Senin, 22 Desember 2014
Serambi Indonesia

Membidik Laba Keranjang Bambu

Jumat, 6 Januari 2012 09:52 WIB

Membidik Laba Keranjang Bambu
Muhsin AW meperlihatkan 100 unit lebih keranjanng bambu hasil produksi selama satu bulan terakhir, Kamis (5/1). Pengembangan bisnis usaha kerajinan tangan ini untuk mendukung program pengembangan jahe di 16 gampong dalam Kabupaten setempat dan pemamfaatan lahan kosong. SERAMBI/IDRIS ISMAIL
SUDAH lima bulan ini Muhsin Aw (47) menggeluti usaha barunya, pembuatan keranjang bambu. Jika biasanya usaha ini digeluti secara turun temurun, maka beda dengan pria asal Gampong Sagoe Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya ini. Dia justeru tidak memiliki keahlian turunan tersebut.

Keranjang bambu dikenalnya lewat pelatihan singkat di Medan, Sumatera Utara. Dia merupakan salah satu peserta training merajut keranjang bambu yang dilaksanakan hanya satu minggu. Pelatihan itulah yang menjadi bekal bagi dirinya memulai usaha pembuatan keranjang bambu. Beruntung dia mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten setempat dalam hal pendanaan.

“Saya melibatkan 20 tenaga kerja lokal umumnya kaum perempuan. Sebelumnya mereka kita latih dulu selama beberapa hari,” kata Muhsin kepada Serambi, Kamis (5/1).

Rata-rata per pekerja mampu memproduksi keranjang tiga sampai empat unit. Dengan tingkat produksi tersebut, pekerja mendapat upah sebesar Rp 35.000 per hari, plus makan. Sebulan terakhir ini saja, sekitar 100 unit keranjang berhasil diproduksi dengan berbagai ukuran. Keranjang itu nantinya akan dijual kembali antara Rp 17.000 hingga Rp 20.000 per unitnya.

Lantas apa yang membuatnya nekat terjun ke bisnis satu ini? Ternyata Muhsin sedang membidik peluang dari program Pemerintah Daerah setempat yang sedang giat-giatnya mengembangkan budidaya tanaman jahe.

Rencana Pemkab Pidie Jaya, tanaman jahe akan dikembangkan di 16 gampong serta untuk memanfaatkan lahan kosong yang ada. “Saya akan terus menggeluti usaha ini,” imbuhnya.(idris ismail)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas