• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 31 Juli 2014
Serambi Indonesia

Belajar Disiplin dari Bangsa Jepang

Rabu, 28 Desember 2011 14:52 WIB
Belajar Disiplin dari Bangsa Jepang
DR HESTI MEILINA, Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Tokyo
SEBELUM menginjakkan kaki di Jepang untuk menuntut ilmu, kekhawatiran yang timbul pertama kali di hati saya adalah bagaimana bisa belajar dan sejajar dengan mahasiswa Jepang. Saya khawatir, latar belakang ilmu saya tak bisa mengimbangi mahasiswa Jepang yang dalam bayangan saya sangatlah pintar. Bagaimana tidak, lihat saja bangsa Jepang yang sangat maju dalam segala hal, terutama dalam bidang ilmu sains dan teknologi.

Hingga tahun kedua kuliah, karena masih penasaran, tetap saja saya amati setiap kegiatan dan metode belajar mahasiswa Jepang. Mereka ternyata selalu datang tepat waktu. Pukul 08.00 atau pukul 09.00 pagi mereka tiba di kampus, masuk ke ruang lab, tak banyak bicara, cukup dengan sapaan: ohayou gozaimasu (selamat pagi) kepada teman-teman yang duluan tiba. Lalu mereka duduk di bangku masing-masing yang telah disediakan sensei (profesor).

Tak ada obrolan dan canda, mereka langsung bekerja di komputer masing-masing atau langsung memakai baju lab jika pada hari itu ada jadwal jikken (eksperimen). Baru ketika tiba saatnya hiru gohan no jikan (makan siang) mereka hentikan aktivitas masing-masing dan bercanda ria dengan teman-teman sambil menuju shokudo (kantin).

Kesimpulan yang dapat saya ambil, disiplin dan bekerja serius pada jam kerja adalah kunci keberhasilan mereka. Tapi cuma karena itukah mereka sukses? Ternyata ada dua kunci lagi yang saya dapatkan dari mereka, yaitu semangat dalam bekerja dan tidak pantang menyerah.

Seperti kita ketahui, pada akhir Perang Dunia II, perekonomian Jepang hancur. Kota Hiroshima dan Nagasaki menjadi puing, wilayahnya diduduki tentara asing, dan negara Jepang terpecah-pecah. Seusai perang, Jepang masih diwajibkan membayar pampasan perang kepada negara-negara yang telah dirugikan akibat agresi yang dilakukannya. Namun, kurang dari 40 tahun, Jepang telah bangkit menjadi salah satu negara adidaya dalam industri dan perdagangan.

Kebangkitan Jepang dari kehancuran dahsyat akibat Perang Dunia II bukan karena keajaiban, melainkan melalui semangat juang tinggi, disiplin ketat, dan kerja keras yang dilandasi nilai-nilai luhur. Semangat apa saja yang mereka miliki dalam meraih sukses?

Setidaknya ada lima nilai atau semangat yang mereka terapkan dalam kehidupan komunal, yakni: semangat bushido, disiplin samurai, budaya keisan, prinsip kai zen, dan prinsip keiretsu-zaibatsu.

Bushido adalah semangat kerja keras yang diwariskan secara turun- menurun. Semangat ini melahirkan proses belajar nan tak kenal lelah. Awalnya semangat ini dipelajari Jepang dari Barat. Tapi kini Baratlah yang terpukau dan harus belajar dari Jepang.

Disiplin samurai awalnya dominasi pejuang atau pahlawan Jepang. Para samurai akan melakukan harakiri (bunuh diri) dengan menusukkan pedang ke perut jika kalah bertarung. Hal ini memperlihatkan usaha mereka untuk menebus harga diri yang hilang akibat kalah perang.

Kini semangat samurai masih tertanam kuat dalam sanubari bangsa Jepang, namun digunakan untuk membangun ekonomi, menjaga harga diri, dan kehormatan bangsa secara teguh. Semangat ini telah menciptakan bangsa Jepang menjadi bangsa yang tak mudah menyerah karena sumber daya alamnya yang minim juga tak menyerah pada berbagai bencana alam, terutama gempa dan tsunami.

Satu hal lagi yang menjadi kunci keberhasilan bangsa Jepang adalah keinginan mereka yang tinggi untuk memperbaiki diri dan mencapai keinginan. Untuk mencapainya mereka menerapkan konsep budaya keisan, yaitu perubahan secara berkesinambungan dalam budaya kerja. Caranya harus selalu kreatif, inovatif, dan produktif. Konsep keisan menuntut kerajinan, kesungguhan, minat dan keyakinan, hingga akhirnya timbul kemauan untuk selalu belajar dari orang lain.

Di sisi lain prinsip kai zen mendorong bangsa Jepang memiliki komitmen tinggi pada pekerjaan. Setiap pekerjaan perlu dilaksanakan dan diselesaikan sesuai jadwal agar tidak menimbulkan pemborosan. Jika tak mengikuti jadwal, maka penyelesaian pekerjaan akan lambat dan menimbulkan kerugian. Oleh karena itu, perusahaan di Jepang menerapkan peraturan “tepat waktu”. Inilah inti prinsip kai zen: optimal biaya dan waktu dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Terakhir adalah prinsip keiretsu dan zaibatsu. Secara terminologi, keiretsu adalah gabungan perusahaan yang dimiliki keluarga yang sama. Usaha ini diwariskan turun-temurun, seperti yang sekarang ada yakni Mitsubishi, Mitsui, dan Sumitomo. Mitsubishi yang berdiri sejak 1870 pada awalnya perusahaan perkapalan, kemudian memasuki bidang pertambangan dan otomotif. Melalui anak-anak perusahaan dan juga rekan perusahaan, mereka membentuk satu serikat yang disebut zaibatsu. Sistem ini melambangkan bahwa persatuan akan menghasilkan kebersamaan dan kebersamaan melahirkan kekuatan.

Nilai-nilai di atas sangat dipegang teguh oleh bangsa Jepang. Kejujuran mereka juga luar biasa. Nah, kita yang tinggal di negeri dengan sumber daya alam yang jauh lebih banyak dibanding Jepang, sudikah kita belajar hal-hal positif dari mereka?


* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com
Editor: hasyim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: side/topik_populer.php

    Line Number: 11

TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help

A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Atas