Breaking News
Rabu, 10 Juni 2026

Citizen Reporter

Makna Disiplin di Negeri Sakura

KETIKA pada awalnya saya memilih negara Jepang sebagai tempat belajar, saya tidak berpikir bahwa saya harus bekerja keras

Tayang:
Editor: bakri
Makna Disiplin di Negeri Sakura - 120112foto.13_.jpg
SUASANA kuliah mahasiswa Jepang dan mahasiswa asing di Kobe University, Jepang.
Makna Disiplin di Negeri Sakura - 120112foto.15_.jpg
ALFIAN PUTRA
OLEH ALFIAN PUTRA, Dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe, Alumni Kobe University Japan

KETIKA pada awalnya saya memilih negara Jepang sebagai tempat belajar, saya tidak berpikir bahwa saya harus bekerja keras, walaupun saya tahu bahwa saya akan datang ke negeri berdisiplin tinggi. Toh dengan belajar setiap malam, saya pasti bisa mengimbangi mahasiswa Jepang yang pintar. Saya juga harus pintar!

Di tahun pertama, saya mengamati setiap gerak dan langkah mahasiswa Jepang dalam menuntut ilmu. Saya mengamati setiap kegiatan teman-teman mahasiswa di laboratorium tempat saya belajar. Pemahaman terhadap mata kuliah yang diikuti serta pertanyaan-pertanyaan sederhana yang muncul dari mereka ketika mengikuti kuliah membuat saya lebih percaya diri. Saya sempat menganggap remeh dan berkata dalam hati, wah, kalau pertanyaan seperti itu, mahasiswa saya di Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe pasti dengan mudah menjawabnya.

Analisis yang saya ambil tidak hanya berdasarkan sampel pada lab saya saja, tetapi ada beberapa teman Indonesia yang sedang belajar di lab lain juga memiliki pendapat yang sama. Ternyata ilmu yang dimiliki mahasiswa Indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan mahasiswa Jepang, demikian kesimpulan yang dapat saya ambil pada tahun pertama.

Tahun kedua, karena masih penasaran, saya kembali mengamati lebih serius setiap kegiatan dan metode belajar mahasiswa Jepang. Mereka selalu datang tepat waktu. Pukul 08.00 atau pukul 09.00 pagi mereka tiba di kampus, masuk ke ruang lab, tidak banyak berbicara, cukup dengan sapaan: ohayou gozaimasu (selamat pagi) kepada teman-teman yang sudah tiba duluan dan langsung duduk pada meja masing-masing yang memang telah disediakan oleh sensei (Profesor).

Tidak ada obrolan dan candaan, mereka langsung bekerja pada komputer masing-masing atau langsung memakai baju laboratorium jika pada hari itu mereka memiliki jadwal jikken (eksperimen). Baru ketika tiba saatnya hiru gohan no jikan (makan siang) mereka akan menghentikan aktivitas masing-masing dan bercanda ria dengan teman-teman sambil menuju ke shokudo (kantin).

Kesimpulan yang dapat saya ambil, disiplin dan bekerja dengan serius pada jam kerja adalah kunci keberhasilan mereka. Hanya dengan inikah mereka bisa sukses? Ternyata tidak. Ada dua kunci lagi yang berhasil saya dapat dari mereka, yaitu semangat dalam bekerja dan tidak pantang menyerah.

Arti tepat waktu
Pada minggu-minggu pertama saya berada di gedung laboratorium tempat saya belajar di Kobe University, perhatian saya sedikit tergelitik oleh perilaku mahasiswa di sana. Sering kali mahasiswa di gedung ini berlari-lari kecil ke ruangan profesor untuk menghadap atau berkonsultasi mengenai penelitian.

Antar-ruangan mahasiswa (gakusei) ke ruangan profesor sebenarnya dekat, masih dalam satu kompleks gedung, kenapa mesti berlari-lari? Apalagi yang perempuan kebanyakan menggunakan sepatu dengan hak tinggi.

Ternyata, bukan saya saja yang heran. Beberapa teman mahasiswa dari negara-negara Asia Tenggara, teman satu angkatan saya juga menyatakan keheranannya.

Keheran kami baru terjawab pada tahun kedua. Pada satu petang, dalam perjalanan ke apato (begitu sebutan rumah sewa di Jepang), teman mahasiswa dari Cina menggerutu, curhat tentang profesornya yang aneh.

Dia janjian untuk konsultasi tesis dengan profesornya tersebut pukul 17.00 JST. Merasa paham akan arti disiplin dalam masyarakat Jepang, tepat lima menit sebelum jam 17.00 dia sampai di depan ruang profesornya itu, dan mengetuk pintu. Namun, profesornya keluar dan bertanya padanya, ada perlu apa?

Sedikit terheran, dan berpikir bahwa mungkin saja profesor lupa, maka teman saya ini menjelaskan bahwa profesornya yang meminta dia untuk datang konsultasi pukul 17.00. Kemudian profesor tersebut melihat jam tangannya, dan berkata masih lima menit lagi. Silakan tunggu di luar ya. Kemudian dia kembali menutup pintu.

Rasa penasaran saya pada ‘keanehan’ ini terjawab. Ternyata di Jepang, datang lebih awal, apalagi terlalu awal dinilai tidak sopan. Sebab, itu akan mengganggu kegiatan pihak yang didatangi, dan membuat teman atau kolega terpaksa menghentikan kegiatannya yang mungkin sedang berlangsung. Datang tepat pada waktu sesuai yang disepakati adalah pilihan terbaik di Jepang.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved