Massa Aceh Singkil Terobos Kebun Nafasindo
Ratusan masa dari 22 desa di Aceh Singkil, yang bersengketa lahan dengan PT Nafasindo, Kamis (19/1) berusaha, memasuki areal
Saat warga masih berkumpul di Desa Cingkam, Kecamatan Gunung Meriah, yang merupakan desa terakhir berbatasan langsung dengan HGU Nafasindo, Kapolres Aceh Singkil AKBP Helmi Kwarta, berhasil menenangkan massa, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan, seperti gesekan dengan karyawan perusahan yang telah siaga mendengar informasi warga akan datang, dapat dihindari.
Dalam dialog yang cukup menghangat itu, warga akhirnya sepakat mengutus 12 orang perwakilannya, bersama Kapolres melihat lokasi pematokan di areal perusahan Nafasindo, kawasan Kebun Tanjung Mas.
Di lokasi pematokan, kembali terjadi dialog antaraperwakilan warga dengan Kapolres AKBP Helmi Kwarta. Perwakilan warga yang terdiri dari, Sayani, H Manjek, Zakaria, Syahidan, Marijar, H Ginja, M Amin, Nazarudi, H Buhari, Asmudin, H Samsuri dan M Hata Angkat, setuju penyelesaian sengketa lahan dilakukan melalui tuntas sengketa oleh BPN.
“Kalau yang anda pilih penyelesaian tuntas sengketa, ikuti jalurnya. Tuntas sengketa itu oleh BPN. Masyarakat minta BPN menuntaskan dugaan sengketa ini, tak perlu kumpul ramai-ramai. Biarkan BPN bekerja dengan tenang sesui ilmu dan kewenangannya, tak perlu ramai,” kata Kapolres AKBP Helmi Kwarta.
Secara terpisah Sairun, Pembina LSM Gempa yang selama ini mendampingi masyarakat bersengketa lahan dengan Nafasindo menyatakan, warga datang lantaran sesuai surat Gubernur Aceh, tanggal 19 Februari 2011, BPN akan melakukan pemasangan patok permanen. Akan tetapi, BPN tidak juga datang dengan alasan keamanan, makanya warga menerobos ke lokasi.
“Warga menunggu sampai siang BPN tak juga ada datang, makanya warga menerobos ke lapangan,” kata Sairun.(c39)