Selasa, 9 Juni 2026

Yang Penting Halal dan tidak Mengemis

AISYAH, perempuan berusia sekitar 45 tahun itu terlihat tegar berdiri di dekat tiang lampu pengatur lalulintas (traffic light) Simpang Surabaya

Tayang:
Editor: bakri
AISYAH, perempuan berusia sekitar 45 tahun itu terlihat tegar berdiri di dekat tiang lampu pengatur lalulintas (traffic light) Simpang Surabaya. Di tangannya ada setumpukan koran yang tersusun rapi. Saat lampu merah menyala, ia turun ke jalan menghampiri kendaraan-kendaraan yang behenti sejenak, sambil menawarkan dagangannya.

Ya, itulah Aisyah, wanita kelahiran Alue Majrun, Kabupaten Aceh Utara, yang rela menjadi penjual koran demi membantu suaminya, Hasan (62), dalam menafkahi anak-anak mereka.

Meski pekerjaan itu jarang digeluti kaum hawa, apalagi seusianya, tapi Aisyah sangat menikmati pekerjaannya itu. Walau terik membakar kulit, bukan alasan baginya untuk tidak bekerja.

Wanita bertubuh mungil dan mulai terlihat kerutan di wajahnya itu, mengaku lebih baik kerja di bawah terik matahari agar dapat menafkahi anak-anaknya, dari pada harus menjadi seorang peminta-minta atau pengemis. Aisyah mengaku malu menjadi pengemis, apalagi kondisi fisiknya masih cukup bugar.

“Lebih baik jual koran, dari pada menjadi pengemis. Walaupun untungnya sedikit, tapi saya bersama suami dan anak-anak merasa senang,” ungkapnya saat ditemui Serambi, dua hari lalu.

Aisyah tak mau menyerah pada nasib. Apapun pekerjaan akan dilakukan, yang penting halal. Dua bulan lalu, Aisyah dan suaminya memutuskan hijrah ke Banda Aceh, dengan mengontrak rumah di Jalan Gelatik, Nomor 10, Simpang Surabaya, Banda Aceh. Sebelum berjualan koran, Aisyah membantu suaminya mencari nafkah sebagai buruh cuci.

Namun, karena tidak semua orang menggunakan jasanya, sehingga waktunya banyak dihabiskan di rumah. “Saya pikir dari pada di rumah, apa salahnya saya kerja bantu suami jualan koran. Dan ini sudah dua bulan saya jual koran Serambi dan Prohaba. Sepulang dari sini, kalau ada, saya baru mencuci baju orang,” ucapnya.

Awalnya, menjadi loper koran bagi Aisyah, memang terasa canggung. Karena di kampung ia hanya pergi ke sawah dan jarang bekerja yang behubungan dengan banyak orang. Tapi, demi suami dan anak-anaknya, ia pun terpanggil untuk membantu suaminya berjualan koran di jalan. “Satu lembar Serambi saya dapat 850 rupiah, kalau Prohaba 300 rupiah,” ujar Aisyah.

Aisyah hanya berharap ia selalu diberi kesehatan agar mampu terus membantu suaminya, memenuhi kebutuhan hidup mereka dan anak-anaknya.(misran asri)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved