Citizen Reporter
Sejarah Panjang di Negeri Dua Benua
BEBERAPA waktu lalu, bersama rekan saya Samarullah Hamid dan Neti Herawati, mengisi liburan musim dingin dengan mengunjungi Istanbul
BEBERAPA waktu lalu, bersama rekan saya Samarullah Hamid dan Neti Herawati, mengisi liburan musim dingin dengan mengunjungi Istanbul, kota terbesar di Turki. Bagi masyarakat Aceh, Turki tentu begitu akrab. Negeri dua benua ini memiliki sejarah panjang, termasuk dengan Aceh.
Turki sangat bersahabat dengan Aceh yang dimulai sejak masa kesultanan Ottman (Utsmaniah) Istanbul. Turki juga dikenal dengan banyaknya makam para syuhada (termasuk sahabat Rasulullah) yang wafat ketika menyebarkan Islam ke negeri tersebut.
Dari banyak objek wisata di Istanbul, setidaknya ada tiga tempat yang sangat menarik. Pertama Masjid Sultan Ahmet yang dikenal dengan mesjid biru, karena interiornya berwarna biru, meski tidak biru keseluruhan. Masjid berlantai dua ini memiliki enam menara dibangun pada 1609-1616 oleh Sultan Ahmed I. Masjid ini mampu menampung 10.000 jamaah. Berada dalam masjid ini mengingatkan saya pada Masjid Al-Makmur (Oman) Lampriek, Banda Aceh.
Di masjid ini, kawan saya, Aya Afya dan Ariyani Ibrahim punya pengalaman menarik. Seusai shalat, mereka didatangi dua wanita Turki. Ketika tahu kami dari Aceh, mereka sangat senang dan mengatakan ‘kita bersaudara’, kemudian wanita tersebut menghadiahkan rok, jilbab, dan sejumlah uang.
Tempat berikutya adalah Aya Sopia yang terpaut hanya lima menit jalan kaki dari masjid biru. Tempat ini juga sangat mengagumkan, baik dari sisi bangunan, sejarah maupun fungsinya. Dibangun pada 360 M sebagai gereja Bizantium, namun pada 29 Mei 1453 dialihfungsikan menjadi masjid setelah Sultan Mehmet II menaklukan kota Konstantinopel melalui pengepungan selama 54 hari.
Dalam perjalanan selanjutnya bangunan ini diubah fungsi lagi menjadi museum setelah kejatuhan kesultanan Ottman pada tahun 1934, oleh pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Attartuk. Suasana di dalam bangunan ini mewakili gereja dan masjid, karena banyak terdapat lukisan di dinding dan langit-langit seperti layaknya sebuah gereja, namun juga banyak kaligrafi Arab berukuran besar serta adanya mimbar khutbah.
Berikutnya adalah Istana Topkapi (berada persis di belakang Aya Sopia), istana kesultanan Ottman, yang merupakan kesultanan Islam terakhir, tempat kesultanan Aceh mendapatkan bantuan meriam lada sicupak. Untuk memasuki istana yang mulai dibangun pada 1460 oleh Sultan Mehmet II, kita harus membayar 20 Lira Turki (sekitar Rp 90.000) dan harus membayar 15 Lira lagi bila ingin memasuki bagian harem, ini merupakan tempat tinggal sultan dan keluarganya.
Menatap Turki--termasuk Kota Istanbul--tak ubahnya menatap sebuah kanvas yang sarat lukisan sejarah dari peradaban-peradaban besar dunia, termasuk peradaban Islam. Semua terawat sempurna. Tak ada pergesekan. Semua bebas melihat, mengagumi, dan memaknani dengan imaji masing-masing.(*)
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com