Demo Korban Konflik Diwarnai Didong
Ratusan korban konflik Aceh Tengah dan Bener Meriah kembali berdemo ke Gedung DPRA, Selasa (21/2)
Menariknya, saat apa yang mereka orasikan tidak ditanggapi, para pengunjuk rasa akhirnya menyampaikan tuntutan lewat tarian didong.
Massa yang menggunakan lima bus berbadan sedang, mobil, serta sepeda motor itu tiba di Gedung DPRA sekitar pukul 10.00 WIB. Meski sudah satu jam berorasi, membaca Yasin, bershalawat, tapi tak seorang pun pejabat Pemerintah Aceh, termasuk Pj Gubernur Tarmizi A Karim dan Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA), dr Haniff Asmara MMSc yang sedang mengikuti Rapim di DPRA, menanggapi tututan para pendemo.
Oleh karena itu, mereka akhirnya berdidong. Inti pesan yang disampaikan dalam atraksi seni berbahasa Gayo itu, antara lain, mereka menilai pemimpin murka adalah pemimpin yang tidak bersedia mendengar keluhan rakyatnya. Rakyat hanya dibutuhkan ketika pilkada, karena itu mereka mengancam tidak akan memilih siapa pun calon pemimpin, jika akhirnya hanya seperti itu.
Sebelumnya, Koordinator Aksi, Agusta Mukhtar dalam orasinya menyebutkan, di antara 39.000 rumah yang dibangun BRA, seperti disampaikan Ketua BRA Haniff Asmara kepada Serambi kemarin, tidak satu pun rumah itu didapat oleh sekitar 500 KK korban konflik di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang datang ke DPRA kemarin.
Padahal, menurut Agusta, nama mereka sudah berkali-kali diverifikasi BRA sebagai korban konflik yang berhak menerima rumah bantuan. Massa ini juga sudah sering berdemo meminta BRA membangun rumah, baik disampaikan ke Kantor BRA, Gedung DPRA, maupun ke Kantor Gubernur sejak 2008 lalu.
“Anehnya ada yang bukan korban konflik justru mendapat rumah bantuan dari BRA. Malah ada yang mendapatkan lebih dari satu rumah. Karena itu, kami minta kepada Kapolda Aceh untuk mengusut hal ini. Sedangkan kepada Pj Gubernur kami minta membentuk tim independen guna memverifikasi korban konflik yang berhak menerima rumah bantuan atau tidak,” teriak Agusta, disambut tepuk tangan pendemo lainnya.
Sekitar pukul 12.00 WIB, massa demo tiba-tiba pecah. Sebagian di antaranya, termasuk Agusta, lari ke dekat pintu masuk sebelah timur Gedung DPRA karena mereka menerima informasi bahwa Pj Gubernur, Tarmizi A Karim keluar lewat pintu itu.
Setelah setengah jam menunggu di dekat pintu tersebut, mereka tetap tak berhasil menjumpai Pj Gubernur Aceh. Polisi justru mengawal ketat saat Tarmizi yang berada di dalam mobil dinas meninggalkan Gedung DPRA. Begitu juga ketika Kapolda Aceh, Irjen Pol Iskandar Hasan, meninggalkan Gedung DPRA.
Meski hujan, pendemo tetap bertahan di gedung dewan itu. Akhirnya, sekitar pukul 16.00 WIB, Ketua BRA Haniff Asmara dan Kadis Sosial Aceh, Nasir Gurumud menjumpai para pendemo. Haniff mengatakan, BRA bisa memverifikasi kembali para korban konflik, terutama 39.000 orang yang sudah menerima rumah bantuan, layak atau tidak, termasuk di Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Namun, ia belum bisa memutuskan ketika pendemo mendesak mereka membentuk tim independen guna memverifikasi data korban konflik itu. Sekitar pukul 16.30 WIB, pendemo mulai meninggalkan Gedung DPRA. (sal)