Eksportir Kepri Survei Potensi Ikan Aceh
Kamis, 16 Februari 2012 11:03 WIB
Berita Terkait
- Aturan Pelaksanaan Ekspor Listrik Terbit
- Penurunan Ekspor Tak Tertahan
- Pirak Timu Produksi Gagang Sekop
- Cold Storage Simeulue Siap Ekspor Ikan
- Ikan Impor di Sumut 4.300 Ton
- Harga Minyak Nilam Bisa Tembus Rp 1 Juta
- Belum Berani Ekspor Sendiri
- Ekspor Tekstil Terganggu Krisis AS dan Eropa
- Tak Ada Dana, Ekspor Via Krueng Geukueh Gagal
- Pengusaha belum Miliki Mesin Pengolah Rotan
BANDA ACEH - Eksportir Kepulauan Riau (Kepri), Sri Suhartiningsih tengah melirik potensi ikan laut di Aceh. Menurutnya Aceh yang sebagian wilayahnya di kelilingi laut sangat potensial menjadi daerah ekspor ikan laut ke negara-negara Asia.
Sri tiba di Banda Aceh Senin (13/2) meninjau beberapa kampung nelayan di Banda Aceh dan rencananya Kamis (15/2) ke Sabang dan Pulo Aceh. “Saya sebenarnya sebulan lalu sudah ke Aceh, ke wilayah barat-selatan, menjajaki beberapa daerah di sana yang bisa dikembangkan potensinya. Sekarang saya menjajaki Banda Aceh, Sabang, dan Pulo Aceh,” kata Sri saat bertemu ramah dengan wartawan Aceh.
Sri sudah mengekspor ikan 15-20 ton/hari di Kepri. Negara tujuan ekspor meliputi Hongkong (Cina), Thailand, Johor (Malaysia). Sedangkan jenis ikan yang diekspor adalah kakap merah, tuna, lobster, udang apolo, gerapuh, dan jenis ikan lainnya.
“Jenis ikan yang saya ekspor itu semua ada di Aceh. Maka itu saya yakin jika saya menanamkan modal saya di sini, prospeknya sangat cerah. Berapa ton pun ikan segar dari sini bisa saya ekspor dengan kargo saya,” ucapnya penuh yakin.
Selain itu untuk menorganisir kegiatan ekspor-impor di kalangan nelayan, Sri berniat mendirikan Lembaga Kelautan Perikanan Nasional Indonesia (LKPNI) yang salah satu programnya membina dan mendidik nelayan di Indonesia dan Aceh khususnya menjadi nelayan modern. “Melalui lembaga ini nanti kami ingin meningkatkan kapasitas nelayan di Aceh,” ujar Ketua Umum LKPNI Pusat ini.(c47)
Sri tiba di Banda Aceh Senin (13/2) meninjau beberapa kampung nelayan di Banda Aceh dan rencananya Kamis (15/2) ke Sabang dan Pulo Aceh. “Saya sebenarnya sebulan lalu sudah ke Aceh, ke wilayah barat-selatan, menjajaki beberapa daerah di sana yang bisa dikembangkan potensinya. Sekarang saya menjajaki Banda Aceh, Sabang, dan Pulo Aceh,” kata Sri saat bertemu ramah dengan wartawan Aceh.
Sri sudah mengekspor ikan 15-20 ton/hari di Kepri. Negara tujuan ekspor meliputi Hongkong (Cina), Thailand, Johor (Malaysia). Sedangkan jenis ikan yang diekspor adalah kakap merah, tuna, lobster, udang apolo, gerapuh, dan jenis ikan lainnya.
“Jenis ikan yang saya ekspor itu semua ada di Aceh. Maka itu saya yakin jika saya menanamkan modal saya di sini, prospeknya sangat cerah. Berapa ton pun ikan segar dari sini bisa saya ekspor dengan kargo saya,” ucapnya penuh yakin.
Selain itu untuk menorganisir kegiatan ekspor-impor di kalangan nelayan, Sri berniat mendirikan Lembaga Kelautan Perikanan Nasional Indonesia (LKPNI) yang salah satu programnya membina dan mendidik nelayan di Indonesia dan Aceh khususnya menjadi nelayan modern. “Melalui lembaga ini nanti kami ingin meningkatkan kapasitas nelayan di Aceh,” ujar Ketua Umum LKPNI Pusat ini.(c47)
Editor : bakri
