- Leica Klasik Menjadi Kamera Termahal di Dunia
- Drama Klimaks Liga Inggris
- Mental MU Sudah Teruji
- Sunderland vs Man United: Ambisi Setan Merah
- Tiga Faktor Ancam Langkah City untuk jadi Sang Juara…
- Untuk Bisa Menang City Minta Bantuan Dukun "Voodoo"
- MU Punya Cara Buat City Panik
- Hadapi City Bukan Hanya Melawan Uang
- Selangkah Menuju Sejarah
- City Akan Cetak Sejarah dalam 90 Menit
JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan broker properti mulai gemar berjualan lewat media online. Respons iklan yang datang di internet semakin banyak kendati angkanya belum mengalahkan iklan di media cetak.
Hartono Sarwono, Direktur Utama PT Mandiri Inti Realty melihat, tarif iklan printed media tinggi, namun unggul dalam keluasan jangkauan. Sementara media online berbiaya murah, tapi fokus ke segmen market tertentu. Selain itu, bisa ditayangkan dalam jangka waktu cukup panjang dan lebih panjang dari iklan media cetak.
"Makanya yang respons pun cukup banyak," ujar Hartono, Rabu (23/11/2011).
Ambil contoh di harian umum nasional, tarif per baris per milimeterkolom dikenakan biaya Rp 47.300. Sedangkan tarif di media lokal sekitar Rp 6 juta per halaman. Nah, tarif iklan di media online cukup murah, yaitu dengan harga rata-rata Rp 100.000 per bulan. Keuntungan lainnya, produk yang dipromosikan bisa banyak karena bisa diganti-ganti.
Nurul Yaqin, Direktur Ben Hokk Property mengakui, sekalipun memiliki daya jangkau luas, komunikasi media cetak hanya satu arah. Makanya, Ben Hokk memanfaatkan media cetak cuma untuk informasi. Beda halnya online yang komunikasi timbal balik.
"Hanya saja, kelemahan pengguna online device terbatas," kata Nurul.
Menurut Nurul, media online sangat pas untuk meluncurkan produk atau klaster baru. Dia meramalkan 50% pembeli properti berburu produk via online.
