Sabtu, 20 Desember 2014
Serambi Indonesia

Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku

Jumat, 23 Desember 2011 17:16 WIB

Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar2.jpg
Rumahku setelah Tsunami
Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar1.jpg
Rumahku Sebelum Tsunami
Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar3.jpg
Keluarga yang meninggal saat tsunami
Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar4.jpg
YUNA PUTRI BERKAH binti YUSWAR YUNUS, ia selamat dari tsunami
Ciuman Terakhir dengan Istri dan Anakku - yuswar35jpg.jpg
Muhammad Yuzan Wardhana, ia selamat dari tsunami

AKU yang sedang menuntut ilmu di Universitas Padjajaran Bandung sebagai dosen dengan status tugas belajar, pulang ke Banda Aceh pada tanggal 7 Desember 2004 untuk menikahkan anakku Yuki Putri Natuah bersama Teuku Raifal Kesuma Talsya pada tanggal 11 Desember 2004 sekaligus untuk pesta perkawinannya.

Istriku sudah sejak tanggal 1 Agustus 2004 pulang ke Banda Aceh hanya untuk menyiapkan pesta perkawinan tersebut. Kepulangannya ke Aceh, sekaligus juga sambil mengantar Yudid Putri Zandy anakku yang melahirkan di Bandung. Pada tanggal 1 Agustus 2004 tersebut, aku ikut mengantar istriku, Meutia, Yudid dan cucuku Defa ke Cengkareng dari Bandung. Kami naik kereta api Parahyangan ke Jakarta dan menginap satu malam di hotel. Besok paginya kami terus ke Cengkareng dan di counter Garuda aku bertemu dengan bang Basri Emka (mantan pejabat bupati Aceh Jaya). Aku, Meutia, Yudid dan Defa terus menelusuri jalan menuju ke gang diluar ruang tunggu bandara (sesuai aturan aku hanya melangkah sampai ke batas itu).

Karena waktu berangkat masih lama, maka aku pun senang dengan menggendong cucuku sambil duduk dan jalan-jalan  di ruangan tersebut. Saatnya tiba, mereka masuk ke ruang tunggu dan akupun mohon diri untuk kembali ke Bandung.

Pada tanggal 17 Desember 2004, yaitu setelah pesta perkawinan anakku Yuki, istriku minta persetujuanku untuk membeli mahar kepada putraku satu-satunya Muhammad Yuzan Wardhana yang kembali ke Bandung pada tanggal 12 Desember 2004 sehari setelah pesta perkawinan adiknya Yuki. Aku menanyakan kepada istriku, untuk apa mahar ke Yuzan, ia baru berumur 22 tahun, nanti pada tanggal 10 Januari 2005 ia baru berusia 23 tahun. Jawaban isteriku ketika itu, hanya untuk kepuasan bathin saja, karena Yuzan anak tertua dan anak laki-laki kami satu-satunya. Ajakan istriku tersebut untuk membeli mahar kepada Yuzan, kurasakan wajar-wajar saja dan sedikitpun tidak terpikirkan firasat apa pun untuk kupikirkan ketika itu.

Dalam benakku ya biasa-biasa saja, karena namanya si ibu bisa saja membuat persiapan sebelumnya. Yuzan anakku waktu itu memang ia punya pacar, awak Aceh juga yang waktu itu sedang kuliah di Jakarta.
Maka, aku pun mengikuti saja kemauan istriku untuk membeli mahar untuk Yuzan anakku. Kami membawa uang kontan Rp10 juta ke Pasar Aceh. Istriku membeli gelang seberat 16 mayam dan kalung (berapa mayam aku tidak ingat lagi) dan akhirnya hanya bersisa uang Rp125.000,-  (mahar tersebut setelah tsunami aku temukan kembali dalam pasir tsunami di dalam kamar tidur rumahku, namun kotak mas dan berlian istriku tidak kutemukan lagi, hilang karena musibah tersebut).

Sebelum aku membeli tiket pesawat untuk kembali ke Bandung, aku ajak istriku untuk sama-sama berangkat dan kuajak anakku Yuki dan suaminya juga ke Bandung. Jawaban istriku, pada Minggu tanggal 26 Desember 2004 nanti pesta anak pak Rektor (Prof. Dr. Ir. Abdi A. Wahab, M.Sc), karena waktu pesta Yuki dimana Pak Rektor dan ibu ikut menghadirinya. Bu Rektor pesan ke isteriku, jangan lupa Meutia datang ke pesta perkawinan anaknya, alasan beliau, waktu pesta anaknya yang pertama dahulu kami tidak datang, mungkin kami sedang di Bandung.

Aku dan istriku serta Yuki sepakat, untuk membeli tiket ke Bandung, mereka minta tanggal 30 Desember 2004. Yuki dan suaminya, aku minta ke Bandung agar mereka bisa berbulan madu, ia minta berangkat tanggal 30 Desember 2004, alasannya mau bertahun baru di Jakarta. Maka aku membeli tiket untuk istriku, Yuki dan Raifal untuk tanggal tersebut, sedangkan aku untuk berangkat tanggal 20 Desember 2004, yaitu enam hari sebelum musibah tsunami datang menjemput keluargaku.  

Tepat pada hari itu, mungkin Bandara Sultan Iskandar Muda – Banda Aceh menjadi saksi bisu, bahwa inilah perpisahanku terakhir dengan istri, anakku Yuki dan dua menantuku Elfan dan Raifal, mereka ikut mengantarkanku ke bandara. Tepatnya Senin tanggal 20 Desember 2004. Semenjak dari rumah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara ada satu perasaaan lain yang kualami, mungkin itu namanya firasat.

Namun perasaan tersebut saat itu tidak mampu kuungkapkan kepada istriku dan anak-anakku di bandara, karena yang kurasakan denyut bathin bahwa sebentar lagi aku mau menaiki pesawat dan saat itu aku akan berpisah dengan mereka, karena dalam benakku pesawat yang kutumpangi akan jatuh dan aku meninggal dunia. Biasanya setiap naik pesawat perasaan demikian tidak pernah berdenyut.

Di bandara kami minum-minum di kantin, di mana saat itu kami duduk satu meja sambil bercerita dengan bang Hasballah M.Saat (mantan menteri HAM), Pak Mahyuddin Hasyim (alm) bersama istri beliau (mantan bupati Pidie, saat itu beliau mau ke Medan karena ada keluarga beliau yang mendapat kecelakaan), duduk juga Meutia istriku, anakku Yuki dan Suaminya Teuku Raifal dan menantuku Elfan suami Yudid.

Tiba waktunya untuk berangkat, naluriku seakan-akan aku sebentar lagi akan meninggal dunia karena perasaanku, bahwa pesawat yang kutumpangi tersebut bakal jatuh saat mengudara, kembali mengganggu pikiranku.

Lalu, di microfon bandara mulai diumumkan bahwa sudah saatnya para penumpang bersiap-siap untuk berangkat. Begitu mau menuju ke tangga pesawat (waktu itu para penumpang berjalan kaki dari terminal ke landasan parkir pesawat), perasaan mau berpisah tersebut mulai menggeluti lagi pikiranku, sehingga tanpa peduli ditonton oleh penumpang lainnya, maka berulang kali kucium wajah istriku, kucium berulang kali wajah anakku Yuki dan wajah mantuku Raifal dan wajah Elvan menantuku. Kebetulan Elfan mengantarku hingga ke tangga pesawat sambil ia membantuku menjinjing sirup Marquisa yang kubawa ke Bandung. Begitu aku mau menaiki tangga pesawat, aku kembali menciumi wajah Elfan berulang kali dan aku kembali melambaikan tangan ke istriku dan anakku Yuki dan suaminya Raifal.

Masih amat membekas di benakku, bahwa istriku Meutia dan Yuki lama sekali melambaikan tangannya saat itu, seolah-olah melepaskan keperginku untuk selamanya dan perasaanku bahwa kami tidak akan bertemu lagi. Setelah kejadian tsunami, terbukti  sudah dengan firasatku, bahwa di bandara itu adalah perpisahan aku dan keluarga untuk selamanya dan begitu juga dengan lambaian tangan, rupanya itulah lambaian tangan yang terakhir.

Aku juga masih ingat, saat berangkat dari rumah aku diantar oleh sobatku bang Ain (Drs Syahrir AKA Direktur Percetakan CV. Tati Group), beliau yang menyopiri mobilnya dan aku duduk di sebelahnya. Waktu mau berangkat dan sebelum menaiki mobil, Yudid anakku dengan mengendong anaknya Defa (Elzya Diafaiz, nama tersebut diberikan oleh istriku saat Yudid melahirkan di Bandung dan aku setuju juga dengan nama tersebut.

Yudid yang kuliah di Fakultas Kedokteran Unsyiah, menyalamiku, lalu mulai datang perasaan mau berpisah karena firasatku tersebut, dimulai dari rumah sebelum berangkat ke bandara. Aku menciumi anakku Yudid berulang kali di dekat garasi mobil, lalu kuambil cucuku Defa dari gendogan Yudid, lalu kugendong cucuku satu-satunya ini dan kubawa bersamaku naik ke dalam mobil. Ia menangis, seakan-akan baru sekarang kusadari bahwa tangisannya tersebut adalah tangisan terakhir di pelukan kakeknya. Saat itu Yudid mengambil kembali anaknya yang berada dalam mobil bersamaku. Perasaan mau berpisah tersebut, membuatku seperti orang lugu. Mau kuungkapkan tidak mampu dan saat menggendong cucuku, perasaanku mengatakan inilah yang terakhir aku menggendong cucu tersayang. Rupanya apa yang terpikir saat itu, terbukti semuanya setelah tsunami.

Lucunya, saat aku akan menyerahkan defa dalam pelukanku ke mamanya Yudid, lewat jendela mobil. Naluriku pun mulai sadar ketika itu, kok aku menyerahkan cucu kesayanganku lewat jendela mobil yang disambut oleh Yudid mamanya dari luar mobil? kenapa tidak aku membuka pintu sambil berdiri kembali meyarahkan cucuku untuk digendong kembali oleh mamanya? di sini ada satu penyesalanku, karena pekerjaan tersebut tidak baik lewat jendela mobil kuserahkan cucu kesayanganku yang waktu itu hanya satu-satunya itu.

Memang kadang-kadang selama aku di Banda Aceh, di mana umur cucuku saat tsunami pas usianya tujuh bulan (26 Mai 2004–26 Desember 2004), saat aku menggendong cucuku ini, terpikir olehku, apakah cucuku ini panjang umur ? kenapa sampai ketingkat itu aku berpikir ? dalam penilainku bahwa cucuku itu sangat ganteng, jika ia sudah besar nanti dan kulitnya pun relatif sangat putih licin. 

Telepon Terakhir

Sabtu sore (25 Desember 2004) aku menelpon keluargaku, di mana besok paginya datang musibah tsunami. Entah kenapa semenjak aku berangkat ke Bandung pada tanggal 20 Desember 2004,  tiap hari aku menelpon isteri dan anak-anakku di Banda Aceh. Pertama aku menelpon saat begitu sampai di Cengkareng untuk menginfokan bahwa aku telah tiba di Jakarta, lalu menelpon lagi saat tiba di Bandung.

Keesokan harinya tanggal 21 aku menelpon lagi istriku hanya untuk bergurau saja sambil menanyakan tentang cucuku yang sudah mulai pintar duduk jika didudukkan, walau harus berjaga-jaga agar ia tidak terjatuh ke belakang. Besoknya, pada tanggal 22 Desember 2004 (sebagai hari ibu) aku menelpon lagi ke Banda Aceh khusus hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke 47 kepada istriku (isteriku lahir di Solo – Jawa Tengah, pada tanggal 22 Desember 1957).

Begitu juga tidak seperti biasanya dalam seminggu itu, jika tidak siang atau malam hari aku menelpon isteri atau anak-anakku di Banda Aceh.
Telepon terakhir, di sabtu sore tersebut di ambil oleh anakku Yuki yang baru selesai pesta perkawinannya pada tanggal 11 Desember 2004.

Aku menanyakan kemana mama, ia pun memanggil Meutia istriku. Aku menanyakan ke istriku, besok Minggu dengan siapa ke pesta anak pak rektor di kampus. Istriku hanya mengatakan jika tidak ada teman, ya pergi sendiri nanti bisa ditemani oleh Yudid ia yang menjadi supirnya.

Lalu aku menanyakan, apa sudah menelpon mbak Tarmi, adik sepupu istriku di Jakarta (ia bekerja di rumah sakit Budiasih–Jakarta adik sepupu istriku, kelahiran Solo Jawa Tengah, tetapi non muslimah mengikuti agama suaminya katolik dan mas Yanto suami bekerja di Bea cukai).

Maksudku karena mbak Tarmi jika lebaran Idul Fitri dan Idul Adha selalu menelpon ke Aceh dan tidak salah juga jika di hari natal kami juga menelponnya untuk silaturrahmi, sambil menanyakan bagaimana suasana natalnya di Jakarta. Jawaban istriku, sudah beberapa kali ditelpon ke Sutarmi, tetapi tidak tersambung.

Lalu aku ngobrol dengan Yuki, ia minta ditransfer uang Rp500.000,- ke rekeningnya alasannya untuk jajan dan beli pulsa HP. Lalu aku menanyakan kepada Yuki ke mana kak Yudid, ia mengatakan lagi cuci piring. Aku minta memanggilnya. Yudid pun melakukan pembicaraan telepon denganku. Aku hanya menanyakan bagaimana Defa cucuku.

Aku tanyakan juga kapan Yudid mulai memasuki masa Ko-as, ia mengatakan konsentrasi dulu dengan beberapa mata kuliah yang belum lulus (Yudid kuliah di Fakultas Kedokteran Unsyiah). Harapanku kepada Yudid luar biasa, agar anakku yang kuliah di kedokteran ini, dapat menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan tepat waktu, karena ia telah mengambil cuti non aktif satu semester karena melahirkan.

Kebiasaanku untuk selalu membeli buku-buku kedokteran dengan gambar-gambar berwarna kepada Yudid, tujuan untuk memotifasi Yudid agar rajin belajar. Walau buku-buku kedokteran tersebut tidak dimintanya, tetap kubeli. Waktu ia masih duduk di semester satu saja aku telah membeli untuknya steteskop yang bagus dan alat ukur hipertensi yang kualitras bagus. Paling sering aku membeli untuk keperluannya di toko Sakura di jalan Padjadjaran Bandung, karena di situ harganya agak murah dari pada di tempat lain. Termasuk alat operasi (jika tidak salah ukuran mini ?) aku membelinya di toko Sakura ini. Kadang jika aku ke Jakarta aku membeli buku-buku kedokteran tersebut, di depan toko Buku Gunung Agung - Kwitang atau di kios-kios buku Palasari di Bandung. Umumnya buku-buku kedokteran di Kwitang maupun di Palasari diproduksi oleh Universitas Indonesias Press.

Setelah aku berbicara dengan Yudid, aku kembali beberapa menit bercerita dengan Yuki ditelepon dan akhirnya, aku minta berbicara lagi dengan istriku Meutia. Yuki menginfokan kalau mamanya lagi duduk diteras depan, mungkin lagi membaca majalah katanya, lalu ke Yuki aku mohon izin untuk mengakiri telepon dengan ucapan Assalamua’alaikum dan sebagaimana biasanya ia menjawab dengan walaikum salam warahmatullah.


Musibah itu pun Datang                 

Di hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 tersebut, sebagaimana biasanya tiap hari Minggu aku pasti jalan pagi dari rumah kontrakanku di Dago Timur ke Gasibu, lapangan di depan gedung sate Bandung untuk berolah raga jalan kaki.

Biasanya aku berangkat dari rumah Dago Timur pukul 7 pagi, namun kali ini agak terlambat pukul 08.15 Wib baru beranjak dari rumah (gempa tsunami di Aceh terjadi pada waktu bersamaan yaitu sekitar pukul 8.00 pagi). Saat itu perasaanku tidak enak dan pikiranku terus melayang ke Banda Aceh. Mungkin karena pikiran melayang terus, sampai akhirnya aku agak sempoyongan. Kebiasaanku tiap tiba ke Gasibu setelah 2 – 3 kali jalan keliling lapangan Gasibu, aku mesti singgah ke makanan kesukaanku, yaitu sate ayam yang ukurannya sebesar sate daerah matang di Aceh. Lalu aku mencoba menghubungi ke Aceh dengan telepon genggamku, ternyata tidak ada sambungan. Kucoba beberapa kali juga tidak ada respons dari Hp istriku dan Hp anak-anakku. Aku berpikir sinyal ke Banda Aceh lagi tidak bagus.

Begitu mau melangkah ke pelataran sate, pikiranku tambah kacau dan sempoyonganku kian bertambah. Akhirnya kuputuskan batal singgah untuk makan sate dan pikiranku tambah ruwet ingat terus ke Aceh dan dari lapangan Gasibu terus aku berjalan kaki hingga ke jalan Trunojoyo dan aku menaiki angkot menuju ke alun-alun untuk membeli minyak ikan Omega 3 yang sering aku kosumsi untuk menurunkan kolesterol, kebetulan di rumah sudah tidak bersisa lagi. Aku ke toko Palembang di Jalan Sudirman tidak jauh dari perempatan jalan Otto Iskandardinata (Otista).

Kembali dari membeli minyak ikan kabsul, aku singgah di Wartel Pasar Simpang Dago untuk mencoba menelpon ke Banda Aceh, aku berpikir mungkin lewat Wartel akan mendapat  sambungan ke Aceh karena lewat Hp tidak berhasil, hanya untuk mengecek lagi mengapa pikiranku sejak pagi tadi terus melayang ke Aceh, saat aku memasuki Wartel aku melihat jam dinding waktu itu menunjukkan pukul 10 pagi.

Di kamar wartel tersebut, aku berulang kali memencet nomor telepon rumahku di Banda Aceh, ternyata tidak ada sambungan sama sekali, aku coba lagi berulangkali, juga tidak ada respons sama sekali, dalam pikiranku jangan-jangan satelit kominikasi lagi rusak, namun sebentar lagi pasti akan bagus kembali. Lalu aku menanyakan kepada petugas wartel, mengapa tidak ada sambungan ke Aceh. Cewek petugas di wartel ini, ringan saja ia menjawab, benar pak tadi ada juga orang yang menelpon ke Aceh, tetapi tidak tersambung.

Aku dengan menaiki angkot  terus kembali ke rumah di Dago Timur. Tiba di rumah, aku melihat ke kamar anakku Yuzan ia masih tertidur dan aku karena masih ada sisa-sisa sempoyonganku, maka aku pun merebahkan diri ke kasur dengan mencuatkan pikiranku ke Banda Aceh. Aku di Bandung hanya berdua dengan Yuzan, anakku yang berkuliah di Fisip Unpad.

Aku terbangun pas kulihat jam pukul 12.20, setelah mencuci muka, iseng aku membuka TV, apa lajur ? di layar kaca tersebut sedang ditayangkan berita gempa besar di Aceh. Gampa yang ditayangkan berita-berita gempa dan tsunami di Lhokseumawe Kabupaten Aceh Utara. Aku melihat sejumlah mayat akibat dari tsunami tersebut.

Sedangkan Banda Aceh diberitakan terputus komunikasi dan Banda Aceh juga diinfokan adanya gempa besar dengan kekuatan gempa menurut Indonesia 6,8 SR sedangkan menurut Amerika 8,9 SR.

Untuk menentramkan hati, aku terus  shalat sunat setelah shalat dhuhur dan malamnya aku Thahajud kebiasaan yang sering kulakukan - shalat di malam hari, aku membaca Surat Yasin serta zikir. Air mataku terus  tidak terbendung, bu Tomi tetanggaku di sebelah rumah juga datang menanyakan bagaimana ikhwalnya di Aceh. Aku hanya pasrah, hanya dapat memberi jawaban belum dapat berita bu. Juga datang Pak Heri mantan RW dan Rezky RW-nya Dago Timur menanyakan hal yang serupa, juga datang Imam mushalla kami, Pak Asep menanyakan hal yang sama juga.

Keluarga istriku di Solo juga menelpon, juga yang di Jakarta, semuanya sepupu istriku. Juga promotor dan ko promotorku, hingga para rekan-rekanku di Unpad menelpon menanyakan ikhwal berita.

Dan, senin siang aku pun mulai dapat berita di TV bahwa Banda Aceh paling parah mendapat kerusakan, bahkan ditayangkan gambar mayat-mayat berjajar di jalan Teuku Umar Banda Aceh, sedangkan malam hari gelap gulita karena PLN tidak berfungsi lagi. Aku terus mencari berita yang lengkap tentang keluargaku di Banda Aceh, bagaimana dengan istriku ? bagaimana dengan anak-anakku? menantuku? dan cucu kesayanganku yang baru kumiliki hanya satu-satunya itu ? Hari musibah itu, cucuku genap berusia tujuh bulan.

Aku musyawarah dengan Yuzan dan Dedi kemenakanku yang baru datang ke Dago Timur, lalu aku putuskan bahwa kami bertiga segera berangkat  ke Banda Aceh. Senin sore itu, aku mencari tiket pesawat, tiket pun aku dapatkan untuk kami bertiga pada hari kamis tanggal 30 Desember 2004. Jadwal keberangkatan tersebut, memang agak susah didapatkan, menurut travel penerbangan ke Banda Aceh sangat padat akibat musibah tsunami.

Setelah mendapatkan tiket pesawat, aku segera menuju ke Pasar baru untuk membeli segala keperluan di Banda Aceh, seperti lampu Patromat, Sarung tangan, biscuit kaleng, air Oksigen, masker dan lain-lain, tujuanku kembali segera ke Banda Aceh untuk mencari jasad keluargaku kalau-kalau mereka juga tertimba musibah.

Begitu aku tiba di Dago Timur, depan rumahku dipenuhi oleh banyak tetangga, mereka semua memeluk aku, mereka semuanya mengucapkan agar aku bersabar dan jawabanku ketika itu hanya mampu kuucapkan dengan cucuran air mata yang membasahi pipiku.

Aku, Yuzan dan Dedy kemenakanku, segera diantar oleh Rizky RW kami di Dago Timur ke Jakarta. Beliau sendiri yang menyetir mobilnya. Dalam perjalanan ke Jakarta, aku mendapat telepon dari Rizal teman Yuzan di Dago Timur. Ia menginfokan, bahwa sepeninggalku menuju ke Jakarta tadi, datang temannya Yuna, memberitakan bahwa Yuna selamat dari terjangan tsunami dan sekarang ia diungsikan ke komplek Bandara Sultan Iskandar Muda di Kabupaten Aceh Besar, namun keluarga lainnya tidak ada berita apa pun. Lalu aku mencoba menghubungi Rizal di Dago, ia mengimfokan bahwa berita tadi diperolehnya dari temannya Yuna yang datang ke rumah di Dago Timur dan teman anakku itu, member nomor Hp yang digunakan oleh Yuna saat menelpon ke Bandung (kemudian baru aku ketahui bahwa Yuna meminjan HP para pengungsi lain, sedangkan Hp nya hilang di tsunami).

Setelah mendapat no Hp tersebut, aku segera menghubungi anakku di pengungsian. Yuna menagis melaporkan apa yang terjadi, aku kuatkan diriku atas laporan yang disampaikannya. Ia mengatakan bahwa ia tersangkut di lantai dua rumah tetangga di belakang rumahku di Banda Aceh. Kondisi Yuna badannya luka-luka akibat tsunami dan butuh pertolongan segera. Apalagi Yuna kelihatan sangat trauma, ia menangis sebentar-sebentar saat menyampaikan laporannya kepadaku. Ia mengatakan gempa Ayah terus bruntun sampai sekarang.

Aku menanyakan mama ke mana? Kak Yudid dan kak Yuki kemana?  bang Elfan dan bang Raifal kemana? mana defa? Dalam benakku ketika itu mereka semua ada di pengungsian bersama dengan Yuna. Jawaban Yuna hanya, "Tidak tau ayah…"

Tiba di Jakarta, di rumah adik sepupu istriku mbak Sutarmi di Duren Sawit. Sedangkan Pak RW setelah duduk sebentar, lalu beliau pun mohon diri untuk kembali ke Bandung. Selasa dan Rabu aku terus mengecek apa yang terjadi di Banda Aceh. Aku tidak putus-putusnya aku berdoa dan tahajud di malam hari, aku bermohon kiranya keluargaku semuanya terlindungi dari musibah besar tersebut.

Rabu, aku ditelepon dari kemenakanku Indra yang bekerja di BNI kota Medan, ia menginfokan bahwa satupun keluarga kami tiada yang tertinggal semuanya disapu tsunami, rumah nenek di Blang Oi katanya rata dengan tanah, begitu juga dengan rumah Om Rusdi (abangku yang tertua) dan Ayah Tengoh (Rasyid abangku yang nomor dua), tiada satupun yang tertinggal semuanya ditelan tsunami. Aku menanyakan bagaimana dengan tante Meutia istriku dan anak-anaku, jawabannya: "Paman sebaiknya berdoa saja, tipis harapan untuk selamat…"
 
Kamis pagi aku, Yuzan dan Dedy diantar ke bandara Soekarno–Hatta di Cengkareng oleh mbak Tarmi. Setiba di Cengkareng aku mendapat telepon dari abangku yang nomor tiga (Ifrizal yang mantan camat), bahwa ia sudah mengungsi di Indrapuri kabupaten Aceh Besar, dan katanya untuk masuk ke kota Banda Aceh tidak bisa dilewati, karena semua jalan dipenuhi oleh gunungan sampah tsunami yang dibawahnya banyak mayat-mayat tsunami. Abangku yang masih hidup satu-satunya ini, menyarankan sebaiknya kamu jangan pulang dulu ke Banda Aceh, sebaiknya urus Yuna dulu yang terluka untuk dibawa keluar dari Aceh dan diobati. Saran abangku ini, kupikir ada benarnya juga. Lalu aku musyawarah dengan Yuzan dan Dedy, setiba kalian di Bandara Banda Aceh, cari Yuna dan terbangkan ia ke Jakarta dan ayah menunggu di Cengkareng lalu aku minta Yuzan mencari ibunya, adik-adiknya dan keluarga yang hilang atau yang sedang mengungsi.

Di Cengkareng banyak orang-orang Aceh yang mau kembali ke Aceh, tetapi mereka belum mendapat tiket pesawat. Mereka yang tidak kukenal tetapi sama-sama mau kembali ke Aceh, merayuku untuk minta tiket atas namaku untuk dibeli berapapun aku mau jual kepadanya. Akhirnya tiket yang kumiliki tersebut, kuserahkan kepadanya, ia aku minta menggantikan saja sesuai nilai yang aku beli, kami semua harus tolong menolong, karena semuanya sedang berduka, begitu pikiranku ketika itu, lagi pula aku bukan agen tiket pesawat.

Karena terus didelay, akhirnya Yuzan dan Dedy diberangkatkan  ke Banda Aceh pukul 11 malam dan tiba di Banda Aceh pukul 2 dini hari. Mereka langsung mencari Yuna yang telah diungsikan ke bandara.

Cerita Yuzan, setiba di Aceh dinihari itu, ia sudah ketemukan Yuna dan langsung mengurus keberangkatannya ke Jakarta untuk segera berobat. Rupanya tiket pesawat yang harus antre di bandara, tidak diperolehnya ia hanya dapatka tiket Banda Aceh–Medan. Lalu pagi jumat, Yuna diberangkan ke Medan dan dititipkan kepada keluargaku juga, Haji Hanafiah (Cut Lem Piah) di mana anaknya juga luka-luka parah akibat tsunami. Yuna satu malam dirawat di rumah sakit Putri Hijau di kota Medan. Indera kemenakanku di Medan, terus mengurus Yuna untuk besoknya Sabtu diberangkatkan ke Jakarta.

Sejak Sabtu pagi, aku sudah telah menunggunya di Cengkareng dan budenya Sutarmi yang berkerja di Rumah sakit Budiasih Jakarta (ia bahagian Keuangan di rumah sakit tersebut) telah siap-siap untuk mengobatinya.

Saat menunggu kedatangan Yuna anakku di Jakarta, aku diminta oleh Metro TV untuk diwawancarai, hal ini tidak mungkin kulakukan, karena pada kondisi seperti itu yang ada dengan ku hanya cucuran air mata, aku sedang dalam musibah karena hati kecilku mengatakan istri dan anak-anakku serta saudara kandungku semuannya mereka telah tiada.(terbukti ribuan saudaraku hilang di tsunami, selain isteri, anak-anakku, menantuku, cucuku dan saudara kandungku dengan kemenakan-kemenakanku hilang semua).

Yuna tiba di Cengkareng pas waktu Maghrib aku langsung ke rumah budenya sebagai tempat pengusianku di Jakarta. Tiba di Duren Sawit, Yuna langsung dibawa oleh budenya ke rumah sakit budiasih. Yuna tidak perlu diopname dan diperkenankan pulang, namun Yuna terus menderita batuk dan sakit dada akibat terminum air tsunami yang konon mengandung belerang tersebut.

Dua tiga hari di Jakarta, aku ke Bandung karena ditelpon oleh Pak RW-ku minta aku ke Bandung untuk tiga malam bersama warga melakukan tahlilan kepada keluargaku yang mereka yakin telah tiada akibat tsunami. Aku turuti saja kemauan Pak Rezki dan ayah beliau Pak Herry yang juga mantan RW di Dago Timur. Tiga malam berturut-turut dilakukan tahlilan dan malam ketiga dibuat kenduri yang semua biayanya mereka tanggulangi, kecuali biaya untuk snack setiap malam aku yang keluarkan.  Setelah itu baru aku ketahui, bahwa semua biaya itu ditanggulangi oleh Pak Herry ayahnya pak RW, di mana rumah beliaulah yang dikontrakkan kepadaku selama ini.

Selesai Tahlilan di Bandung aku kembali ke Jakarta dan Yuna kutitipkan di rumah budenya yang satu lagi (Tatik di  yang Glodok- Jakarta) pertimbanganku di Glodok, Yuna tidak akan terlalu sedih karena ada teman untuk ngobrol, para sepupunya, sedangkan di Duren Sawit budenya bekerja di Budiasih dan Pak De Yanto, bekerja di Bea Cukai.

Aku berangkat ke Banda Aceh dan dijemput oleh Yuzan. Selama di Banda Aceh, aku menginap di rumah Pak Jafar Is (mantan Bupati Pidie) di Ulee Kareng dan juga di rumah sobatku Dr Ir. H. Rusli Alibasyah, MS di Kopelma Darussalam.

Selama di Banda Aceh mencari jasad istri dan anak-anakku, di mana mereka semua tidak kutemui. Aku ke rumahku di Punge Tengah – Punge Blang Cut, yang kulihat hanya gunungan sampah tsunami dan mayat-mayat bergelimpangan. Esoknya, aku minta bantuan tenaga sukarela di rumah sakit Zainoel Abidin Banda Aceh, dimana aku diberikan tenaga para mahasiswa Kedokteran Universitas Hasanuddin dari Makasar yang dipimpin oleh Dekannya Prof. Dr. Idrus dan satu unit truk yang konon mereka sewa dari kota Medan.

Tiap hari aku mendapatkan 10 orang mahasiswa untuk mengangkat mayat-mayat yang bergelimpangan di pekarangan rumahku yang masih berdiri utuh, kecuali seluruh tembok pagar yang tingginya sekitar tiga meter telah runtuh dan hancur serta teras rumah bagian depan yang rusak parah dan  patah bahagian depannya.

Hari pertama aku dan mahasiswa FK Unhas mengambil 5 mayat, tiga di teras depan dan dua mayat di teras belakang, itupun setelah kami bekerja 5 jam baru terangkat kayu balok yang menjepit mayat. Hari kedua kami mengambil lagi 6 mayat dengan cara membongkar tumpukan-tumpukan yang menghimpit, seperti pintu-pintu rumah, seng dan berbagai alat rumah tangga yang hanyut karena tsunami.

Fenomena yang sangat istimewa di dalam rumahku dekat teras sebelah kanan kutemui mayat gadis cantik, kulit kuning langsat, ia mengenakan cincin belah rotan. Baunya sangat wangi, aku terharu sekali melihat mayat gadis yang kutaksir berumur 20 tahun-an. Aku masukan ia ke plastik mayat dan diusung untuk diletakkan di pinggir jalan, menunggu truk tentara yang akan mengambilnya untuk dibawa ke kuburan misal yang digali di Ulee Lheue Banda Aceh.


Saat membongkar mayat ditumpukan sampah tsunami tersebut, bau pasir laut yang dibawa tsunami sangat menyengat, yaitu bau belerang. Sehingga tidak mungkin tiap hari aku membongkar mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana.

Satu bulan pas tragedi tsunami, pada tanggal 26 Januari aku kembali ke Bandung. Sehari sebelum berangkat aku singgah lagi ke rumahku di Punge. Aku naiki atap teras rumah bahagian depan, dalam tumpukan sampah yang belum sempat dibongkar (tidak mungkin dibongkar secara manual dan harus dengan alat berat), aku melihat masih banyak terlihat kepala mayat, ada yang hanya terlihat tangannya saja, maupun hanya terlihat kakinya saja.

Terakhir setelah aku di Bandung, aku dapat berita waktu alat berat masuk ke pekarangan rumahku, di bawah tumpukan sampah-sampah tsunami tersebut didapatkan enam mobil sedan/pick cup dan ditemukan 16  mayat lagi.

Buku-buka perpustakaanku semua hilang, baik karena dibawa tsunami, maupun yang telah aku kumpulkan lagi untuk diselamatkan di dalam rumahku yang kena tsunami. Namun, tangan jahil ada yang mencuri buku-buku milikku tersebut, termasuk buku-buku langka, seperti. Di bawah Bendera Revolusi, Aceh Sepanjang Abat, buku-buku statistika dan lain-lain. Malah aku tahu persis yang menjarah buku tersebut, adalah keluargaku sendiri yang sekarang tidak mau mengakuinya, padahal sebelumnya beliau sendiri mengatakan bahwa buku-buku tersebut dibawa ke rumahnya untuk diselamatkan.

Mahar yang dibeli oleh istriku untuk Yuzan, aku dapatkan pada hari ke lima kami membongkar barang-barang yang berantakan di dalam rumahku di Punge tersebut, namun kotak mas dan berlian istriku, hilang dibawa arus tsunami atau diambil oleh maling karena nampak sebelum dicari oleh keluargaku, sudah terlihat ada yang masuk ke rumah karena barang-barang mobilernyarumah tangga sudah mulai berantakan, tambah berantakan lagi, kelihatan ada yang mengotak-atik sehingga berhamburan, terutama pakaian-pakaian dalam lemari telah dikeluarkan semuanya.

Rahasia apa di balik mahar yang disiapkan isteriku kepada yuzan, sebagai wasiat yang dititipkan kepadaku. Saat aku dapatkan mas dengan ukuran sebungkal tersebut (16 mayam/ + kalong mas yang masih terbungkus dalam dompet toko mas dan disimpan di dalam tas pesta isteriku), saat itu aku sangat sedih, lalu dengan berjongkok dalam tumpukan barang-barang yang berantakan di dalam rumahku yang kondisinya setengah meter berisi pasir laut tersebut, dengan menengadah tangan ke atas aku mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT bahwa mahar sebagai wasiat istriku akan dapat ku implementasikan saat Yuzan menikah nanti.

Saat sedang aku bersyukur dan berdoa tersebut dengan penuh linangan air mata, tiba-tiba muncul bau yang sangat harum, wangi sekali. Masyaallah. Seumur hidupku tidak pernah aku mencium bau sewangi itu. Aku menangis terisak-isak ketika itu. Dalam benakku Allah Yang Maha Mengetahui untuk memberikan kembali mahar tersebut.

Hatikupun bertanya, jangan-jangan saat aku mengatakan: Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih atas pemberian kembali mahar ini. Aku bersyukur ya Allah karena wasiat ini juga bagian dari amanah istriku. Aku juga mengucapkan terima kasih Meutia, mahar titipan mu telah kuperoleh kembali. Aku kembalikan kepada kebesaran Allah SWT, hikmah apa sehingga memunculkan wangi seketika tidak aku ketahui pasti, sehingga Yuzan yang berdiri di sebelahku yang juga menangis terisak-isak, dan ia spontan mengatakan, "Wangi sekali Yah, bau apa ini?" padahal sebelumnya yang tercium oleh kami adalah bau belerang yang menusuk hidung dari pasir tsunami yang ada di dalam rumahku. Ya Allah ampunkan dosa-dosa kami, atas kebesaranMu, aku tidak sanggup menerjemahkan rahasia wangi-wangian dari Mu.

Selama aku di Bandung, rumahku yang ditimpa tsunami, dibongkar semua besi jalusinya yang lumayan banyak, parabola juga dibongkar, Ac dan fen di dinding juga dijarah, hingga wayer listrik pun dicopot juga di atas loteng. Besi-besi pagar yang tersisa juga dijarah semua. Mobil aku pun hilang dibawa tsunami. Semuanya adalah milik Allah dan kembali kepada Allah.

----------------------
Melayangkan Surat
(Karena komunikasi ke Aceh Telah Terputus)

Mama, anak-anak, menantu dan Cucuku
Yang sedang Was-was dan Pilu


Di Banda Aceh

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

1. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.  Sabar Ma, ini semua adalah cobaan  Allah, tiada satupun manusia dapat menolaknya atas musibah gempa dan banjir karena ombak Tsunami.

2. Berita TV seluruhnya menayangkan bagaimana dahsyadnya 10 menit, gempa yang terbesar di dunia setelah tahun 1900, dan gempa yang berasal dari lautan Hindia di Aceh Barat ini telah menelan korban jiwa (sementara) :

-    Sri Langka………………….=  4000 orang
-    India………………………..=   1200 orang
-    Aceh diperkirakan………… =   4500 orang
-    Thailand…………………… =     178 orang
-    Malaysia…………………..  =        46 orang
-    Madagaskar ………………   =         7 0rang
-    Sumatera Utara (utama Nias) =     122 Orang
-    Beberapa Negara lain (sudah lupa), menurut TV korban seluruh dunia (Asia selatan dan Asia Tenggara) diprediksi 12.000 orang.

3.  Padahal hari Minggu itu (kemarin) saat pulang jalan-jalan pagi abang berulang-ulang kali nelpon ke Aceh, tujuannya ingin memeritahukan agar Yuki cepat ngurus surat Non Aktif Kuliah dan untuk pengambilan buku nikah Yuki di KUA, karena jika tidak ada buku nikah tidak bisa ngurus Akte Kelahiran anak dan ingin memberitahukan ke dek Una agar saat kak Uki ke Bandung titip untuk tidak lupa bawa buku HP,  tapi nelponnya tidak masuk dan saat itu jadi pertanyaan besar, mengama ? malah sampai telpon ke Cut Adun, Mimi dan Cut Bang Ramli, juga tidak masuk.

Akhirnya abang baru tahu musibah gempa dan gelombang pasang tsunami di Aceh lewat TV pukul 12.20 dan semua TV terus-menerus memberitakan hingga tadi malam dan kami pun terus memonitornya hingga larut malam, kami sangat was-was dengan gempa susulan.

Bahkan memikirkan bagaimana keadaan disini, apakah mengungsi? Jika mengungsi di mana? apakah harus di lantai tingkat dua ? atau jika datang gelombang pasang lagi bagaimana ? Pikiran macam2 yang sangat kalout,  apakah ada tersedia beras di rumah dan susu untuk cucuku  Deva apa ada dibuka toko ? Inilah terus menghantui kami di Bandung, mudah-mudahan kondisi keluarga kita di luar dari dugaan dan Insya Allah selalu mendapat lindunganNya.

4. Untuk menentramkan hati abang terus shalat sunat setelah shalat wajib dan tadi malam Thahajud, baca surah yasin serta zikir. Air mata abang juga tidak terbendung, bu Tomi sebelah rumah juga datang menanyakan bagaimana ikhwalnya di Aceh. Mama dan anak2 tentramkan hati, berdoalah terus bermohonlah kepada Allah untuk keselamatan dan ini menurut PBB adalah musibah dunia/Internasional yang luar biasa, ukuran gempa menurut Amerika 8,9 Skala Rihter ( sangat dahsyad ) sedangkan catatan Indonesia ukurannya 6,8 Skala Rihter. Merupakan Kiamat Kecil, mama dan anak-anak serta menantu dan cucuku sudah merasakannya bagaimana Kiamat Kecil. Sungguh abang dapat menghayatinya, nyawa kita jadi taruhan dan BEBAN LUAR BIASA, ALLAHUAKBAR………………

5.    Mama tolong infokan ke Cut Adun, kami di Bandung ada komunikasi dengan Dedi dan dia sudah abang suruh ke Dago, dia nampaknya sedih juga.

6.  Yang ditayang di TV dan wawancara jarak jauh hanya akibat gempa di Lhokseumawe, sedang dari Banda Aceh dan Meulaboh tidak diketahui sama sekali, karena terputus komunikasi. Kami sangat was-was dan dalam benak timbul pikiran macam-macam akibat tidak ada info, mudah2an dalam waktu dekat telekomunikasi akan cepat stabil, abang ingin cepat mau menelpon ke Aceh, menanyakan bagaimana keadaan disini atau sebaliknya jika telpon sudah oke mama segera telpon ke Bandung.

7.   Rencana abang mau pinjam uang ke mbak Tarmi agar abang bisa pulang sementara untuk melihat kondisi di sini, tapi menurut Yuzan, lihat perkembangan beberapa hari ini, karena katanya jalan dari bandara ke Banda Aceh terputus. Kemarin (Minggu 26/12 hari gempa) ke Aceh menteri Sofyan Jalil, Hari ini (senin 27 Des 2004) ke Aceh Wapres dan konon besok (Rabu 28/12) presiden akan ke Aceh.

8.   Allahuakbar, berdoa terus Ma…………. minta anak2 dan mantu untuk terus berdoa, mohon perlindungan Allah SWT, mudah-mudahan Allah akan mendengarnya permohonan kita. Bagaimana keadaan Lem yang uzur dan kondisi Blang Oi serta teman2 saudara kita : Bang Ain, Cut Bang Ramli dan Cek Rusli serta Bulek di Lamprik, Yah Ngoh dan Cut Nar. Mungkin Meureudu akibat gempa parah juga karena dekat dengan laut, Insya Allah yang terbaik.

9.  Bilang sama Yuki, jangan terbeban dan tolong mama hibur dia agar tidak shok psykis karena kondisinya demikian dan urus Deef cucu kakek dan perlu gerak cepat merangkulnya jika datang gempa, sebaiknya dijaga terus saat tidur agar aman bila datang gempa susulan. Sementara ini Yudid dan Yuna nggak usah kuliah dulu, Efan dan Refal sebaiknya  di rumah aja, karena diprediksi dalam 2 – 3 minggu ini masih ada gempa susulan. Bersiaplah dengan berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Ayah mungkin segera akan pulang jika bude Tarmi membantu meminjamkan uang, Insya Allah.

10.  Bagaimana apa di rumah ada lampu teplok untuk penerangan? ayah yakin Efan dan Refal bisa ngurusnya untuk berbagai keperluan. Bila perlu Mama jual mas jika dibutuhkan karena kondisinya darurat dan siapkan keperluan makan (stock) di rumah atau di tempat pengungsian agar tersedia bila dibutuhkan, mungkin toko tidak dibuka terus-menerus, karena kondisi alam.

Demikian Ma, ayah terus memonitornya dan tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali doa dan tangis karena ayah jauh dari mama, anak-anak, mantu dan cucuku. Cobaan untuk Mama dan ayah luar biasa karena ayah sedang nuntut ilmu, KITA SEMUA HARUS BERSABAR DAN MEMPERBANYAK DOA, BERMOHONLAH KEPADA ALLAH. AKAN PERLINDUNGANNYA.

Salam ayah buat semua-semua, atau jika mama dan anak-anak serta para mantu mau ngungsi ke Bandung ayah setuju saja, mama jual aja mas kawin milik mama itu, karena perhitungan ayah kondisi gempa susulan belum kita tahu benar, mudah-mudah tidak akan ada lagi, namun terserah mama aja jika mau ke Bandung bawa semuanya, sedangkan Refal dan Yuki sudah ada tiket, Cuma minta dipercepat jika mau mengungsi sekeluarga. Terima kasim mam,

Bandung, 27 Desember 2004
Was,
Yuswar Yunus


Surat ini tiga bulan kemudian dikembalikan oleh kantor Pos Bandung dengan pesan alamat rumah di Banda Aceh sudah tidak diketahui lagi. ***



Oleh Prof. Dr.Ir. Yuswar Yunus, MP | Guru Besar Fakultas Pertanian Unsyiah

-------------------------------------------------------
Kenangan dalam bentuk tulisan dapat dikirimkan ke email: kenangtsunami2612@serambinews.com beserta foto diri, keluarga, dan kerabat yang meninggal akibat tsunami. Tak terkecuali korban selamat (survivor) yang kini telah mampu bangkit menata kehidupannya kembali.

 








TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas