RSUD Cut Nyak Dhien Tolak Rawat Pasien Melahirkan
Selasa, 21 Februari 2012 09:24 WIB
Share |
210212foto.6_.jpg
Petugas medis di Ruang Kebidanan RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Aceh Barat memeriksa kondisi kesehatan seorang pasien JKA asal Nagan Raya yang diminta pulang seusai melahirkan. Foto direkam Senin (20/2).SERAMBI/DEDI ISKANDAR
* Jika tak Pulang, Diancam tak Ditangani  Dokter

MEULABOH-Seorang pasien melahirkan di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat yang berasal dari Kabupaten Nagan Raya, Senin (20/2) kemarin memerotes penolakan rawat inap oleh pihak rumah sakit tersebut.

Pasien yang bernama Kasumi (37) werga Desa Ujong Patihah, Kecamatan Kuala. abupaten Nagan Raya itu melahirkan dalam armada ambulans di kawasan Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, Minggu (19/2) sekitar pukul 22.00 WIB dalam perjalanan menuju ke RSUD di Meulaboh itu dinilai sudah sembuh, meski ia harus melahirkan secara prematur.

Ia diminta pulang oleh dokter yang melakukan perawatan terhadap dirinya karena dianggap persalinannya itu terjadii secara normal dan ditolak untuk dirawat lebih lanjut.

“Kami sangat kecewa dengan pelayanan pihak rumah sakit kepada kami yang mengancam tak akan merawat isteri saya di rumah sakit, karena menurut dokter isteri saya sudah sembuh. Padahal kami masuk ke rumah sakit ini tadi malam (Minggu malam-red) karena isteri saya melahirkan prematur (belum cukup bulan red),” kata Dayat suami Kasumi kepada sejumlah wartawan, Senin (20/2) di Meulaboh.

Selain mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan dari petugas medis di lembaga itu, pihaknya juga mengaku mendapatkan ancaman bahwa jika mereka tak pulang sesuai dengan anjuran dokter, maka isterinya yang sedang sakit paska melahirkan itu tak akan ditangani.

Bahkan, yang ia semakin terluka, kata Dayat, apabila nantinya ada pasien lain yang berobat melalui Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), maka tempat tidur yang kini ditempati oleh isterinya itu harus dipindah guna ditempatkan pasien lainnya.

Sedangkan isterinya harus dipindahkan ke lantai karena tempat tidur pasien akan ditempati oleh pasien lainnya. “Janganlah kami diperlakukan seperti ini, mentang-mentang kami orang kecil, jangan diperlakukan sesuka hati,” keluhnya sambil menahan air mata.

Menurut Dayat sama sekali tak mungkin isterinya dibawa pulang sedangkan anaknya masih harus dirawat di rumah sakit. “Sebagai manusia kita bisa merasakan bagaimana kalau seorang ibu jauh dari anaknya, apalagi baru saja lahir dan harus dirawat di rumah sakit,” kata Dayat. (edi)

Editor : bakri