• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Seuntai Doa dari Bangka Belitung

Selasa, 27 Desember 2011 13:22 WIB
Seuntai Doa dari Bangka Belitung
Muktamarudin Fahmi, Putra Aceh Asal Bireuen, Pustakawan Universitas Bangka Belitung
SEKITAR dua ratusan warga Aceh yang saat ini berada di Kepulauan Bangka Belitung dan berhimpun dalam wadah Ikatan Masyarakat Aceh Bangka Belitung (IMABA), Minggu (25/12) lalu berkumpul dalam acara bertajuk “Seuntai Doa untuk Para Syuhada Tsunami.”

Acara yang diselenggarakan IMABA tersebut diisi dengan samadiyah bagi bagi kaum laki-laki dan wirid yasin bagi kaum perempuan. Terdegar khas dan seakan-akan nuansa Aceh turut hadir di Bangka Belitung, sungguh pemandangan yang sangat unik dan menjadi kerinduan akan kampung halaman. Acara sederhana dan doa bersama tersebut dipusatkan di rumah seorang tokoh Aceh, Syahril yang sudah 30 tahun menetap di Pulau Bangka dan dikenal peduli dengan warga Aceh.

Tsunami memang banyak menyisakan kenangan tersendiri bagi mereka yang mengalaminya. Kenangan akan peristiwa tersebut seakan terus melekat di benak para korban yang selamat. Beberapa rekan-rekan yang hadir pada acara samadiyah dan wirid yasin beberapa di antaranya merupakan korban tsunami yang merasakan dahsyatnya peristiwa tersebut.

Acara yang berlangsung lebih kurang dua jam itu diisi dengan taushiyah oleh Drh Tgk H Rahmani, salah satu tokoh masyarakat Aceh yang sudah 15 tahun menjadi pegawai negeri di Kota Sungailiat, kota yang berada di sebelah utara Pulau Bangka.

Dalam tausyiah yang disampaikan dalam bahasa Aceh itu, iamengajak semua masyarakat Aceh yang ada di Kepulauan Bangka Belitung untuk terus menjaga tali silaturrahmi dan juga ikut merenung, betapa kejadian tsunami telah menyadarkan kita semua untuk terus berupaya mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sebelum acara samadiyah dan wirid yasin ditutup, Drh Tgk H Rahmani memimpin doa bersama yang ditujukan khusus kepada para suhada korban tsunami tujuh tahun lalu.

Kebersamaan kali ini terasa lebih lengkap, karena tuan rumah juga menyediakan menu kuah Pliek U dan Timphan Asoe Kaya, yang disuguhi bersama Kupi Itam khas Ulee Kareung. Di akhira cara, suasana akrab yang dihiasi dengan canda tawa khas, menjadi pelepas rindu warga Aceh di bumi penghasil timah terbesar di dunia ini. Dengan langgam berbahasa Aceh yang penuh simbol, saya melihat beberapa anak muda bercengkarama dengan teman-teman sebaya yang sesekali terdegar tawa yang menyita perhatian warga lain.

Saat ini terdapat lebih kurang lima ratusan masyarakat Aceh yang saat ini berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kebanyakan dari mereka merupakan pengusaha gorong-gorong (meunjeng). ***
Editor: hasyim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
45474 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas