Fasiltas Sekolah belum Memadai
Rabu, 22 Februari 2012 10:09 WIB

SISWI SMP Negeri 2 Seulimuem berlatih tari ranub lampuan di sekolah, beberapa waktu yang lalu.
Berita Terkait
SMP Negeri 2 Seulimuem yang terletak di pedalaman kaki Seulawah Agam ini dikenal sebagai salah satu sekolah terbersih di Aceh Besar. Karena itu, tak salah kepala Balai Tekkomdik Aceh, Bustamam Ali sebagai produser film pendidikan memilih sekolah ini sebagai sekolah yang menjadi model manajemen berbasis sekolah (MBS). Ini untuk dijadikan contoh dalam film yang dana pembuatannya didukung SEDIA-AusAID itu.
Kepala SMPN 2 Seulimuen, Mahdi Adam SPd mengatakan, masalah kebersihan di sekolahnya sudah merupakan komitmen guru dan siswa. Karena itu, pintu pagar sekolah selalu tertutup.
Salah satu bukti kebersihan sekolah, katanya, dapat dilihat dari keseharian siswi sekolah itu yang menghabiskan waktu istirahatnya dengan duduk santai di rerumputan halaman sekolah.
“Sekarang kami sedang memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas lulusan. Sehingga alumni sekolah ini bisa diterima di berbagai sekolah menengah,” kata dia.
Mahdi Adam yang memulai kariernya sebagai guru agama dan geografi pada SMP Lamteuba sejak tahun 1986, sempat menjadi wakil kepala sekolah selama 12 tahun dengan melayani tiga kepala sekolah.
Pada Februari 2009, setelah kepala lama, Drs Hamdani pindah menjadi kepala SMA Negeri Lamteuba, Mahdi Adam mengaku diberi kepercayaan menjadi kepala SMPN 2 Seulimuem.
SMP Lamteuba dengan dukungan penuh komite sekolah dan dewan guru saat ini sedang menuju perubahan meraih prestasi. Selama ini, prestasi sekolah ini diakui sering mengalami pasang surut.
Dikatakan, hal ini bukan karena masalah guru yang belum mencukupi, tapi lebih pada fasilitas sekolah yang belum memadai, terutama menyangkut perangkat lunak komputer, lab bahasa, dan lainnya. “Masalah guru dan komitmen mereka tidak ada masalah,” tegas alumnus FKIP Abulyatama tahun 2009 itu.(sir)
Kepala SMPN 2 Seulimuen, Mahdi Adam SPd mengatakan, masalah kebersihan di sekolahnya sudah merupakan komitmen guru dan siswa. Karena itu, pintu pagar sekolah selalu tertutup.
Salah satu bukti kebersihan sekolah, katanya, dapat dilihat dari keseharian siswi sekolah itu yang menghabiskan waktu istirahatnya dengan duduk santai di rerumputan halaman sekolah.
“Sekarang kami sedang memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas lulusan. Sehingga alumni sekolah ini bisa diterima di berbagai sekolah menengah,” kata dia.
Mahdi Adam yang memulai kariernya sebagai guru agama dan geografi pada SMP Lamteuba sejak tahun 1986, sempat menjadi wakil kepala sekolah selama 12 tahun dengan melayani tiga kepala sekolah.
Pada Februari 2009, setelah kepala lama, Drs Hamdani pindah menjadi kepala SMA Negeri Lamteuba, Mahdi Adam mengaku diberi kepercayaan menjadi kepala SMPN 2 Seulimuem.
SMP Lamteuba dengan dukungan penuh komite sekolah dan dewan guru saat ini sedang menuju perubahan meraih prestasi. Selama ini, prestasi sekolah ini diakui sering mengalami pasang surut.
Dikatakan, hal ini bukan karena masalah guru yang belum mencukupi, tapi lebih pada fasilitas sekolah yang belum memadai, terutama menyangkut perangkat lunak komputer, lab bahasa, dan lainnya. “Masalah guru dan komitmen mereka tidak ada masalah,” tegas alumnus FKIP Abulyatama tahun 2009 itu.(sir)
Editor : bakri
