Tafakur
Bahasa Yang Dirindukan
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13).
Bahasa bukan hanya berfungsi sebagai alat berkomunikasi dengan sesama manusia. Tetapi juga digunakan sebagai penunjuk identitas, yang membedakan antara satu macam manusia dengan yang lainnya. Bahasa yang digunakan orang baik-baik, misalnya, sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan orang-orang sebaliknya.
Cermatilah bahasa yang digunakan oleh seorang manusia mulia yang namanya disebutkan dan djadikan nama surah dalam Alquran, yaitu Luqman. Luqman dalam mengajarkan anaknya, (sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas dan dalam sejumlah nasehatnya yang lain), selalu mengutamakan penggunaan kata-kata yang bijak. Sungguh terasa enak terdengar dan memberi kesejukkan di hati. Bahasa yang mengajak untuk mendekat, bukan menjauh.
Bahasa-bahasa yang santun juga digunakan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, misalnya, ketika bersama sahabat-sahabat atau pulang ke rumahnya. Sebagaimana dituturkan Aisyah, “Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.”
Dari dua contoh ini bisa disimak beberapa hal penting. Yaitu, meskipun sedang berada di rumah sendiri sehingga bisa bebas menggunakan bahasa sesuka hati, orang-orang beriman tetap menggunakan bahasa yang santun. Demikian juga ketika berkuasa terhadap orang-orang tertentu (seperti ayah terhadap anak), orang-orang beriman tetap menjaga bahasanya agar senantiasa santun. Makanya sangat beralasan orang-orang beriman, meskipun telah tiada, sangat dirindukan orang. Lalu bagaimana bahasa kita terhadap isteri dan anak-anak? Bagaimana juga bahasa kita terhadap orang lain?