Minggu, 19 April 2015

Belajar Disiplin dari Bangsa Jepang

Rabu, 28 Desember 2011 14:52

Belajar Disiplin dari Bangsa Jepang
DR HESTI MEILINA, Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Tokyo

Hingga tahun kedua kuliah, karena masih penasaran, tetap saja saya amati setiap kegiatan dan metode belajar mahasiswa Jepang. Mereka ternyata selalu datang tepat waktu. Pukul 08.00 atau pukul 09.00 pagi mereka tiba di kampus, masuk ke ruang lab, tak banyak bicara, cukup dengan sapaan: ohayou gozaimasu (selamat pagi) kepada teman-teman yang duluan tiba. Lalu mereka duduk di bangku masing-masing yang telah disediakan sensei (profesor).

Tak ada obrolan dan canda, mereka langsung bekerja di komputer masing-masing atau langsung memakai baju lab jika pada hari itu ada jadwal jikken (eksperimen). Baru ketika tiba saatnya hiru gohan no jikan (makan siang) mereka hentikan aktivitas masing-masing dan bercanda ria dengan teman-teman sambil menuju shokudo (kantin).

Kesimpulan yang dapat saya ambil, disiplin dan bekerja serius pada jam kerja adalah kunci keberhasilan mereka. Tapi cuma karena itukah mereka sukses? Ternyata ada dua kunci lagi yang saya dapatkan dari mereka, yaitu semangat dalam bekerja dan tidak pantang menyerah.

Seperti kita ketahui, pada akhir Perang Dunia II, perekonomian Jepang hancur. Kota Hiroshima dan Nagasaki menjadi puing, wilayahnya diduduki tentara asing, dan negara Jepang terpecah-pecah. Seusai perang, Jepang masih diwajibkan membayar pampasan perang kepada negara-negara yang telah dirugikan akibat agresi yang dilakukannya. Namun, kurang dari 40 tahun, Jepang telah bangkit menjadi salah satu negara adidaya dalam industri dan perdagangan.

Kebangkitan Jepang dari kehancuran dahsyat akibat Perang Dunia II bukan karena keajaiban, melainkan melalui semangat juang tinggi, disiplin ketat, dan kerja keras yang dilandasi nilai-nilai luhur. Semangat apa saja yang mereka miliki dalam meraih sukses?

Setidaknya ada lima nilai atau semangat yang mereka terapkan dalam kehidupan komunal, yakni: semangat bushido, disiplin samurai, budaya keisan, prinsip kai zen, dan prinsip keiretsu-zaibatsu.

Bushido adalah semangat kerja keras yang diwariskan secara turun- menurun. Semangat ini melahirkan proses belajar nan tak kenal lelah. Awalnya semangat ini dipelajari Jepang dari Barat. Tapi kini Baratlah yang terpukau dan harus belajar dari Jepang.

Halaman12
Editor: hasyim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas