Khutbah Jumat

Memberi Makna Kehidupan Menurut Ajaran Islam

di akhirat kelak ada azab yang keras, meskipun ada ampunan dan keridhaan Allah.


“Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. (QS. Al – Hadid : 20)

DEMIKIAN ilustrasi Al-Quran dalam menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga dan berlomba dalam kekayaan, anak keturunan dan lain sebagainya. Kemudian mengumpamakan itu semua dengan tanam-tanaman yang pada awalnya mengagumkan petani kemudian menjadi kering dan hancur. Di ujung ayat ditutup dengan ungkapan “kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. Satu hal yang paling menakutkan adalah ayat ini disertai dengan ancaman bahwa di akhirat kelak ada azab yang keras, meskipun ada ampunan dan keridhaan Allah.

Mengingat hal tersebut di atas maka bisa dimengerti kenapa kita sebagai muslim yang meyakini kebenaran semua informasi yang datang dari Allah harus mengisi kehidupan ini sesuai dengan ajaran Islam. Karena hanya orang-orang yang hidup di dunia ini di bawah tuntunan dan petunjuk agama sajalah yang akan mendapat ampunan Allah dan keridhaan-Nya di akhirat kelak, selain itu akan mendapat azab yang keras dari-Nya. Oleh karena itu, setiap mukmin diperintahkan untuk beramal dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya semasa hidup di dunia ini. Hari demi hari yang dilalui harus semakin baik dan berguna bagi kehidupan di akhirat.

Jika manusia hanya menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia semata, maka mereka benar-benar menjadi orang-orang yang rugi di hari akhirat nanti. Karena itu, dalam banyak ayat Al-Quran manusia diingatkan agar senantiasa mempersiapkan bekal di kehidupan dunia yang singkat ini untuk kebahagiaan hari esok.

Khutbah singkat ini, ingin memberikan gambaran sekilas tentang cara memaknai hidup secara Islam dan di bawah panji-panji ajarannya yang hanif. Sehingga manusia terhindar dari kehidupan yang bernuansa permainan, perhiasan, senda-gurau dan sikap berbangga-bangga yang merupakan perbuatan sia-sia dari perbuatan syetan. Berikut ini akan dipaparkan beberapa cara memaknai hidup agar bermanfaat di dunia dan di akhirat, yaitu antara lain hidup ini harus diisi dengan hal-hal sebagai berikut:

1.    Islam mengajarkan manusia khususnya para pemeluknya untuk mengisi hidup ini dengan ibadah.

Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku”. (Qs. adz-Dzariyaat :56).

Akan tetapi ibadah yang dimaksudkan dalam ayat ini bukanlah semata-mata berbentuk kegiatan ritual, karena ibadah dalam Islam dalam maknanya yang luas tidak hanya mencakup ibadah ritual belaka, melainkan terkait dengan semua kegiatan hidup sehari-hari yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

2.    Menjalin hubungan yang baik dengan Allah.
Merupakan suatu keharusan mutlak bagi setiap muslim untuk menjalin hubungan baik dengan Allah, sehingga setiap Muslim akan merasa dekat dengan-Nya. Bila hubungan itu sudah terasa dekat, maka di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi dan bagaimana pun situasi dan kondisi yang dihadapinya, seorang muslim akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Kalau perasaan ini sudah tertanam pada jiwa manusia, maka dia tentu tidak berani menyimpang dari jalan Allah.

3.    Menjalin hubungan baik sesama manusia.
Allah berfirman, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,...”. (Qs. Ali Imran : 112).
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri-sendiri, setiap manusia pasti membutuhkan kepada manusia lainnya. Karena demikian manusia harus menjalin komunikasi yang inten dan hubungan yang baik antara semamanya. Islam melarang manusia saling bermusuhan, saling mengadu domba, memfitnah, menggunjing, mencaci maki, mengupat, membuka aib saudaranya sampai pada iri hati, dengki dan lain sebagainya yang merupakan aktivitas hati.
Sebaliknya, manusia diharuskan agar senantiasa berbuat baik antara sesama, menjalin persaudaraan, menjaga persatuan dan kesatuan, selalu tolong menolong dalam kebaikan, sayang-menyayangi, bahu-membahu, saling memberikan hadiah.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved