Tafakur
Batu dan Hati
Dilihat dari segi bentuknya, batu tentunya merupakan benda keras yang berbeda jauh dengan hati
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi” (QS. al-Baqarah: 74).
Dilihat dari segi bentuknya, batu tentunya merupakan benda keras yang berbeda jauh dengan hati. Namun bukan berarti hati (manusia) tidak bisa mengeras (dari segi kebebalannya). Dan bahkan hati yang mengeras jauh lebih berbahaya ketimbang batu.
Bahkan batu yang keras bermanfaat bagi manusia dan makhluk-makhluk lain. Ada yang menjadi tempat mengalirnya air sungai dan ada pula di antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya. Dan ada pula di antaranya yang jatuh meluncur ke bawah karena takut kepada Allah (QS. al-Baqarah: 74).
Akan tetapi kalau hati yang mengeras, bukan hanya tidak memberi manfaat, tetapi juga berbahaya kepada diri sendiri dan orang lain. Ia tidak lagi mudah membuka diri untuk menerima hal-hal yang baik, meskipun mengetahui itu baik. Orang yang berhati keras juga tak merasa iba menganiaya orang lain. Akan terus memperhambakan diri pada hawa nafsu, mengejar angan-angan yang tak berujung, serta takut akan kematian. Singkatnya, ia tidak lagi takut pada Allah.
Ketika ditanyakan mengapa hati manusia menjadi keras, Imam al-Ghazali menjawab karena manusia sering mengasup makanan haram. Oleh karena itu, perlu berusaha menghindari diri dari mencari rezeki haram dan bertaubat dengan memohon ampun dan tidak mengulangi lagi, agar hati tidak mengeras.