Salam
Gas Liar, Masyarakat Perlu Penjelasan Ilmiah
Fenomena alam muncul lagi di Aceh. Adalah gas bercampur lumpur, mirip fenomena “Lumpur Lapindo”
Semburan gas bercampur lumpur itu diyakini sebagai ekses pencarian minyak yang dilakukan PT Pertamina EP (Eksplorasi dan Produksi) Rantau, Aceh Tamiang belakangan ini. “Gas bercampur lumpur itu muncul akibat pencarian minyak dari sumur minyak di RNT-SZ 14 Reg 2,” kata Kepala Layanan Operasi PT Pertamina EP Rantau, Tergiah Sembiring.
Namun, ia menegaskan tidak ada kesalahan teknis maupun tindakan yang tidak sesuai dengan standard operating procedure (SOP) pengeboran. Pencarian minyak dengan cara mengebor itu dilakukan di lokasi yang hanya berjarak sekitar 150 meter dari SMPN 1 Kejuruan Muda.
Di luar dugaan, tiba-tiba di dalam pekarangan sekolah tersebut menyembur gas bercampur lumpur di lima titik. Masing-masing satu titik di dekat kamar mandi dan di depan kantin, tiga titik lainnya di sekitar mushalla sekolah. Tiga titik cepat bisa dikendalikan. Sedangkan dua titik semburan lainnya tak bisa segera dihentikan.
Harapan kita adalah, pertama kejadian itu tak berbuntut panjang. Dan, apapun yang disemburkan itu tidak sampai mengganggu kesehatan anak sekolah atau warga sekitar.
Untuk itu, agar tidak muncul kecemasan di kalangan siswa, dewan guru, dan masyarakat setempat, pihak yang bertanggung jawab perlu menjelaskan kepada masyarakat tentang penyebab kejadian itu. Kemudian, secara ilmiah juga harus diberitahukan kepada masyarakat mengenai kemungkinan apapun yang terjadi akibat semburan tersebut.
Kalau perlu, agar masyarakat lebih yakin, mestinya pihak Pertamina mendatangkan pakar atau ahli untuk menjelaskan hal itu. Jika tidak, berbagai kecemasan akan meuncul dalam masyarakat. Apalagi, ada pihak-pihak yang “mengipas-ngipas”.
Beberapa waktu lalu, semburan serupa pernah terjadi di satu desa Kabupaten Serang, Banten. Tim dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang berkali-kali meneliti semburan lumpur bercampur gas itu menyatakan tidak berbahaya. Dijelaskan, semburan tersebut didominasi gas CO2 yang diikuti H2S dan SO2. Ketiganya merupakan ciri dari gas-gas vulkanik yang tidak berbahaya.
Kalaupun terdapat kandungan gas metana dalam semburan, namun itu tidak berbahaya karena persentasenya sangat kecil. Selain itu, tekanan gas yang keluar pada umumnya bertekanan rendah.
Harusnya, pihak Pertamina di Aceh Tamiang juga mengupayakan penjelasan ilmiah seperti itu kepada masyarakat. Dan, yang menjelaskan sebaiknya pihak independen, misalnya kalangan perguruan tinggi. Dengan demikian masyarakat akan lebih percaya.