- Tabrak Lari, Saya Tidak Salah, Dia yang Nabrak Saya!
- Operasi Keamanan untuk Sita Senjata
- Mengendarai Motor Dengan Keadaan Mabuk, Kakak-Adik…
- Tiga Orang Ditangkap karena Bawa Senjata Api
- Lecehkan Siswi SMP, Juragan Sapi Dilaporkan ke Polisi
- Gangguan Frekuensi RAPI Semakin Parah
- Pengendara Sepeda Motor Tewas
- Sheikh Uni Emirat Arab Hapus Utang Warganya
- Mobil Patroli Polisi Dirusak Massa
- Dana Identifikasi Korban Sukhoi Capai Rp 800 Juta
SERAMBINEWS.COM, NEW DELHI - Setiap tahun sekitar 15.000 orang tewas di pelintasan kereta api di India.
Komite pemerintah India yang menangani masalah ini menggambarkan, pelintasan rel kereta api India yang begitu banyak dan padat, sebagai sebuah lokasi "pembantaian". Kondisi ini praktis dibiarkan oleh otoritas perkeretapian di India.
Panel Keselamatan India, sebagaimana dikutip kantor berita AP, Selasa (21/2/2012), mengemukakan, perlunya dibangun jembatan baru di atas pelintasan kereta api. Anjuran ini pernah dikemukakan, tetapi praktis didiabaikan oleh otoritas perkeretapian India. Jalur kereta api di India merupakan nomor empat terbesar di dunia.
Sebagian besar kematian 15.000 orang akibat tertabrak kereta api di pelintasan itu, terjadi di pintu pelintasan yang tidak dijaga. Sekitar 6.000 orang di antaranya, tewas di pelintasan padat di pusat kota Mumbai. Sekitar 1.000 orang lainnya tewas akibat terjatuh dari gerbong yang padat manusia, atau akibat kereta api bertabrakan dan anjlok dari rel.
India memiliki panjang jalur kereta api sejauh 64.000 kilometer, dan banyak yang melintasi kota-kota dengan populasi yang padat, atau kawasan kota yang miskin dekat rel kereta api. Penduduk India saat ini 1,2 miliar orang.
Pengamat kereta api mengatakan, melarang pejalan kaki melintasi rel kereta api di area-area yang padat, jelas sesuatu yang tidak mungkin.
"Situasi sangat berbahaya terlihat di Mumbai. Empat sampai lima lajur rel kereta api, berada pararel dan rakyat miskin tinggal di antara rel-rel itu. Mereka tak punya pilihan lain, kecuali melintasi rel-rel itu," ujar IMS Ratna, pengamat perkeretaapian.
Komite Pemerhati Keselamatan Tertinggi dibentuk Pemerintah India bulan September lalu, setelah terjadi sejumlah kecelakaan kereta api. Setiap hari sekitar 20 juta warga India bepergian dengan kereta api.
Laporan yang dikeluarkan adalah agar pemerintah menggantikan seluruh pelintasan kereta api dengan jembatan atau fly over, dengan rencana anggaran sekitar 500 miliar rupee atau sekitar Rp 90 triliun dalam lima tahun mendatang.
