Jumat, 19 Desember 2014
Serambi Indonesia

Jembatan Bailey untuk Atasi Isolasi Tangse

Jumat, 2 Maret 2012 10:39 WIB

Jembatan Bailey untuk  Atasi Isolasi Tangse - 020312foto.12_.jpg
Irigasi di Gampong Pantee Aree, Kecamatan Delima, Pidie jebol dihantam air Sungai Krueng Baro Raya, Kamis (1/3). SERAMBI/M NAZAR
Jembatan Bailey untuk  Atasi Isolasi Tangse - 020312foto.13_.jpg
Polisi membantu warga melintasi banjir di Desa Lubuk Nilam, Kecamatan Tangse, Pidie, Kamis (1/3). Hingga hari keempat banjir bandang Tangse bertambah parah, tiga titik jalur darat kembali terputus, warga di lima desa meliputi Lubuk Nilam, Blang Malo, Kebun Nilam, Ulee Gunong, Pulo Mesjid, dan Ulee Krueng Tangse kembali terisolir. ANTARA/Rahmad
* Irigasi Pantee Aree Jebol

SIGLI - Untuk mengatasi keterisoliran Kecamatan Tangse, Pidie, dari dua arah (Beureunuen dan Tutut-Geumpang) akibat banjir beruntun sejak Sabtu lalu, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh akan mendatangkan bailey (jembatan darurat) ke lokasi. Bailey pertama dipasang di Blang Malo, Tangse yang jembatannya hanyut dilanda banjir. Bailey kedua dipasang di lintas Tangse-Tutut (Aceh Barat), persisnya di kawasan Kuburan Aneuk Manyak.

Dari Pidie kemarin sore dilaporkan bahwa arus transportasi Beureunuen-Tangse belum juga normal, karena jembatan dan jalan di Gampong Blang Malo, Kecamatan Tangse yang putus sejak Sabtu lalu, belum tertangani maksimal. Untuk melancarkan jalur tengah tersebut, Dinas BMCK Aceh akan mendatangkan jembatan bailey ke Blang Malo.

“Saat ini tim dari Balai Besar I Medan Departemen Pekerjaan Umum sedang merangkai jembatan bailey tersebut. Akan didatangkan dari BMCK Aceh ke Blang Malo,” kata Kepala Dinas BMCK Pidie, Anwar Ishak, kepada Serambi, Kamis (1/3).

Menurutnya, pemasangan jembatan bailey itu butuh waktu dua hari. Masyarakat diminta bersabar, karena lintas Tangse belum bisa dilalui seperti sebelumnya. Kendaraan roda empat maupun roda dua memang sudah bisa lewat, tapi harus diawasi ketat, jangan sampai terbawa air dari gunung yang masih mengalir deras di atas ruas jalan dan jembatan tersebut.

“Ruas jalan dari Keumala, Tangse, Mane, dan Geumpang merupakan jalan nasional atau disebut lintas tengah. Makanya, perbaikan jalan itu merupakan wewenang Departemen PU,” kata Anwar.

Akan tetapi, lanjutnya, ruas jalan Geumpang menuju Aceh Barat merupakan jalan provinsi. Itu sebab, jalan yang amblas di Kubu Aneuk Manyak kini ditangani Dinas BMCK Provinsi Aceh. “Kedua jalan tersebut kini sedang dalam penanganan,” kata Anwar.

Jembatan darurat
Dari Banda Aceh dilaporkan, Dinas BMCK Aceh sejak Kamis (1/3) kemarin mendatangkan kerangka jembatan darurat jenis bailey ke lokasi longsoran badan jalan yang ambruk sepanjang 50 meter di lintas Tangse (Pidie)-Tutut (Aceh Barat) atau persisnya di kawasan Kuburan Aneuk Manyak.

“Badan jalan yang longsor hingga turun sedalam 2-3 meter itu tidak mungkin lagi ditimbun. Solusinya harus kita pasang jembatan darurat jenis bailey,” kata Kepala Dinas BMCK Aceh, Ir Rizal Aswandi. Menurut Rizal, badan jalan yang ambruk di kawasan Kuburan Aneuk Manyak itu awalnya tak begitu parah. Hanya terjadi penurunan badan jalan sedalam 0,5-1 meter. “Maka awalnya rencana kita cukup ditimbun saja, untuk mengatasi jalan yang putus karena longsor itu,” ujar Rizal yang Kamis dini hari baru kembali dari Tangse memantau kemajuan penanganan jalan yang rusak akibat banjir.

Belakangan, kata Rizal, karena hujan terus mengguyur kawasan itu, maka badan jalan di Kuburan Aneuk Manyak yang ambruk sepanjang 50 meter terus menurun, sehingga 2-3 meter dalamnya.

Ditambah lagi tekstur tanah di kawasan pengunungan itu tanah kuning, otomatis mudah longsor apabila diguyur hujan. “Tanah di kawasan itu sangat labil, maka jalan di lintas Geumpang-Tutut itu rawan longsor,” katanya.

Melihat kondisi itu, pihaknya sudah memutuskan untuk mendatangkan jembatan darurat jenis bailey ke Kuburan Aneuk Manyak. “Tadi siang (kemarin -red) kerangka jembatan bailey itu sudah diberangkatkan ke lokasi,” katanya.

Kemungkinan paling lambat dalam dua hari ke depan sudah selesai dipasang dan kendaraan sudah bisa melintasi kembali. “Saya sudah instruksikan kepada petugas di lapangan supaya pemasangan jembatan itu harus cepat. Jika perlu harus bekerja siang malam. Saya tidak mau hubungan transportasi terputus berhari-hari. Apalagi Pak Gubernur Tarmizi A Karim sudah meminta kami untuk terus mengawasi jalan yang rawan longsor itu,” ujar putra Aceh Besar ini.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Pidie, Apriadi SSos mengatakan kepada Serambi kemarin, sepanjang 35 meter tebing Irigasi Pante Aree, Kecamatan Delima, Pidie, Kamis (1/3) sekira pukul 04.00 WIB dini hari hancur dihantam ganasnya air Krueng Baro. Letak irigasi itu berbatasan dengan Pantee Garot, Kecamatan Indrajaya.

Derasnya air sungai di Pidie itu, menyusul hujan yang turun terus-menerus sejak Rabu malam. “Saat ini rumah masyarakat di pinggir tebing Irigasi Pantee Aree terancam tenggelam karena tebing sungai tersebut telah terkikis air sungai. Bahkan, kini hanya tersisa dua hingga tiga meter lagi dari Krueng Baro,” katanya.

Dampak lain, kata Apriadi, sepuluh hektare areal persawahan masyarakat yang di dalamnya berisi tanaman padi yang menguning, bakal kekurangan air jika hujan tak segera turun. (sup/naz)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas