Rabu, 10 Juni 2026

Citizen Reporter

Dayah Aceh di Tanah Betawi

JARUM jam menunjukkan pukul 04.18 WIB. Alarm tanda waktu telah tiba berbunyi kuat di telinga

Tayang:
Editor: hasyim
zoom-inlihat foto Dayah Aceh di Tanah Betawi
AZWIR NAZAR, mantan Sekjen PB Ikatan Mahasiswa Alumni Dayah Aceh (PB Imada), melaporkan dari Jakarta
JARUM jam menunjukkan pukul 04.18 WIB. Alarm tanda waktu telah tiba berbunyi kuat di telinga. Sayup-sayup suara azan mulai menggema, disertai shalawat khas dengan logat Aceh yang kental. Waktu Subuh telah datang. Penghuni kompleks mulai beranjak dari lamunan panjang menuju masjid yang berada di tengah balai-balai pengajian. Kehidupan hari ini sudah dimulai!

Mereka adalah santri yang sedang menuntut ilmu, menghabiskan masa ABG dengan belajar di dayah. Mereka memilih kehidupan sederhana, bersahaja, dan mandiri di tengah gemerlapnya dunia Jabodetabek yang menyuguhkan berjuta pilihan. Seketika, semua berkumpul, bersemangat menyongsong shalat Subuh berjamaah. Mereka masih sangat belia dan umumnya remaja usia SMP/SMU. Wajahnya bersih berseri, polos, memancarkan keteduhan dan keikhlasan sembari mulut yang komat-komit membaca bait-bait dan sajak zikir.

Suasana mirip Aceh itu bukanlah berlangsung di Serambi Mekkah. Serambinya dayah yang tersebar hampir di seluruh penjuru bumi Iskandar Muda. Tapi suasana anak mengaji, bersenandung shalawat penuh syahdu, balee, dan bilik panggung corak Aceh itu justru adanya di Betawi. Inilah dayah MUDI. Dayah Aceh di tanah Betawi. MUDI itu sendiri singkatan dari Ma’hadul ‘Ulum Diniyyah Islamiyah.  Hanya dengan sebidang tanah 400 meter, Ahad, 27 Maret 1988 dayah ini resmi didirikan.

Menurut Drs KH Marzuki A Ghani yang akrab disapa Waled, sang pimpinan, modalnya bismillah dan tawakkal ‘alallah. Sekarang, setelah 22 tahun, MUDI Mekar Jati Asih Al Aziziyah ini berdiri megah dan memiliki lahan 5 hektare di kampung Pamahan RT 03/09 Kelurahan Jati Mekar, Kecamatan Jati Asih, Bekasi. Sebuah kampung Betawi perbatasan Jakarta Timur dan Jawa Barat.

Bagi orang-orang yang pernah di dayah, maka suasana kerinduan dan ketenangan itu adalah momen paling indah. Kadang, kenangan itu sulit dimengerti bagi mereka yang tak pernah menghabiskan waktu di bilik-bilik atau asrama itu. Kekeluargaan, kemandirian, rasa suka duka, perjuangan semasa menuntut, sampai cerita-cerita lucu yang mengundang gelak tawa.

Tentu, bila Anda berkunjung ke Jakarta, tidak salahnya meluangkan waktu untuk bersilaturahmi ke dayah ini, melengkapi perjalanan spritual. Kira-kira hanya 1 jam dari Terminal Kampung Rambutan. Kondisi dayah sekarang memang sedikit menurun, santri juga berkurang, karena Waled beberapa bulan ini sedang sakit. Saat saya berkunjung pertama pun, beliau masih berobat di Aceh. Tapi, semangatnya membangun dayah ini sungguh luar biasa.

Seusai shalat Subuh saya menyapa pemuda yang baru saja selesai dengan wirid dan doanya yang khusyuk di dalam masjid. Beliau adalah seorang pengajar. Tgk Azhardi namanya. Sudah sebelas tahun ia mengabdi di sini dengan sepenuh hati.

Sahabat saya, Tgk Fadhil yang juga mengabdi di sana, memberi tanda bahwa kami harus segera kembali ke Ibu Kota. Kami kembali menyibukkan diri dengan rutinitas sebagai mahasiswa. Saya bertekad dan berdoa untuk bisa menyisakan waktu weekend dengan bersilaturahmi ke dayah-dayah lain di Tanah Jawa.   

Semoga kita bisa belajar dari dayah Aceh di tanah Betawi ini dan terus bertekad untuk berkontribusi serta bermanfaat bagi orang lain. Maka, mulialah orang-orang yang memilih tinggal di dayah dengan penuh keikhlasan dan ketulusan demi membina dan menyiapkan generasi masa depan yang lebih baik. Doa pun kita aturkan kepada para guru kita di mana pun mereka berada. Amin.

Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved