Citizen Reporter
Malaysia, Apanya yang Hebat
Sekilas ibu kota Malaysia itu tak berbeda jauh dengan Jakarta
Sekilas ibu kota Malaysia itu tak berbeda jauh dengan Jakarta. Baik dari segi bangunan pencakar langitnya, maupun kemacetannya pada wilayah dan jam tertentu. Hanya saja fasilitas publik di sana “sedikit” lebih terawat dan terjaga baik. Tak heran jika pemasukan devisa negara tetangga ini tergolong tinggi dari sektor pariwisata. Padahal, jika kita perhatikan Jakarta sebagai ibu kota juga memiliki objek dan produk wisata yang nyaris sama, bahkan jauh lebih unggul dibanding Malaysia.
Tapi sayangnya, bandar udara bertaraf internasional di Kuala Lumpur justru menghadirkan kekecewaan di hati kami sekeluarga. Bagaimana tidak, untuk turun naik dari dan ke pesawat para penumpang harus melalui perjalanan panjang. Tidak ada fasilitas bus atau “belalai”, padahal jaraknya sangat lumayan bikin lelah. Saya tak mengerti apakah ini terjadi juga pada penerbangan lainnya dengan tujuan Kuala Lumpur?
Akan tetapi, orang Aceh masih saja berbondong-bondong melancong ke sana, karena penerbangan ini menawarkan harga yang sangat ekonomis. Terbukti dengan penuhnya selalu pesawat tiap kali terbang ke Kuala Lumpur Internasional Airport dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda.
Aneh memang, padahal saat belanja oleh-oleh saya tak melihat sedikit pun keramahan para penjualnya. Barang yang dijajakan tidak boleh “diobrak-abrik” seperti di tempat kita, tidak ada tegur sapa, hanya muka masam. Hilang selera saya berlanja.
Namun, saat menelusuri Kuala Lumpur, hampir tak pernah saya dengar suara klakson (horn) kendaraan. Selidik punya selidik, ternyata membunyikan klakson saat mengendara dianggap aib oleh warga Malaysia. Bahkan Amy, teman saya menambahkan bahwa dia terkadang kesal jika ada pengemudi lain yang tiba-tiba menyalip di depan mobilnya.
“Orang tuh nggak tahu kalau dia salah apabila kita nggak klakson kan? Tapi aneh, yang begitu kok aib? Justru aib tuh main potong jalan orang lain! Di sini biasa banget mobil main salip begitu,” jelas Amy.
Seorang sopir yang taksi yang kami tumpangi menuju bandara menambahkan bahwa di Kuala Lumpur kalau pengendara membunyikan horn, maka orang di jalanan akan marah.
Padahal, menurut saya, membunyikan klakson justru sangat membantu. Selain menjadi isyarat bagi pengendara dan pejalan kaki, juga bisa menjadi ajang tegur sapa saat berpapasan di jalan dengan teman atau saudara.
Seharusnya jika memang suara klakson dianggap “aib”, sedianya dijalankan pula aturan larangan menyalip sembarangan dan menyalakan lampu isyarat jika hendak berbelok ke kiri atau kanan. Soalnya, saya juga melihat mereka sangat jarang menggunakan lampu sign. Ini jelas berbahaya bagi keselamatan orang lain.
Ada ketakutan juga rasanya jika mengemudikan mobil di Kuala Lumpur. Alhasil kesimpulan saya, “rumput tetangga tak selamanya lebih hijau. Bisa jadi itu hanyalah rumput plastik (palsu).”
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com