Citizen Reporter

Akses Keadilan bagi Korban Penyiksaan

Rehabilitation Action for Torture Victim’s in Aceh (RATA) adalah salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal yang saat ini masih aktif

Akses Keadilan bagi  Korban Penyiksaan
RAHMI AK
OLEH RAHMI AK, Staf Program RATA, Bireuen, melaporkan dari Filipina

Rehabilitation Action for Torture Victim’s in Aceh (RATA) adalah salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal yang saat ini masih aktif menjalankan program-program kemanusiaan di Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen seperti medical, psikososial, dan livelihood.

RATA merupakan salah satu anggota International Rehabilitation Council for Torture Victims (IRCT) yang berpusat di Denmark. RATA didirikan atas rekomendasi IRCT pada tahun 1999. IRCT telah pula memberikan begitu banyak dukungan dalam berbagai hal terhadap RATA. IRCT fokus pada penanganan korban-korban yang selamat dari penyiksaan, baik itu pada masa konflik maupun berbagai kasus yang masih terjadi saat ini, termasuk di Aceh.

Untuk itu, setiap tahunnya IRCT memfasilitasi semua anggotanya untuk menghadiri Asia Regional Conference yang diselenggarakan di berbagai negara.

Konferensi terakhir yang di-support oleh IRCT melalui Medical Action Group (MAG) diselenggarakan di Kota Manila, Filipina dengan tema Access to Justice of Victims of Torture in Rehabilitation. Konferensi yang berlangsung di Diamond Hotel Manila itu dihadiri oleh peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Pakistan, Tibet, India, Nepal, Blangladesh, dan lain-lain. Konferensi ini juga dihadiri oleh program manager dan staf peneliti dari IRCT Denmark beserta Dewan Parlemen IRCT untuk Asia dan Eropa.

Konferensi yang berlangsung selama lima hari ini berisi presentasi oleh setiap peserta yang mewakili lembaga di masing-masing negara tentang berbagai mekanisme yang telah dilakukan untuk mencapai akses keadilan bagi korban penyiksaan. Mekanisme tersebut meliputi program pendampingan, seperti terapi dan advokasi bagi korban.

Sebagai perwakilan dari Indonesia, saya mendapat kesempatan presentasi pada hari kedua. Berbagai pertanyaan muncul seusai saya presentasi. Terlihat jelas antusiasme peserta dari negara-negara lain untuk mengetahui situasi di Indonesia, khususnya di Aceh.

Kegiatan pada hari terakhir difokuskan pada diskusi kelompok mengenai strategi grup dalam rehabilitasi, pencegahan, dan keadilan. Dalam hal ini saya yang mewakili RATA mendapat tugas untuk melanjutkan program rehabilitasi melalui program psikososial dan livelihood bagi korban penyiksaan, pencegahan dengan Awareness UNCAT, dan keadilan melalui penyadaran tentang pentingnya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), lembaga yang belum terbentuk di Aceh, meski sudah diamanatkan MoU Helsinki dan UUPA.

Tujuan umum dari kegiatan ini adalah untuk memetakan berbagai pendekatan yang diadopsi oleh pusat rehabilitasi dan masyarakat sipil dalam mengakses keadilan bagi para korban penyiksaan. Konferensi ini menjadi tempat untuk saling tukar informasi tentang kerja-kerja pusat rehabilitasi dan inisiatif akses keadilan, sehingga mendapatkan praktik terbaik atau intervensi yang sukses untuk diterapkan di masing-masing negara peserta.

Konferensi selama lima hari ini merupakan konferensi yang sangat menyenangkan karena para peserta benar-benar diberikan fasilitas terbaik. Kamar hotel yang nyaman lengkap dengan internet dan mini bar yang menyediakan snack dan buah-buahan, bahkan saya tak perlu ke luar kamar jika ingin menikmati pantai, karena saya bisa menikmatinya dari balik jendela kamar saya.

Tak jauh dari hotel juga terdapat banyak restoran dan supermarket yang bisa saya tempuh hanya dengan berjalan kaki. Tempat-tempat tersebut menjadi tempat favorit bagi para peserta konferensi di malam hari.

Hal yang paling menarik, menurut saya, adalah ketika panitia menyerahkan flashdisk kepada semua peserta yang di dalamnya tidak hanya berisi dokumen konferensi, tapi juga foto-foto kegiatan.

Soal makanan

Kesulitan yang saya alami ketika di Manila adalah ketika saya harus membedakan antara makanan yang halal dan yang tidak halal. Secara kasat mata sangat sulit membedakannya, seperti nasi goreng yang terlihat hanya dicampur dengan sayur-sayuran, namun ketika saya tanyakan pada pelayan, mereka mengatakan makanan itu tidak halal. Begitu juga ketika panitia mengadakan solidarity dinner di Barbara’s Resto di Intramuros yang dikenal dengan kota tua di Manila. Saya ingin mengambil puding, mengingat beberapa pengalaman sebelumnya saya memilih menanyakan terlebih dulu pada pelayan apakah puding itu halal atau tidak halal dan jawabannya sangat mengagetkan saya, ternyata puding sekalipun bukan jaminan makanan halal di Filipina.  

Hadir sebagai peserta konferensi dan mewakili Indonesia merupakan kebahagiaan bagi saya. Apalagi ini merupakan konferensi kedua bagi saya setelah sebelumnya diselenggarakan di New Delhi, India, pada tahun 2010 dan pertengahan tahun 2012 ini akan diselenggarakan di Pakistan.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved