Juara Olimpiade Astronomi Bercita-cita Jadi Wartawan
Sabtu, 10 Desember 2011 08:59 WIB

Foto Ziana Lionika, siswi SMA Negeri 2 Tapaktuan, peraih juara Olimpiade Saints pelajaran Astronomi.SERAMBI/AZHARI
KETIKA pertama sekali menduduki bangku sekolah lanjutan atas, Ziana Lionica, memang bercita-cita menajdi dokter. Namun karena pertibangan biaya kuliah yang terlalu besar, kini siswi SMA Negeri 2 Tapaktuan, Aceh Selatan, yang pernah menjadi duta Olimpiade Saint Pelajaran Astronomi tingkat Provinsi Aceh itu, beralih bercita-cita jadi seorang jurnalis.
Hal itu diungkapkannya kepada Serambi di sekolahnya yang berlokasi Desa Lhok Ketapang, Kecamatan Tapaktuan, Jumat (2/12). Anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Afrizal-Sri Utami itu, mengakui sejak kecil ia senang bermain dokter-dokteran dengan teman sebayanya. Tidak hanya sampai di situ, hobinya itu masih terbawa-bawa hingga saat ia duduk di bangku sekolah dasar.
Tampaknya bakat jadi seorang dokter itu semakin terlihat dari prestasi yang diraihnya di awal-awal menduduki bangku sekolah SMAN 2 Tapaktuan. Yakni berhasil meraih juara Olimpiade Sanit Pelajaran Astronomi berturut dua kali tingkat kabupaten, sekaligus menjadi duta mewakili Aceh Selatan tingkat provinsi.
Tapi, Ziana yang mampu bercakap bahasa Inggris itu mengatakan, cita-cita jadi dokter itu sudah dikuburnya dalam-dalam. Karena dirinya menyadari tidak mungkin seorang dari keluarga kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan sekolah kedokteran yang serba mahal. “Mana mungkin saya bisa melanjutkan pendidikan sekolah kedokteran. Untuk beli buku paket saja sering cicilan,” katanya.
Karena menyadari profesi orang tuanya yang hanya sebagai sopir angkot yang hanya mampu menutupi biaya rumah tangga dalam sehari, maka Ziana yang luput dari beasiswa khusus murid miskin itu terpaksa mengalihkan cita-citanya jadi seorang jurnalistik.
Untuk mengasah keterampilan sebagai jurnalis, kini Ziana mulai rajin menulis cerita pendek (cerpen). Bahkan selama dua tahun ini, siswi klas III IPA1 yang lahir tahun 1994 itu telah berhasil menulis 20 buah cerpen. Cerpen-cerpen itu sudah dibukukannya, tapi sudah hilang dipinjam kawan. Kini cerpen yang masih tersimpan, yakni cerpen yang berjudul. “Sehelai Rambut yang Berharga”.
Cerpen dua halaman folio itu mengisahkan tentang cinta yang tidak tercapai. Mudah-mudahan cita-cita Ziana Lionika jadi seorang jurnalistik akan terwujud.(azhari syamsuddin)
Hal itu diungkapkannya kepada Serambi di sekolahnya yang berlokasi Desa Lhok Ketapang, Kecamatan Tapaktuan, Jumat (2/12). Anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Afrizal-Sri Utami itu, mengakui sejak kecil ia senang bermain dokter-dokteran dengan teman sebayanya. Tidak hanya sampai di situ, hobinya itu masih terbawa-bawa hingga saat ia duduk di bangku sekolah dasar.
Tampaknya bakat jadi seorang dokter itu semakin terlihat dari prestasi yang diraihnya di awal-awal menduduki bangku sekolah SMAN 2 Tapaktuan. Yakni berhasil meraih juara Olimpiade Sanit Pelajaran Astronomi berturut dua kali tingkat kabupaten, sekaligus menjadi duta mewakili Aceh Selatan tingkat provinsi.
Tapi, Ziana yang mampu bercakap bahasa Inggris itu mengatakan, cita-cita jadi dokter itu sudah dikuburnya dalam-dalam. Karena dirinya menyadari tidak mungkin seorang dari keluarga kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan sekolah kedokteran yang serba mahal. “Mana mungkin saya bisa melanjutkan pendidikan sekolah kedokteran. Untuk beli buku paket saja sering cicilan,” katanya.
Karena menyadari profesi orang tuanya yang hanya sebagai sopir angkot yang hanya mampu menutupi biaya rumah tangga dalam sehari, maka Ziana yang luput dari beasiswa khusus murid miskin itu terpaksa mengalihkan cita-citanya jadi seorang jurnalistik.
Untuk mengasah keterampilan sebagai jurnalis, kini Ziana mulai rajin menulis cerita pendek (cerpen). Bahkan selama dua tahun ini, siswi klas III IPA1 yang lahir tahun 1994 itu telah berhasil menulis 20 buah cerpen. Cerpen-cerpen itu sudah dibukukannya, tapi sudah hilang dipinjam kawan. Kini cerpen yang masih tersimpan, yakni cerpen yang berjudul. “Sehelai Rambut yang Berharga”.
Cerpen dua halaman folio itu mengisahkan tentang cinta yang tidak tercapai. Mudah-mudahan cita-cita Ziana Lionika jadi seorang jurnalistik akan terwujud.(azhari syamsuddin)
Editor : bakri
