Tiang Tengah Jembatan Air Sialang Amblas
Minggu, 19 Februari 2012 11:03 WIB

Warga sedang menyaksikan kondis jembatan penghubung di Desa Air Sialang, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan yang nyaris roboh akibat diterjang banjir. Foto direkam, Sabtu (18/2). SERAMBI / TAUFIK ZASS
Berita Terkait
- Warga Pulo Aceh Bangun Jembatan ke Pelabuhan
- Saluran Meluap, Sampah Berserakan di Jalan
- Mobil Patroli Polisi Dirusak Massa
- Jalan Blang Mee-Alue Kuyun Hancur
- Jembatan Timbang Seumadam Masih Tutup
- Pungli Sangat Leluasa
- Aceh Utara Minta Rp 30 M ke Provinsi
- Penanganan Batu Jatuh ke Jalan Harus Permanen
- Tim Kementerian PU Kunjungi Simeulue
- Polisi Belum Temukan Identitas Mayat Bertato Penguin
* Dampak Hujan Deras di Wilayah Selatan
TAPAKTUAN – Hujan deras yang mengguyur beberapa kawasan di Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu (18/2) sore berdampak meluapnya aliran sungai, termasuk Sungai Sarap di Kecamatan Samadua. Selain sempat merendam beberapa desa juga mengamblaskan tiang tengah jembatan Air Sialang dan menjebolkan sekitar 50 meter tanggul sungai itu.
Dampak amblasnya tiang tengah Jembatan Air Sialang tersebut, lantai jembatan ikut turun sehingga tidak bisa lagi dilewati kendaraan roda empat. “Jika banjir berlanjut dan arus sungai semakin deras, bukan mustahil akan amblas total,” kata Wakil Bupati Aceh Selatan, H Daska Aziz SPd MA yang turun ke lokasi beberapa saat setelah musibah itu. “Untung ketika lantai jembatan itu amblas, tak ada korban,” lanjut Daska.
Jembatan berukuran 4 x 25 meter itu, menurut Daska sangat strategis sebagai penghubung antar-desa di kawasan itu. Jika jembatan itu ambruk, dipastikan empat desa terisolir, yaitu Desa Air Sialang Hulu, Air Sialang Hilir, Air Sialang Tengah, dan Desa Subarang.
Menurut Daska, tiang tengah jembatan itu amblas sekitar pukul 16.00 WIB akibat hujan deras menyebabkan melupanya sungai. Arus sungai yang sangat deras bukan saja mengamblaskan tiang Jembatan Air Sialang tetapi juga menjebolkan sekitar 50 meter tanggul sungai tersebut. “Pihak kecamatan sudah dua kali mengusulkan normalisasi aliran sungai ini ke Pemerintah Provinsi namun belum ditindaklanjuti. Aliran sungai itu harus dinormalkan agar musibah serupa tidak terus terulang,” kata Daska didampingi Camat Samadua, Edi Muhajir SE dan Keuchik Air Sialang, M Sar.
Keuchik Air Sialang, M Sar mengatakan, banjir luapan yang terjadi Sabtu sore kemarin sempat pula meredam dua sekolah serta ratusan rumah di Desa Hilir, Desa Gadang, Desa Ladang Kasik Putih, dan Desa Balai. Beberapa bagian dari keempat desa itu terendam banjir dengan ketinggian 50 cm selama satu jam lebih. Namun menjelang magrib kemarin, banjir mulai surut.
Hujan deras juga mengguyur Aceh Barat Daya (Abdya) sejak pukul 16.00 WIB, Sabtu (18/2). Hingga pukul 21.30 WIB tadi malam, hujan dilaporkan masih mengguyur meski intensitasnya menurun.
Laporan sementara yang diterima Serambi, ratusan rumah di Kecamatan Tangan-Tangan dan Kecamatan Susoh terendam. Pengungsian sempat terjadi di beberapa lokasi.
Camat Tangan-Tangan, Muslim SPd melaporkan, ratusan rumah terendam akibat meluapnya Krueng Tangan-Tangan. Sejumlah warga Desa Padang Kawa harus mengungsi ke lokasi aman.
Masih di Abdya, banjir juga merendam dua desa di Kecamatan Setia, yaitu Gampong Ujong Tanoh dan Gampong Alue Dama (Dusun Kuta Padang). “Ada belasan rumah di dua desa itu terendam,” lapor Camat Setia, Amiruddin dari lokasi banjir kepada Serambi, malam tadi.(tz/az/nun)
TAPAKTUAN – Hujan deras yang mengguyur beberapa kawasan di Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu (18/2) sore berdampak meluapnya aliran sungai, termasuk Sungai Sarap di Kecamatan Samadua. Selain sempat merendam beberapa desa juga mengamblaskan tiang tengah jembatan Air Sialang dan menjebolkan sekitar 50 meter tanggul sungai itu.
Dampak amblasnya tiang tengah Jembatan Air Sialang tersebut, lantai jembatan ikut turun sehingga tidak bisa lagi dilewati kendaraan roda empat. “Jika banjir berlanjut dan arus sungai semakin deras, bukan mustahil akan amblas total,” kata Wakil Bupati Aceh Selatan, H Daska Aziz SPd MA yang turun ke lokasi beberapa saat setelah musibah itu. “Untung ketika lantai jembatan itu amblas, tak ada korban,” lanjut Daska.
Jembatan berukuran 4 x 25 meter itu, menurut Daska sangat strategis sebagai penghubung antar-desa di kawasan itu. Jika jembatan itu ambruk, dipastikan empat desa terisolir, yaitu Desa Air Sialang Hulu, Air Sialang Hilir, Air Sialang Tengah, dan Desa Subarang.
Menurut Daska, tiang tengah jembatan itu amblas sekitar pukul 16.00 WIB akibat hujan deras menyebabkan melupanya sungai. Arus sungai yang sangat deras bukan saja mengamblaskan tiang Jembatan Air Sialang tetapi juga menjebolkan sekitar 50 meter tanggul sungai tersebut. “Pihak kecamatan sudah dua kali mengusulkan normalisasi aliran sungai ini ke Pemerintah Provinsi namun belum ditindaklanjuti. Aliran sungai itu harus dinormalkan agar musibah serupa tidak terus terulang,” kata Daska didampingi Camat Samadua, Edi Muhajir SE dan Keuchik Air Sialang, M Sar.
Keuchik Air Sialang, M Sar mengatakan, banjir luapan yang terjadi Sabtu sore kemarin sempat pula meredam dua sekolah serta ratusan rumah di Desa Hilir, Desa Gadang, Desa Ladang Kasik Putih, dan Desa Balai. Beberapa bagian dari keempat desa itu terendam banjir dengan ketinggian 50 cm selama satu jam lebih. Namun menjelang magrib kemarin, banjir mulai surut.
Hujan deras juga mengguyur Aceh Barat Daya (Abdya) sejak pukul 16.00 WIB, Sabtu (18/2). Hingga pukul 21.30 WIB tadi malam, hujan dilaporkan masih mengguyur meski intensitasnya menurun.
Laporan sementara yang diterima Serambi, ratusan rumah di Kecamatan Tangan-Tangan dan Kecamatan Susoh terendam. Pengungsian sempat terjadi di beberapa lokasi.
Camat Tangan-Tangan, Muslim SPd melaporkan, ratusan rumah terendam akibat meluapnya Krueng Tangan-Tangan. Sejumlah warga Desa Padang Kawa harus mengungsi ke lokasi aman.
Masih di Abdya, banjir juga merendam dua desa di Kecamatan Setia, yaitu Gampong Ujong Tanoh dan Gampong Alue Dama (Dusun Kuta Padang). “Ada belasan rumah di dua desa itu terendam,” lapor Camat Setia, Amiruddin dari lokasi banjir kepada Serambi, malam tadi.(tz/az/nun)
Editor : bakri
