• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Sindikat “Trafficking”Sudah Lama di Aceh

Jumat, 9 Desember 2011 10:15 WIB
Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Ka BPP dan PP) Aceh, Raihan Putry Ali Muhammad, meminta orangtua mengawasi anaknya agar terhindari dari aksi human trafficking (perdagangan manusia) yang sudah mulai terjadi dan terkoordinir secara rapi di Aceh. “Ada kasus trafficking yang paling miris dilakukan oknum mahasiswa. Saya bertemu langsung dengan tersangka di penjara. Mahasiswa itu mengaku jaringan ini sudah tersusun rapi dan ada di Aceh. Jadi, saatnya orangtua waspada dan mengontrol anaknya,” kata Raihan.

Diungkapkan, modus perdagangan manusia yang terjadi di Banda Aceh saat ini antara lain menawarkan keperawananya kepada jaringan trafficking. Tujuannya mendapat uang yang banyak. Ini terjadi beberapa waktu lalu. Kasus ini sudah ditangani pihak kepolisian, setelah orangtuanya melaporkan kejadian itu ke polisi. Pelakunya juga sudah ditangkap.

Untuk memutuskan mata rantai perdagangan manusia di Aceh dan Banda Aceh khususnya, BPP dan PA Aceh akan bekerja sama dengan pihak kepolisian dan kejaksaan untuk program 2012. BPP dan PA juga memperkuat instansinya di kabupaten/kota.

Itulah salah satu fenomena mengerikan yang sedang terjadi di Aceh. Trafficking adalah perekrutan, pemindahan, penampungan, pengiriman, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan. Yakni penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi maupun menerima bayaran atau manfaat sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik dilakukan di dalam negara maupun antarnegara untuk tujuan dieksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Itulah antara lain yang ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan manusia.  

Kasus perdagangan manusia yang paling sering terungkap adalah bekerja tanpa dibayar dan eksploitasi seksual. Biasanya anak atau perempuan dijanjikan pekerjaan tertentu, tetapi akhirnya mereka malah dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial. Penculikan anak melalui situs jejaring sosial yang terjadi akhir-akhir ini juga bisa memicu perdagangan anak.

Bagi Aceh, isu ini mestinya mendapat perhatian serius bukan cuma oleh pemerintah, tapi juga semua elemen masyarakat. Tidak sekadar mewaspadai, namun perlu pula disosialisasikan cara-cara mencegah perdagangan manusia.

Kalangan aktivis antitrafficking antara lain menganjurkan penyuluhan dan sosialisasi masalah kepada masyarakat. Dengan sosialisasi secara terus-menerus, masyarakat akan mengetahui bahaya fenomena itu. Sasaran penyuluhan paling penting adalah masyarakat kelas bawah. Sebab, perdagangan manusia banyak terjadi pada masyarakat dengan kelas pendidikan dan ekonomi yang rendah.
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas