Citizen Reporter
Kuliah Murah di India
BERANGKAT pukul 9 pagi melalui Bandara LCCT Kuala Lumpur, Malaysia, minggu lalu akhirnya saya tiba di International Airport Gandhi
BERANGKAT pukul 9 pagi melalui Bandara LCCT Kuala Lumpur, Malaysia, minggu lalu akhirnya saya tiba di International Airport Gandhi 3, India, setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih 5 jam 30 menit.
Sejak turun dari pesawat, mata saya dimanjakan dengan desain bangunan yang luar biasa. Bahkan dari informasi yang saya dapatkan, pada tahun 2010 bandar udara (bandara) tersebut berhasil masuk kategori bandara dengan pelayanan terbaik di dunia.
Saat itu suhu di India mencapai 10 derajat Celcius. Bagi saya yang berasal dari Aceh yang beriklim tropis, saat menghadapi suhu dingin seperti itu mestilah menggunakan sweater tebal. Apalagi inilah pertama kalinya saya merasakan cuaca dingin di negeri orang. Cuaca ekstrem yang tengah melanda dunia ternyata ikut berdampak juga kepada negara yang dijuluki “anak benua” ini.
Kedatangan saya ke sana adalah dalam rangka melakukan survei untuk kuliah S2. Sebab, setelah menamatkan studi S1 di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun ini, saya berkeinginan menimba ilmu di India.
Atas rekomendasi beberapa teman bahwa India merupakan salah satu negara yang menawarkan kuliah termurah di dunia, tapi dengan kualitas terbaik, tentu saja saya ingin merasakannya, sehingga saya perlu melakukan survei lebih dulu sebelum benar-benar memilih kuliah di sana.
Ada lima universitas yang sempat saya datangi. Kampus pertama yang saya kunjungi adalah India Institute of Technology (IIT). Kampus ini menduduki peringkat ke-66 di Asia. Suasana kelasnya sekilas seperti kelas pada masa saya sekolah dasar (SD) di Aceh. Ketika saya mengunjungi Sekolah Business School, biaya iuran di fakultas tersebut ternyata sekitar Rp 40 juta per tahun.
Yang saya kunjungi kedua adalah University of Delhi. Kampus ini berada tak jauh dari stasiun kereta api Vishwavidyalaya. Hanya sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Bangunan kampus ini mirip bangunan lama, karena masih berbatu warna merah. Fakultas Manajemen adalah sasaran yang ingin saya survei. Untuk Master Business of Administration (MBA) yang ditargetkan selesai dalam dua tahun, uang kuliah yang mesti dikeluarkan adalah U$ 3.000 atau Rp 24 juta per tahun.
Kampus ketiga yang saya kunjungi adalah Aligard of University yang berjarak 4 hingga 5 jam perjalanan darat dari New Delhi. Biaya kuliahnya lebih murah, yakni hanya sekitar Rp 20 juta per tahun. Sementaran di Osmania of University hanya 100 ribu rupee atau sekitar Rp 18 juta.
Dibanding empat universitas di atas, ternyata ada lagi yang paling murah biaya kuliahnya, yakni University of Allahabad yang cuma Rp 10 juta per tahun.
Memang biaya kuliah S2 di India sangatlah murah jika dibandingkan di Asia atau di Eropa, kecuali Indonesia.
Sedangkan bagi mahasiwa S1 untuk jurusan sosial seperti ekonomi, biaya kuliahnya hanya berkisar Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per tahun. Uang kuliah senilai itu bukan hanya berlaku di kampus-kampus yang terdapat di New Delhi saja, tetapi juga di seluruh kampus negeri di India.
Bagi saya, dengan melakukan penjajakan (survei pendahuluan) seperti itu, maka akan lebih mudah bagi saya dalam menentukan pilihan yang tepat ketika saya akan kuliah S2 nantinya di India. Tinggal saya putuskan saja segera, apakah saya akan memilih kuliah ke universitas tertentu di India atau menetap di UKM Malaysia, atau bahkan ke universitas terkemuka lainnya di luar Malaysia dan India.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com