Tafakur
Menjaga Ukhuwah
Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan menzaliminya dan tidak akan membiarkannya binasa
“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan menzaliminya dan tidak akan membiarkannya binasa...” (HR. Muttafaq ‘alaih).
Umumnya tali, semakin sering dipakai akan semakin rapuh dan terputus. Tapi tidak demikian dengan tali persaudaraan atau ukhuwah, yang semakin sering digunakan, semakin kuat keadaannya. Memilih pemimpin sebenarnya juga bisa membantu memperkuat tali persaudaraan karena lewat jalur tersebut keadaan umat bisa diperkuat, terorganisir dan terpimpin. Namun, mengapa dalam proses memilih pemimpin, tali persaudaraan malah sering terputus?
Berburuk sangka, saling mencela, dan saling memburukkan sangat sering terjadi dalam proses memilih pemimpin. Padahal Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan, “Hati-hati kalian dari buruk sangka (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan dengan menunjuk ke arah dadanya.
Bila diselidiki dari peringatan Rasulullah tersebut, penyebab-penyebab rapuh dan putusnya tali persaudaraan karena gerogotan penyakit hati. Karena itu, penting merajut dan menyambung kembali tali persaudaraan yang kadangkala sempat renggang dan terputus, dengan terlebih dahulu membersihkan hati. Sebab, menurut Imam Hasan Al Banna, ukhuwah Islamiyah melibatkan keterikatan hati di samping penyatuan jiwa dengan ikatan aqidah.