Kamis, 11 Juni 2026

Penurunan Ekspor Tak Tertahan

”Pertumbuhan ekonomi akan melambat, makanya kami tahan dengan stimulus. Stimulus kami biayai dengan tambahan defisit itu,” ujarnya.

Tayang:
Editor: Boyozamy

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Penurunan nilai ekspor pada tahun 2012 sudah dipastikan terjadi dan tidak ada yang bisa dilakukan pemerintah agar hal itu tidak terjadi.


Ekspor Indonesia akan tertekan karena melemahnya daya beli di pasar global yang pada akhirnya menurunkan tingkat permintaan atas produk-produk Indonesia.


”Karena pasokan bertambah, sedangkan permintaannya melemah, harga jual produk Indonesia di negara tujuan ekspor pun turun. Ini menyebabkan nilai ekspor semakin rendah,” ujar Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati, di Jakarta, Rabu (29/2/2012), seusai memimpin rapat yang dihadiri seluruh sekretaris jenderal dari kementerian dan lembaga.


Menurut Anny, dengan penurunan ekspor itu, pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 6,7 persen pada APBN 2012 tidak mungkin tercapai. Atas dasar itu, pemerintah merevisi target pertumbuhan ekonomi menjadi 6,5 persen-6,6 persen.


Meski demikian, pemerintah tetap berusaha untuk menopang pertumbuhan ekspor tahun ini. Ekspor tidak dapat mengandalkan kenaikan harga komoditas di pasar global. Padahal biasanya kenaikan harga komoditas selalu menyertai kenaikan harga minyak mentah.


”Harga minyak mentah jenis Brent sudah mencapai 122 dollar AS per barrel, sedangkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) rata-rata sepanjang Januari 2012 ada di kisaran 115 dollar AS per barrel. Namun, karena permintaan atas produk Indonesia berkurang, harganya tetap turun meskipun harga meningkat,” ujar Anny.


Anny menegaskan, pemerintah dipastikan akan menyampaikan Rancangan Undang-Undang APBN Perubahan 2012 pada 1 Maret 2012 kepada DPR. Beberapa indikator yang sudah sempat diumumkan adalah kemungkinan naiknya angka defisit APBN dari 1,5 persen dari produk domestik bruto menjadi 2,2 persen dalam usulan APBN Perubahan.


”Pertumbuhan ekonomi akan melambat, makanya kami tahan dengan stimulus. Stimulus kami biayai dengan tambahan defisit itu,” ujarnya.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved