Komikus Nasional Latih Mahasiswa Aceh
Kamis, 1 Desember 2011 10:00 WIB

Peserta mengambar komik pada Workshop Komik yang digelar Komunitas Komik Panyoet Aceh di Aplus Cafe, Batoh, Banda Aceh, Rabu (30/11). Workhop ini diikuti sebanyak 40 peserta dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Banda Aceh dengan pemateri komikus nasional Beng Rahadian. SERAMBI/SANIAH LS
* Pelatihan Digelar Komik Panyoet Aceh
BANDA ACEH - Komikus ternama asal Jakarta, Beng Rahadian, Rabu (20/11) kemarin, tampil sebagai pemateri dalam pelatihan pembuatan komik yang diikuti 40 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Aceh. Pelatihan itu digelar Komunitas Komik Panyoet Aceh, di Aplus Cafe, Banda Aceh.
Dalam pelatihan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, Beng Rahadian memberi penjelasan tentang proses pengerjaan komik kepada para peserta. Setelah itu, Beng meminta peserta mempraktikkan proses pembuatan komik di atas kertas berukuran kecil.
Peserta membuat komik dalam beberapa bagian. Komik yang dihasilkan memiliki alur cerita yang pendek. Setelah komik selesai dikerjakan, Beng Rahadian kembali mengoreksi komik karya anak-anak Aceh tersebut. Sehingga komik yang dihasilkan benar-benar memiliki karakter Aceh.
“Saya rasa anak-anak Aceh memiliki bakat dan berpotensi menjadi komikus. Cuma saya lihat masih banyak yang malu-malu dan kurang percaya diri. Saran saya kalau bisa setiap sebulan sekali paling tidak kegiatan seperti ini terus dilakukan. Sehingga termotivasi dan memiliki rasa percaya diri membuat komik,” kata Beng Rahadian.(c47)
BANDA ACEH - Komikus ternama asal Jakarta, Beng Rahadian, Rabu (20/11) kemarin, tampil sebagai pemateri dalam pelatihan pembuatan komik yang diikuti 40 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Aceh. Pelatihan itu digelar Komunitas Komik Panyoet Aceh, di Aplus Cafe, Banda Aceh.
Dalam pelatihan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, Beng Rahadian memberi penjelasan tentang proses pengerjaan komik kepada para peserta. Setelah itu, Beng meminta peserta mempraktikkan proses pembuatan komik di atas kertas berukuran kecil.
Peserta membuat komik dalam beberapa bagian. Komik yang dihasilkan memiliki alur cerita yang pendek. Setelah komik selesai dikerjakan, Beng Rahadian kembali mengoreksi komik karya anak-anak Aceh tersebut. Sehingga komik yang dihasilkan benar-benar memiliki karakter Aceh.
“Saya rasa anak-anak Aceh memiliki bakat dan berpotensi menjadi komikus. Cuma saya lihat masih banyak yang malu-malu dan kurang percaya diri. Saran saya kalau bisa setiap sebulan sekali paling tidak kegiatan seperti ini terus dilakukan. Sehingga termotivasi dan memiliki rasa percaya diri membuat komik,” kata Beng Rahadian.(c47)
Editor : bakri
