Tafakur
Tiada Hari Bagi Ibu
Tiada hari bagi seorang ibu untuk berlekang diri dari kasih sayang
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kamu kembali” (QS. Luqman: 14).
Tiada hari bagi seorang ibu untuk berlekang diri dari kasih sayang. Tiada pilahan hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, atau Minggu; semuanya hari kasih sayang. Bila anak mengalami kesulitan, ibu lebih dahulu berusaha menanggungnya. Di saat ada kebahagiaan, ibu lebih memilih menikmatinya saat terakhir setelah anak(-anak)nya. Kasihnya sepanjang masa. Karena itu, menyantuni atau mengenang ibu tak pantas pada masa tertentu atau hanya sehari.
Apalagi Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam menuntun kita untuk memberi perhatian terhadap ibu. Sebagaimana dalam hadits, seseorang datang kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak mendapatkan perlakuan baik?” Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam menjawab, “Ibumu.” Beliau bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” la bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” la menjawab, “ibumu.” la bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ayahmu. Kemudian yang paling dekat dan yang paling dekat.”
Bahkan, ketika seseorang yang telah menghajikan ibunya dengan memanggulnya, lalu bertanya apakah sudah membalas jasa ibunya. Ibnu Umar r.a. menjawab, “Belum sedikit pun kamu membalasnya, namun kamu telah berbuat baik kepadanya. Dan Allah akan membalas atas sedikit kebaikanmu dengan balasan yang banyak.”
Meskipun jasa ibu begitu besar, jasa ayah juga tak kecil kepada anaknya. Karena itu, sungguh rugi kata Rasulullah, apabila seseorang yang masih memiliki orang tuanya, tetapi tak terampuni dosa-dosanya. Ini bermakna bahwa menyantuni orang tua bukan hanya perintah, tetapi juga menjadi jalur menuju ampunan dosa.