Calon Penumpang ke Simeulue Kehabisan Uang
Jumat, 27 Januari 2012 09:11 WIB

Kapal cepat milik Pemkab Simeulue, yang dibeli sejak beberapa tahun lalu tidak dapat dioperasikan untuk mengatasi lumpuhnya transportasi Labuhan Haji - Simeulue. Foto direkam kamis (26/1) di lokasi bekas pelabuhan Feri Sinabang.SERAMBI/SARI MULIYASNO
Berita Terkait
- Labuhan Haji-Sinabang belum Normal
- Segera Atasi Penumpukan Truk di Labuhan Haji
- Puluhan Truk Menumpuk di Labuhan Haji
- Delapan Jam Berlayar ke Simeuleu
- Pipa Oli Bocor, KMP Teluk Singkil Tunda Berlayar
- Puluhan Truk Barang Kembali Antre di Labuhan Haji
- Pelayaran Labuhan Haji-Sinabang Lumpuh Lagi
- KMP Labuhan Haji Layari Calang-Meulaboh
- Truk Barang Masih Menumpuk di Labuhan Haji
- KMP Teluk Singkil Tiba
* Kapal Cepat Milik Pemkab Dipertanyakan
SINABANG - Menyusul belum berlayarnya kembali KMP Teluk Sinabang, ratusan calon penumpang asal Simeulue hingga Kamis (26/1) masih tertahan di Labuhan Haji, Aceh Selatan. Bahkan ada di antara calon penumpang mengaku sudah kehabisan uang karena kelamaan menunggu feri atau kapal pengganti yang akan mengangkutnya ke Sinabang, Kabupaten Simeulue.
Seorang calon penumpang, Hermansyah Ulma, yang menghubungi Serambi dari Labuahan Haji, Kamis (26/1) mengatakan, hingga saat ini ia bersama seratusan calon penumpang lainnya masih menunggu armada transportasi untuk pulang ke kampung di Simeuleu, setelah KMP Teluk Sinabang secara mendadak stop berlayar lantaran naik dok.
“Saat ini saya bersama saudara-saudara saya dari Simeulue, belum dapat pulang kampung karena feri pengganti belum tiba di Labuhan Haji, begitu juga biaya hidup kian menipis. Banyak yang tidur di musalla berhari-hari dengan fasilitas seadanya,” kata Herman.
Ia juga mempertanyakan kepada Pemkab Simeulue, karena tidak segera bertindak cepat mengatasi warganya yang tertahan di Labuhan Haji. “Padahal kita punya kapal cepat milik Pemkab yang dibeli miliaran rupiah, tetapi kenapa tidak dioperasikan menjemput kami. Ada apa ini,” ujar Herman dengan nada kesal.
Padahal, dengan dioperasikannya kapal cepat itu, kata dia, masyarakat Simeulue yang tertahan ini bisa cepat diberangkatkan. “Memang boat nelayan ada membantu menyeberangkan, tapi tidak semua kami mau berlayar mengingat resikonya tinggi,” ujarnya.
Dikatakan, kalau kapal cepat milik Pemkab Simeulue tidak bisa dioperasikan lebih baik dijual saja. “Untuk apa dibeli kalau tidak beroperasi dan menghamburkan uang rakyat saja, saat-saat beginilah kapal itu sangat membantu, kalau tidak bisa juga lebih baik dijual,” katanya lagi.(c48)
SINABANG - Menyusul belum berlayarnya kembali KMP Teluk Sinabang, ratusan calon penumpang asal Simeulue hingga Kamis (26/1) masih tertahan di Labuhan Haji, Aceh Selatan. Bahkan ada di antara calon penumpang mengaku sudah kehabisan uang karena kelamaan menunggu feri atau kapal pengganti yang akan mengangkutnya ke Sinabang, Kabupaten Simeulue.
Seorang calon penumpang, Hermansyah Ulma, yang menghubungi Serambi dari Labuahan Haji, Kamis (26/1) mengatakan, hingga saat ini ia bersama seratusan calon penumpang lainnya masih menunggu armada transportasi untuk pulang ke kampung di Simeuleu, setelah KMP Teluk Sinabang secara mendadak stop berlayar lantaran naik dok.
“Saat ini saya bersama saudara-saudara saya dari Simeulue, belum dapat pulang kampung karena feri pengganti belum tiba di Labuhan Haji, begitu juga biaya hidup kian menipis. Banyak yang tidur di musalla berhari-hari dengan fasilitas seadanya,” kata Herman.
Ia juga mempertanyakan kepada Pemkab Simeulue, karena tidak segera bertindak cepat mengatasi warganya yang tertahan di Labuhan Haji. “Padahal kita punya kapal cepat milik Pemkab yang dibeli miliaran rupiah, tetapi kenapa tidak dioperasikan menjemput kami. Ada apa ini,” ujar Herman dengan nada kesal.
Padahal, dengan dioperasikannya kapal cepat itu, kata dia, masyarakat Simeulue yang tertahan ini bisa cepat diberangkatkan. “Memang boat nelayan ada membantu menyeberangkan, tapi tidak semua kami mau berlayar mengingat resikonya tinggi,” ujarnya.
Dikatakan, kalau kapal cepat milik Pemkab Simeulue tidak bisa dioperasikan lebih baik dijual saja. “Untuk apa dibeli kalau tidak beroperasi dan menghamburkan uang rakyat saja, saat-saat beginilah kapal itu sangat membantu, kalau tidak bisa juga lebih baik dijual,” katanya lagi.(c48)
Editor : bakri
