Opini

Membangun Pariwisata Sabang

MENARIK membaca Harian Serambi Indonesia (16/12/2011) dengan judul Tahun Depan Sabang Targetkan 200 Ribu Wisatawan

Oleh Fauzi Umar

MENARIK membaca Harian Serambi Indonesia (16/12/2011) dengan judul Tahun Depan Sabang Targetkan 200 Ribu Wisatawan. Pernyataan itu disampaikan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Firmansyah Rahim pada saat penandatangan MoU antara Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Prof. Jasman J. Makruf, Walikota Sabang Munawar Liza Zainal dan 12 pelaku usaha wisata dan Peluncuran Program Destination Management Organization (DMO) Sabang yang dilakukan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf di Banda Aceh.

Peluncuran Program DMO Sabang ini sangat penting dan strategis,  mengingat sektor pariwisata akan menjadi program prioritas pembangunan kawasan Sabang pasca-pelaksanaan Workshop Sinkronisasi Percepatan Pengembangan Kawasan Sabang 1-2 November 2011 lalu yang langsung dihadiri Dirjen Pengembangan Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Firmansyah Rahim. Sektor ini diharapkan dapat menstimulus dan memberikan efek ganda (multiflier effect) bagi sektor-sektor lain di masa akan datang.

Peluncuran Program DMO Sabang ini penting dan stategis karena pada tahun 2012 ada sejumlah agenda dan event besar yang akan dilaksanakan di Sabang seperti Sabang Internasional Regatta, Sabang Internasional Jazz, dan lain-lain.  Pada tahun 2012 juga Sabang akan disinggahi 5 kapal pesiar (cruise), yang tahun sebelumnya tidak ada atau hanya 1 kapal pesiar. Rata-rata kapal pesiar ini memiliki 300-800 orang penumpang dan membelanjakan lebih 5000 U$ dolar. Memang kunjungan kapal pesiar ke destinasi Sabang masih sangat rendah dibandingkan dengan destinasi Penang yang dikunjungi lebih dari 22 kapal pesiar, destinasi Phuket lebih dari 12 kapal pesiar yang menawarkan banyak paket kepada wisatawan.     

Namun dengan letak posisi geografis Sabang yang sangat strategis di antara destinasi wisata lainnya dan keindahan alam dan budaya yang dimiliki dan dikemas dengan baik dan menarik, Sabang pasti bisa menarik lebih banyak wisatawan dan kapal pesiar yang berkunjung ke sana di masa akan datang. Semakin banyak kunjungan kapal pesiar dan semakin lama mereka singgah di Sabang, maka semakin besar pengaruhnya terhadap ekonomi masyarakat setempat dan Aceh pada umumnya.

Dilihat secara makro perkembangan sektor pariwisata Indonesia dewasa ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia dan Thailand. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Malaysia setiap tahun mencapai 26 juta orang, Thailand 13 juta orang dan Indonesia baru 7 juta orang, padahal potensi dan keindahan alam dan budaya kedua negara tersebut tidak lebih baik dari Indonesia, termasuk keindahan dan panorama Sabang. Hanya saja potensi ini belum dikemas dan ditata dengan baik sehingga menjadi keunggulan di masa depan.

Sebenarnya kunci keberhasilan pembangunan industri pariwisata di manapun terletak pada dua hal. Pertama, bagaimana membuat wisatawan yang telah datang akan kembali datang lagi. Wisatawan yang merasa puas akan kembali datang dan mereka ini juga membawa keuntungan lain, karena mereka merupakan ambassador dengan cara menyebarkan word of mouth untuk mengajak teman, saudara, kolega atau familinya untuk datang lagi ke Sabang. Kedua, bagaimana cara melakukan promosi. Sebaik apa pun produk pariwisata yang dimiliki, bila tidak ada yang tahu maka akan sia-sia. Oleh sebab perlu promosi kepada audien yang ditargetkan mutlak harus dilakukan.

Menurut hasil penelitian The Aceh Institute (Chaniago dan Sartiyah 2008) secara umum menyimpulkan  Kondisi Pariwisata Sabang, pertama masih dalam tahap bayi (infant). Walaupun Aceh menurut sejarah adalah daerah yang pertama mempunyai titik kontak dengan Arab, Cina, dan pedagang Eropa, termasuk Marcopolo, namun dalam tahun-tahun sebelum tsunami, Aceh merupakan provinsi yang paling sedikit dikunjungi oleh turis asing.  

Bagi industri pariwisata, fakta infancy pariwisata Aceh merupakan momentum luar biasa. Karena masih bayi, maka industri pariwisata Aceh dapat dibentuk dan diarahkan dengan benar, tentunya berpegang pada preferensi konsumen, dalam hal ini turis yang pernah datang ke Aceh. Aceh dapat mengambil pengalaman daerah-daerah destinasi pariwisata yang dibangun tanpa konsep yang jelas, walaupun awalnya merupakan projek ambisius, namun bisa saja berakhir pada kegagalan. Namun sebaliknya, dengan konsep pengembangan yang jelas, dan dirinci sampai pada tahap operasional dan stagesnya, maka akan menuai sukses, seperti apa yang telah ditunjukkan oleh sebuah negara kecil di tengah Lautan Hindia, Maldives atau Maladewa.

Kedua, SDM yang mengelola institusi pariwisata di Sabang pada umumnya masih perlu upgrade. Peningkatan kapasitas ini meliputi proses mendata situs pariwisata; memproduksi berbagai materi promosi pariwisata yang dapat menarik wisatawan dan mendistribusikannya pada tempat dan waktu yang tepat; mendesain dan mengikuti berbagai acara pameran dan trade show untuk memperkenalkan dan mengajak calon wisatawan datang ke Sabang dan mencari tambahan dana yang bersifat off budget (non APBD) agar program-program yang dijalankan tidak terkendala dana

Revitalisasi kawasan Sabang
Kawasan Sabang saat ini harus ditata kembali sesuai dengan peruntukan dan tata ruangnya (RTRW), sehingga Kawasan Sabang menjadi kota yang indah, hijau, berbunga, tertib, teratur dan nyaman (kota dalam taman) dengan warganya ramah dan bergaul dengan semua etnis dan bangsa. Kawasan Sabang juga harus ditata menurut zonasi dan clusternya seperti kawasan pelabuhan dan bandar udara, kawasan industri dan perdagangan, kawasan wisata, kawasan perikanan pusat dan kawasan pergudangan.

Kawasan Sabang harus dibangun secara terpadu dan terintegrasi semua sektor dengan berbagai kepentingan, dimulai dari pintu masuk utama Kawasan Sabang. Penataan sistem transportasi dan pelayanan jasa kepelabuhanan yang memberikan kenyamanan bagi semua orang.    Demikian juga halnya dengan Kawasan Wisata Bahari harus benar-benar dibangun menjadi pusat wisata bahari terbaik dan koneksitas dengan  negara tetangga seperti Malaysis (Langkawi, Penang) dan Thailand (Phuket). Potensi wisata ini harus dipadukan dengan potensi wisata alam lainnya serta bisa dikoneksikan dengan wisata sejarah dan budaya Aceh lainnya khususnya Banda Aceh dan Aceh Besar.   

Kawasan Sabang Fair harus dapat dihidupkan kembali dan dijadikan etalase promosi produk-produk Aceh daratan dari beberapa kabupaten/kota dan Indonesia lainnya untuk tujuan ekspor. Sabang Fair juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai aktivitas dan interaksi sosial dengan berbagai fasilitas yang tersedia fasilitas rekreasi, arena bermain anak-anak, ruang terbuka hijau, pembibitan tanaman (nursery), fasilitas olahraga dan hiburan lainnya.

Ini semua merupakan peluang yang harus direbut dengan kerja keras dan keseriusan semua pihak, sehingga Kawasan Sabang bisa kembali membawa pengaruh ke Aceh daratan dan Indonesia lainnya. Sudah saatnya kita saling berkarya bahu membahu untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut dan kembali bisa mengharumkan nama Kawasan Sabang di pentas nasional dan internasional.

* Penulis Ketua Rumoh Aceh Internasional dan staf pada BPKS Sabang. 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help