Datang Subuh Pulang Magrib
Jumat, 27 Januari 2012 08:41 WIB

Fatimah Syam R
Berita Terkait
Disiplin Kepala Sekolah SD Negeri 1 Kualasimpang, Fatimah Syam R SPd, mungkin berbeda dengan kepala sekolah lainnya di Aceh Tamiang, ia selalu datang ke sekolah yang dipimpinnya usai subuh dan pulang sebelum mengumandang azan magrib. Baginya rutinitas itu dilakukan tanpa beban dan ikhlas untuk mengerjakan pekerjaan apa saja yang menjadi keperluan sekolah baik administrasi maupun kebersihan dan keindahan sekolah.
Wajar jika sekolah yang dipimpin sebelumnya di Kecamatan Rantau oleh wanita kelahiran, Aceh Timur, tanggal 21 Oktober 1857 ini meraih sekolah terbaik Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Dalam mengelola manajemen sekolah ia menganut sistim keterbukaan dengan melakukan diskusi dengan para guru baik pada saat evaluasi maupun rapat dewan guru yang selalu diadakan akhir bulan maupun pada jam istirahat. Baginya tidak ada perbedaan antara guru dengan kepala sekolah, yang membedakan hanya beban tambahan yang diberikan kepada kepala sekolah. berkaiatan dengan proses belajar mengajar, Fatimah juga memberikan tugas dan tanggung jawab para dewan guru dengan tugas masing-masing sehingga semujany berjalan dnegan baik. Disamping menanam kebersamaan dan kekompakan untuk kemajuan sekolah
Metode belajar disekolah ini walapuan tidak standar nasional, namun mereka menerapkan sendiri standar belajarnya agar proses belajar di SDN 1 Kualasimpang ini tidak kalah dengan sekolah berstandar nasional seperti, belajar menggunakan infokus, menggunakan metode alat peraga, murid dibentuk dalam kelompok belajar dan belajar tidak semata-mata didalam kelas. Belajar juga tidak mauanya guru, namun para guru memberikan ruang bagi murid agar terjadi diskusi. “Kelebihan metode yang diterapkan para dewan guru berdampak terhadap pemahaman murid yang lebih cepat mengerti dan jika murid tidak mengerti guru tidak bosan untuk membimbing mereka agar mengerti,”ujar Fatimah.
Ibu tiga anak ini juga mengakui dalam memajukan sekolah ada hambatan seperti masih rendahnya kepedulian sebagaian wali murid terhadap anak saat sekolah membutuhkan orang tua untuk kemajuan sekolah. Orang tua murid lebih banyak menyerahkan anak mereka sepenuhnya kepada guru di sekolah.
Sekolah ini merupakan sekolah pavorit di Kualasimpang, setiap tahunnya ratusan warga berkeinginan anaknya diterima di sekolah peninggalan penjajah Belanda tersebut. Fatimah juag berinisiatiggf mendirikan UKS di sekolahnya dengan menjadikan rumah dewan guru sebagai tempat UKS. Setiap Sabtu, ia menerapkan gotong royong guna menjaga pekarangan dan lingkungan sekolah tetap bersih.(muhammad nasir)
Wajar jika sekolah yang dipimpin sebelumnya di Kecamatan Rantau oleh wanita kelahiran, Aceh Timur, tanggal 21 Oktober 1857 ini meraih sekolah terbaik Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Dalam mengelola manajemen sekolah ia menganut sistim keterbukaan dengan melakukan diskusi dengan para guru baik pada saat evaluasi maupun rapat dewan guru yang selalu diadakan akhir bulan maupun pada jam istirahat. Baginya tidak ada perbedaan antara guru dengan kepala sekolah, yang membedakan hanya beban tambahan yang diberikan kepada kepala sekolah. berkaiatan dengan proses belajar mengajar, Fatimah juga memberikan tugas dan tanggung jawab para dewan guru dengan tugas masing-masing sehingga semujany berjalan dnegan baik. Disamping menanam kebersamaan dan kekompakan untuk kemajuan sekolah
Metode belajar disekolah ini walapuan tidak standar nasional, namun mereka menerapkan sendiri standar belajarnya agar proses belajar di SDN 1 Kualasimpang ini tidak kalah dengan sekolah berstandar nasional seperti, belajar menggunakan infokus, menggunakan metode alat peraga, murid dibentuk dalam kelompok belajar dan belajar tidak semata-mata didalam kelas. Belajar juga tidak mauanya guru, namun para guru memberikan ruang bagi murid agar terjadi diskusi. “Kelebihan metode yang diterapkan para dewan guru berdampak terhadap pemahaman murid yang lebih cepat mengerti dan jika murid tidak mengerti guru tidak bosan untuk membimbing mereka agar mengerti,”ujar Fatimah.
Ibu tiga anak ini juga mengakui dalam memajukan sekolah ada hambatan seperti masih rendahnya kepedulian sebagaian wali murid terhadap anak saat sekolah membutuhkan orang tua untuk kemajuan sekolah. Orang tua murid lebih banyak menyerahkan anak mereka sepenuhnya kepada guru di sekolah.
Sekolah ini merupakan sekolah pavorit di Kualasimpang, setiap tahunnya ratusan warga berkeinginan anaknya diterima di sekolah peninggalan penjajah Belanda tersebut. Fatimah juag berinisiatiggf mendirikan UKS di sekolahnya dengan menjadikan rumah dewan guru sebagai tempat UKS. Setiap Sabtu, ia menerapkan gotong royong guna menjaga pekarangan dan lingkungan sekolah tetap bersih.(muhammad nasir)
Editor : bakri
