Pengemis Ramai Lagi di Banda Aceh
Minggu, 19 Februari 2012 11:02 WIB
Berita Terkait
- Fraksi PKS Sorot Dana Perjalanan Dinas Dewan
- Tim Kopassus Temukan "Black Box"
- Kotak Hitam Ditemukan 100 Meter dari Ekor Sukhoi
- Kotak Hitam Sukhoi Akhirnya Ditemukan
- Rumah Dinas Perkebunan Dijadikan Bengkel
- Mobil Mantan Bupati dan Wabup Pidie Didum
- IMDI Kritisi Pembelian Mobil Pejabat Tamiang
- Tak Ada Transaksi Politik
- Kotak Hitam Belum Ketemu, Tim SAR Fokus Cari Korban
- DPRK Nagan Raya Pelajari Manajemen RS Kota Batu
BANDA ACEH - Pengemis mulai terlihat ramai lagi di Kota Banda Aceh. Mereka sering terlihat mendatangi cafe-cafe di ibukota Provinsi Aceh ini. Para pengemis mengaku, dalm sehari mereka bisa mendapatkan uang sebanyak Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.
Amatan Serambi di Cafe Corner Simpang Lima, Cafe 3in1 Lampineung, dan tempat penjualanan Bandrek di Peuniti, pengemis yang masuk dalam satu jam bisa dua hingga empat orang. Ada yang membawa map sumbangan untuk dayah, sumbangan untuk anak yatim, dan sumbangan untuk pembangunan masjid/dayah.
Ada pula yang membawa serta bayinya untuk meminta belas kasihan para pengunjung cafe atau warung. Kebanyakan dari para pengemis itu terlihat sehat dan tak ada kecacatan pada tubuhnya.
Sementara itu Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Banda Aceh, Drs Purnama Karya mengakui saat ini pengemis lebih banyak masuk ke cafe-cafe dari pada berdiri di persimpangan lampu merah. Ia meminta pemilik cafe agar tidak mengizinkan pengemis masuk ke cafe, atau melapor ke nomor handphone 08126984137.
“Kita menghimbau masyarakat jangan membiasakan memberi uang kepada pengemis. Kebiasaan inilah yang membuat mereka betah menjadi pengemis,” kata Purnama kepada Serambi, Sabtu (18/2).
Purnama mengatakan, Jumat (17/2) lalu, saat penertiban di cafe kawasan Ulee Kareng, petugasnya mengamankan tiga pengemis, dua orang sudah dikembalikan ke daerah asal mereka dan satu orang lagi dititipkan kembali di Panti Aneuk Nanggroe, Mata Ie. “Tahun lalu kami menertibkan sekitar 172 pengemis dan tak sedikit dari mereka kembali ke Banda Aceh untuk mengemis,” katanya lagi.(c47)
Amatan Serambi di Cafe Corner Simpang Lima, Cafe 3in1 Lampineung, dan tempat penjualanan Bandrek di Peuniti, pengemis yang masuk dalam satu jam bisa dua hingga empat orang. Ada yang membawa map sumbangan untuk dayah, sumbangan untuk anak yatim, dan sumbangan untuk pembangunan masjid/dayah.
Ada pula yang membawa serta bayinya untuk meminta belas kasihan para pengunjung cafe atau warung. Kebanyakan dari para pengemis itu terlihat sehat dan tak ada kecacatan pada tubuhnya.
Sementara itu Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Banda Aceh, Drs Purnama Karya mengakui saat ini pengemis lebih banyak masuk ke cafe-cafe dari pada berdiri di persimpangan lampu merah. Ia meminta pemilik cafe agar tidak mengizinkan pengemis masuk ke cafe, atau melapor ke nomor handphone 08126984137.
“Kita menghimbau masyarakat jangan membiasakan memberi uang kepada pengemis. Kebiasaan inilah yang membuat mereka betah menjadi pengemis,” kata Purnama kepada Serambi, Sabtu (18/2).
Purnama mengatakan, Jumat (17/2) lalu, saat penertiban di cafe kawasan Ulee Kareng, petugasnya mengamankan tiga pengemis, dua orang sudah dikembalikan ke daerah asal mereka dan satu orang lagi dititipkan kembali di Panti Aneuk Nanggroe, Mata Ie. “Tahun lalu kami menertibkan sekitar 172 pengemis dan tak sedikit dari mereka kembali ke Banda Aceh untuk mengemis,” katanya lagi.(c47)
Editor : bakri
