Lisya Bangga Kenakan Jilbab
Lisyanurahmi (21) Putri Indonesia asal Aceh harus bebesar hati karena tidak berhasil meraih juara pada satu katagoripun
“Berat persaingannya. Ya cukup besar hati dengan hasilnya, tetapi saya tetap bangga. Saya tetap bisa menjaga amanat dari masyarakat Aceh untuk tetap berjilbab,” tulisnya lewat Blackberry Messenger (BBM), Senin (10/10).
Mahasiswa semester 7 Fakultas Kedokteran Unsyiah jurusan Ilmu Keperawatan ini merasa pesimis untuk bisa menang dalam ajang impian bagi perempuan Indonesia itu, dan sempat terpikir tidak bisa meraih kemenangan hanya lantaran dia tampil beda dari kontestan lainnya, yakni mengenakan jilbab. “Tetapi saya ikhlas kok, sudah jadi finalis saja sudah Alhamdullilah sekali,” kata Lisya.
Menurut gadis kelahiran 28 Juni 1990 ini, memakai jilbab merupakan prinsip hidupnya dan menjaga kehormatan sebagai wanita muslimah di Aceh adalah hal yang paling terpenting dari sekedar mencari juara. “Semoga tahun depan ada perwakilan dari Aceh yang tetap mengenakan jilbab. Tentunya lebih baik dari saya dan dapat bersaing dengan 32 finalis PPI lainnya,” ujar dara pemilik tinggi 170 cm tersebut.
Pramugari Garuda Indonesia yang akan terbang pada tanggal 12 Oktober dari Banjarmasin ke Jeddah itu mengaku, prinsip yang dipegangnya itu banyak mendulang kekaguman dari kontestan Putri Indonesia lainnya. “Kawan-kawan sesama finalis kagum dengan prinsip saya itu, tetap memakai jilbab. Padahal menurut mereka inikan kontes kecantikan,” kata putri sulung dari Syahrul Mustafa dan Herlinawati itu bangga.
Pada malam Grand Final di JCC Senayan, Jakarta, Lisya saat opening mengenakan batik Parang Kencana, gaun malam rancangan Imelda Kartini, dan aksesoris dari Albert Yanuar. Lisya tampil angun dan mempesona dengan jilbab yang dikenakannya. Meski beda dari 32 finalis lainya malam itu, namun dara jelita ini tidak merasa canggung dan merasa percaya diri, meski namanya tak masuk dalam sepuluh besar.(c47)