah dijanjikan akan dibangun. “Jalan daerah kami sudah seperti kubangan kerbau karena tidak pernah mendapat perhatian,” ujar Muhammad.(riz)