Dokter Jual Benang Jahit ke Pasien
Proses operasi pasien usus buntu, Mariati (25), warga Blangkejeren, Gayo Lues, terhambat sekitar tiga jam karena pihak keluarga
* Dibanderol Seharga Rp 1,3 Juta
* Keluarga Pasien Mengeluh
BLANGKEJEREN - Proses operasi pasien usus buntu, Mariati (25), warga Blangkejeren, Gayo Lues, terhambat sekitar tiga jam karena pihak keluarga pasien keberatan membayar benang jahit operasi yang dijual seharga Rp 1,3 juta oleh seorang dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blangkejeren. Bisnis benang operasi di rumah sakit pemerintah itu, sangat disesalkan keluarga pasien.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, Kamis (8/2) kemarin, Mariati sedianya menjalani operasi usus buntu di ruang operasi (OK) RSUD Blangkejeren. Tapi proses operasinya tak berjalan mulus. Ia sempat masuk, tapi dikeluarkan lagi dari ruang OK. Itu karena, harga benang operasi yang ditawarkan dr Dandi SpB kepada pasien Mariati seharga Rp 1,3 juta, tak disanggupi keluarga pasien pembayarannya.
Mariati awalnya dimasukkan ke ruang OK sekira pukul 16.00 WIB kemarin. Namun, karena belum ada kejelasan dari keluarga pasien tentang bersedia membayar benang operasi tersebut atau tidak, sehingga pasien kembali dikeluarkan dari ruang OK.
Karena keluarga pasien tak setuju membayar benang operasi seharga itu, sang dokter mempersilakan keluarga pasien untuk mencari dan membeli benang tersebut ke apotek-apotek terdekat. Setelah satu jam lebih dicari, tak seorang pun keluarga pasien berhasil mendapatkannya dari apotek maupun toko-toko obat di kota itu.
Alhasil, beberapa jam kemudian, pasien itu tetap saja menjalani operasi usus buntu. Proses operasinya selesai setelah magrib.
Suhada, abang kandung Mariati, kepada sejumlah wartawan mengatakan, adiknya menjalani operasi usus buntu yang ditangani Dandi, dokter spesialis bedah. Pihak keluarga pasien mengeluh dan kewalahan mencari benang jahit tersebut, karena sang dokter tidak mau mengoperasi adiknya sebelum benang yang ditawarkan dokter spesialis itu dibayar atau diganti seharga Rp 1,3 juta.
Padahal, kata Suhada yang sempat bertanya kepada manajemen rumah sakit, benang jenis itu telah disediakan pihak rumah sakit untuk pasien yang akan menjalani operasi usus buntu. Cuma kepada Suhada dokter tersebut berdalih bahwa benang yang disediakan rumah sakit tidak bagus kualitasnya, lebih bagus kualitas benang yang dia tawarkan.
“Padahal adik saya (Mariati) menggunakan kartu JKA dalam menjalani operasi usus buntu tersebut,” ujar Suhada.
Masih menurut Suhada, setelah pihak pasien keberatan membayar Rp 1,3 juta, akhirnya sikap dr Dandi melunak. Ia tidak lagi mengharuskan keluarga pasien membayar benang seharga Rp 1,3 juta yang sudah terpakai itu. Akan tetapi, pihak keluarga pasien dia haruskan mengganti kembali benang miliknya dengan benang yang sama kualitasnya.
Akhirnya, benang seharga Rp 1,3 juta itu dibayar oleh pihak rumah sakit kepada dr Dandi. Sementara, tanggapan dokter spesialis bedah dr Dandi yang ditemui Serambi, Kamis (9/2) di ruangan poly mengatakan, bukan kapasitasnya berkomentar, dia justru mempersilakan wartawan konfirmasi kepada pihak rumah sakit. “Saya hanya memberikan pelayanan dan melakukan operasi terhadap pasien itu,” ujar dr Dandi.
Dokter Dandi yang ditanyai Serambi mengenai benang jahit operasi yang dia hargakan itu memilih diam, tidak berkomentar. Ia hanya mempersilakan Serambi menghubungi pimpinan rumah sakit.
Direktur RSUD Blangkejeren, dr Taufik yang dikonfirnasi Serambi mengatakan, semua biaya benang yang sudah dikeluarkan terhadap pasien usus buntu itu akhirnya ditanggulangi oleh pihak rumah sakit. “Ini untuk mengganti biaya benang operasi kepada dokter spesialis itu,” ujarnya.
Dia tambahkan bahwa selama ini benang operasi itu tersedia di rumah sakit, sehingga tidak harus dibeli oleh keluarga pasien, siapa pun pasiennya.
Menurut Dirut RSUD Blangkejeren itu, dokter spesialis bedah yang menjual benang operasi tersebut sudah diberikan tindakan oleh manajemen rumah sakit. Namun, ia tak merinci dalam bentuk apa tindakan itu dilakukan.
Dokter Taufik juga mengklarifikasi bahwa benang yang digunakan dr Dandi untuk menjahit bekas operasi pasien Mariati kemarin adalah benang murahan. “Jauh lebih bagus kualitas benang operasi yang tersedia di rumah sakit selama ini,” timpalnya.