Sabtu, 20 Desember 2014
Serambi Indonesia

Aceh Tengah Kekurangan Kuda Penjantan

Rabu, 19 Oktober 2011 10:50 WIB

Aceh Tengah Kekurangan Kuda Penjantan
Petermak Kuda Pacuan, Fadly (50) menggiring Lady Diana, kuda hasil perkawinan silang ras Australia dengan Gayo (Kuda Astaga) di Kampung Lot Kala, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Senin (17/10). Hingga kini, Kabupaten Aceh Tengah masih kekurangan kuda pejantan ras Australia. SERAMBI/JALIMIN
TAKENGON - Sebagian besar warga Kabupaten Aceh Tengah memelihara ternak kuda, namun sangat sedikit kuda penjantan, khususnya ras Australia.  Hingga kini, hanya seekkor kuda pejantan ras Australia yang dimiliki Pemkab Aceh Tengah untuk menghasilkan kuda-kuda unggul balapan di  daerah itu.

Seorang peternak kuda balapan di Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Fadly (50), Senin (17/10) mengatakan, jumlah peternak kuda balap (kuda pacu) di mencapai ratusan kepala keluarga (KK), namun sangat sedikit jumlah kuda pejantan yang dapat dikawinkan dengan kuda betina di daerah ini.

Dikatakan Fadly, untuk menghasilkan kuda balapan, kuda pejantan ras Australia dikawinkan (kawin silang) dengan kuda-kuda betina lokal Gayo. Dari hasil perkawinan itu, katanya, akan menghasilkan kuda Astaga (Astralia-Gayo) yang sering dijadikan kuda balapan karena lebih tinggi, berotot dan kuat berlari.

Kuda-kuda tersebut semakin baik dan unggul pada generasi ke-4 (G-4) antara perkawinan kuda pejantan Australia yang memiliki bentuk fisik yang besar dan tinggi dengan kuda lokal yang memilik fisik kecil dan pendek. Hasil perkawinan itu juga akan menghasilkan kuda yang tahan teradap penyakit, udara dingin dan mampu berlari kencang.

“Hanya seekor kuda pejantan ras Australia yang memenuhi syarat untuk dikawinkan dengan kuda-kuda lokal di daerah ini,” ujar Fadly. Dia meminta Pemkab Aceh Tengah untuk menambah kuda-kuda pejantan sehingga jumlah kuda pacu jenis Astaga (Australia-Gayo) semakin banyak.

Dilihat dari jumlah kuda lokal, katanya, paling kurang dibutuhkan lima ekor kuda Australia. Kuda Australia yang dibeli Pemkab Aceh Tengah, harus kuda tipe balapan, bukan kuda tipe lompatan. Kuda jenis lompatan digunakan untuk olahraga berkuda resmi Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi). “Disarankan, Pemkab Aceh Tengah membeli kuda jenis balapan, bukan kuda lompatan,” ujar Fadly.

Sementara, sebelum kemerdekaan, lomba pacuan kuda digelar di Pante Menye, Kecamatan Bintang, ujung timur Danau Laut Tawar sebagai pesta rakyat setelah panen padi di sawah. Setelah kemerdekaan RI, lomba pacuan kuda dipindahkan ke Lapangan Musara Alun Kota Takengon, dan pada tahun 2008 lalu, Lomba Pacuan Kuda dipindahkan lagi ke Lapangan Haji Muhammad Hasan Gayo, Kampung Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah yang terletak tujuh kilometer arah selatan Kota Takengon. Di Aceh Tengah, lomba pacuan kuda digelar dua kali setahun yakni setiap peringatan HUT RI dan HUT Kota Takengon pada Februari setiap tahun.(min)      
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas