• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Punkers Ceria di SPN Seulawah

Rabu, 21 Desember 2011 10:23 WIB
Punkers Ceria di SPN Seulawah - 21122011foto_19.jpg
Kapolda Aceh Irjen Pol Iskandar Hasan (kanan) bernyanyi bersama anak punk seusai apel di Lapangan Kompleks Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, Selasa (20/12). Pembinaan secara mental dan spiritual 60 punker asal Aceh, Sumatera Utara, dan Pulau Jawa tersebut akan berakhir pada Jumat (23/12) mendatang. SERAMBI/M ANSHAR
Punkers Ceria di SPN Seulawah - 21122011foto_20.jpg
Anak punk berseragam dinas lapangan mengangkat tangan sebagai refleksi kegembiraan seusai apel di Lapangan Kompleks Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, Selasa (20/12). Foto kanan atas, Kapolda Aceh, Irjen Pol Iskandar Hasan nyanyi bareng anak punk sedangkan foto bawah punker wanita sempat menangis saat menyanyikan lagu "Rindu Mama".SERAMBI/M ANSHAR
Punkers Ceria di SPN Seulawah - 21122011foto_21.jpg
Punker perempuan menangis saat menyanyikan lagu "Rindu Mama" seusai apel di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, Selasa (20/12). Pembinaan secara mental dan spiritual 60 punker asal Aceh, Sumatera Utara, dan Pulau Jawa tersebut akan berakhir pada Jumat (23/12) mendatang. SERAMBI/M ANSHAR
SEBANYAK 65 punkers (anak punk) yang sedang dibina di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Aceh Besar, tak mampu menyembunyikan keceriaan saat Kapolda Aceh, Irjen Pol Iskandar Hasan berbaur bersama mereka, bahkan diajak nyanyi bareng.

Suasana itu terekam Selasa (20/12) ketika Kapolda melihat langsung perkembangan pembinaan anak punk yang beberapa hari lalu ditertibkan oleh Pemko Banda Aceh dan selanjutnya diserahkan pembinaannya ke pihak kepolisian. Keceriaan bukan hanya memancar dari wajah anak punk yang kini berbungkus pakaian seragam dan berambut cepak. Bahkan istri Kapolda Aceh bersama petinggi Polri dan siswa SPN Seulawah ikut larut dalam suasana langka itu.

“Banyak hal yang selama ini kami tinggalkan, seperti shalat lima waktu, makan teratur, dan kebersihan diri. Semua itu kami dapatkan kembali di sini,” kata Andri, seorang anak punk dari Lhong Raya, Kota Banda Aceh, kepada Serambi.

Pengakuan juga diutarakan Ayi, remaja asal Medan. Ayi membantah bila ada pernyataan pihak yang menyebutkan mereka diperlakukan keras di SPN. Menurutnya mereka dibina secara sangat manusiawi. “Jangankan dipukul, dicubit saja tidak,” ungkap Ayi. “Pembina kami sudah seperti kakak dan abang,” lanjut Ayi.

Dengan wajah haru, Ayi menuturkan, sekembali dari SPN Seulawah nantinya, dia ingin menemui ayah dan ibu. “Saya sangat kangen dengan mereka,” ujar Ayi.

Salah seorang dari enam punkers wanita, Oja asal Langsa juga bertekad bisa kembali ke kehidupan normal setelah proses pembinaan di SPN Seulawah. “Saya mau sekolah lagi,” katanya.

Melihat realita di lapangan, Kapolda Aceh mengatakan sangat bertolak belakang dengan apa yang diisukan selama ini. “Silakan rekan-rekan media melihat dan menanyakan langsung pendapat mereka selama menjalani pembinaan di sini,” kata Kapolda Aceh kepada awak media yang menyertainya ke SPN Seulawah.

Pantauan Serambi, 65 punkers yang berada di sudut kanan dari arah depan itu memakai seragam mirip yang dikenakan polisi dan 107 personel yang mengikuti upacara penututpan pendidikan alih golongan dari Brigadir ke Inspektur Dua (Ipda). Bahkan, bila tidak diperhatikan dengan seksama, sulit dibedakan mana punkers dan mana personel polisi. Hal yang membedakan hanya simbol dan kepangkatan, dan juga tato yang masih menempel di bagian-bagian tertentu tubuh sang punkers.(mir)
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
44899 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas