Citizen Reporter
Beragam Gaya Mengemis di Italia
“Ho fame, aiutatemi” demikian terbaca pada selembar kertas yang digantung seorang lelaki muda di dadanya. Ia berdiri di tangga masuk stasiun Metro
“Ho fame, aiutatemi” demikian terbaca pada selembar kertas yang digantung seorang lelaki muda di dadanya. Ia berdiri di tangga masuk stasiun Metro (kereta api bawah tanah) Milan. Kalau kita artikan, kira-kira berbunyi: “Saya lapar, bantulah saya.”
Anak muda ini tampak lumayan gagah, mengenakan sepatu bagus, mengenakan sweater yang juga bersih, celana jin yang ia kenakan juga tak tampak lusuh. Namun, dia berdiri di sana memegang sebuah gelas plastik yang lusuh dan menyapa orang-orang lewat, “Boun giorno signore, aiutatemi!” (Selamat pagi tuan, bantulah saya).
Ia bukan anak muda satu-satunya yang melakukan itu. Di dalam metro ada seorang perempuan muda yang lumayan cantik, berwajah Italia menggendong seorang bayi. Saya melihatnya beberapa kali di dalam metro yang saya tumpangi setiap hari saat pergi dan pulang kuliah. Pakaiannya tampak selalu berganti dan bersih. Ia berjalan sepanjang lorong kereta sambil menengadahkan gelas plastiknya kepada penumpang yang duduk di sana, meminta uang.
Masih perempuan muda, ada juga yang duduk berlutut dan menundukkan kepala di depan sebuah toko. Ia mengenakan jaket lumayan tebal, jin ketat, dan sepatu bagus. Di dadanya tergantung sebuah karton dengan gambar seorang bayi yang dipenuhi infus yang tampaknya sedang dirawat di rumah sakit. Dari tulisan singkat di kertas itu terbaca kalau ia adalah anak yang dibuang oleh orang tuanya dan kini hidup menderita. Di depannya ada sebuah gelas plastik kecil. Ke situlah sebagian orang memasukkan uang koin euro.
Tentu saja yang mengemis bukan hanya anak muda dan perempuan cantik seperti itu. Banyak di antaranya adalah orang tua, difable, dan ibu-ibu dengan anaknya. Kebanyakan mereka berdiri di jalan yang banyak pejalan kaki dan turis. Misalnya, di sekitar Piazza Duomo di mana saban hari penuh dengan turis dari berbagai negara. Seperti seorang ibu dengan dua anaknnya di via Emanuelle II, jalan yang dipenuhi pertokoan fasion merek-merek terkenal. Si ibu dan dua anak perempuannya yang sudah remaja (mungkin berusia di atas sepuluh tahun) duduk di sana “menjaga” sebuah gelas plastik di depan mereka. Ketiganya berkulit putih, berpakaian hitam, mengenakan jilbab besar hingga sepinggang.
Namun meminta seperti itu bukan satu-satunya jenis mengemis di Milan. Ada cara pengemis lain yang bisa dibilang lebih “terhormat”, yaitu dengan mengenakan pakaian badut yang menggambarkan sosok tertentu, seperti Napoleon Bonaparte, Paus Bernitus, Fir’aun, dan lainnya. Si badut ini berdiri di jalan-jalan yang dipenuhi turis. Kalau ada orang lewat, ia mengajak orang itu berfoto bersama. Di depannya ada sebuah gelas plastik tempat memasukkan uang. Orang yang meminta berfoto bersama si badut dengan ikhlas memasukkan uang ke dalam gelas plastik itu sebagai tanda penghargaan dan terima kasih.
Cara lainnya adalah dengan memainkan alat musik tertentu seperti gitar, biola, atau saxophone yang suaranya sangat melengking. Ada juga yang khusus memainkan instrumen lagu-lagu klasik. Mereka menempatkan kotak tempat alat musik itu di depannya. Orang-orang yang menyukai musik itu bisanya berhenti menikmati alunannya, lalu memasukkan uang koin euro ke dalam kotak di depan pemain musik.
Memang, di Milan tidak ada pengemis yang membawa-bawa proposal, membawa celengan, membawa para difable keliling warung kopi, apalagi mengunjungi rumah-rumah. Namun, jenis dan model pengemis di sana semakin hari semakin banyak dan beragam. Banyak pengemis itu orang Italia asli, bukan imigran. Ketergantungan terhadap uang menjadikan orang melakukan apa saja yang bisa membuatnya yakin besok ia bisa bertahan hidup. Apalagi di sana dan di banyak kota besar, uang adalah jaminan yang hampir bisa memastikan hidup atau tidaknya seseorang esok hari. Hampir tidak mungkin seseorang bisa makan kalau ia tak punya uang sama sekali. Kecuali ia masuk dalam panti rehabilitasi sosial yang disedikan pemerintah.
Apakah ini terjadi akibat resesi ekonomi yang melanda Italia belakangan ini? Wallahu ‘alam. Bisa jadi ya, bisa juga tidak. Sebab, saya dengar di sebuah negeri yang jauh dari Italia, negerinya aman, ekonominya lancar, agamanya mulia, alamnya bagus, tanahnya subur, lautnya luas, namun pengemis juga banyak dan beragam modelnya. Atau ini terjadi karena pejabat dan politisi di negeri itu rakus dan serakah? Hom cit nyan!
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

