Selasa, 4 Agustus 2015

Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku

Jumat, 23 Desember 2011 17:16

Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar2.jpg
Rumahku setelah Tsunami
Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar1.jpg
Rumahku Sebelum Tsunami
Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar3.jpg
Keluarga yang meninggal saat tsunami
Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar4.jpg
YUNA PUTRI BERKAH binti YUSWAR YUNUS, ia selamat dari tsunami
Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar35jpg.jpg
Muhammad Yuzan Wardhana, ia selamat dari tsunami

Istriku sudah sejak tanggal 1 Agustus 2004 pulang ke Banda Aceh hanya untuk menyiapkan pesta perkawinan tersebut. Kepulangannya ke Aceh, sekaligus juga sambil mengantar Yudid Putri Zandy anakku yang melahirkan di Bandung. Pada tanggal 1 Agustus 2004 tersebut, aku ikut mengantar istriku, Meutia, Yudid dan cucuku Defa ke Cengkareng dari Bandung. Kami naik kereta api Parahyangan ke Jakarta dan menginap satu malam di hotel. Besok paginya kami terus ke Cengkareng dan di counter Garuda aku bertemu dengan bang Basri Emka (mantan pejabat bupati Aceh Jaya). Aku, Meutia, Yudid dan Defa terus menelusuri jalan menuju ke gang diluar ruang tunggu bandara (sesuai aturan aku hanya melangkah sampai ke batas itu).

Karena waktu berangkat masih lama, maka aku pun senang dengan menggendong cucuku sambil duduk dan jalan-jalan  di ruangan tersebut. Saatnya tiba, mereka masuk ke ruang tunggu dan akupun mohon diri untuk kembali ke Bandung.

Pada tanggal 17 Desember 2004, yaitu setelah pesta perkawinan anakku Yuki, istriku minta persetujuanku untuk membeli mahar kepada putraku satu-satunya Muhammad Yuzan Wardhana yang kembali ke Bandung pada tanggal 12 Desember 2004 sehari setelah pesta perkawinan adiknya Yuki. Aku menanyakan kepada istriku, untuk apa mahar ke Yuzan, ia baru berumur 22 tahun, nanti pada tanggal 10 Januari 2005 ia baru berusia 23 tahun. Jawaban isteriku ketika itu, hanya untuk kepuasan bathin saja, karena Yuzan anak tertua dan anak laki-laki kami satu-satunya. Ajakan istriku tersebut untuk membeli mahar kepada Yuzan, kurasakan wajar-wajar saja dan sedikitpun tidak terpikirkan firasat apa pun untuk kupikirkan ketika itu.

Dalam benakku ya biasa-biasa saja, karena namanya si ibu bisa saja membuat persiapan sebelumnya. Yuzan anakku waktu itu memang ia punya pacar, awak Aceh juga yang waktu itu sedang kuliah di Jakarta.
Maka, aku pun mengikuti saja kemauan istriku untuk membeli mahar untuk Yuzan anakku. Kami membawa uang kontan Rp10 juta ke Pasar Aceh. Istriku membeli gelang seberat 16 mayam dan kalung (berapa mayam aku tidak ingat lagi) dan akhirnya hanya bersisa uang Rp125.000,-  (mahar tersebut setelah tsunami aku temukan kembali dalam pasir tsunami di dalam kamar tidur rumahku, namun kotak mas dan berlian istriku tidak kutemukan lagi, hilang karena musibah tersebut).

Sebelum aku membeli tiket pesawat untuk kembali ke Bandung, aku ajak istriku untuk sama-sama berangkat dan kuajak anakku Yuki dan suaminya juga ke Bandung. Jawaban istriku, pada Minggu tanggal 26 Desember 2004 nanti pesta anak pak Rektor (Prof. Dr. Ir. Abdi A. Wahab, M.Sc), karena waktu pesta Yuki dimana Pak Rektor dan ibu ikut menghadirinya. Bu Rektor pesan ke isteriku, jangan lupa Meutia datang ke pesta perkawinan anaknya, alasan beliau, waktu pesta anaknya yang pertama dahulu kami tidak datang, mungkin kami sedang di Bandung.

Aku dan istriku serta Yuki sepakat, untuk membeli tiket ke Bandung, mereka minta tanggal 30 Desember 2004. Yuki dan suaminya, aku minta ke Bandung agar mereka bisa berbulan madu, ia minta berangkat tanggal 30 Desember 2004, alasannya mau bertahun baru di Jakarta. Maka aku membeli tiket untuk istriku, Yuki dan Raifal untuk tanggal tersebut, sedangkan aku untuk berangkat tanggal 20 Desember 2004, yaitu enam hari sebelum musibah tsunami datang menjemput keluargaku.  

Tepat pada hari itu, mungkin Bandara Sultan Iskandar Muda – Banda Aceh menjadi saksi bisu, bahwa inilah perpisahanku terakhir dengan istri, anakku Yuki dan dua menantuku Elfan dan Raifal, mereka ikut mengantarkanku ke bandara. Tepatnya Senin tanggal 20 Desember 2004. Semenjak dari rumah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara ada satu perasaaan lain yang kualami, mungkin itu namanya firasat.

KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas