Tafakur
Meluruskan Lisan
Setiap pembicaraan manusia membahayakannya, tidak bermanfaat baginya, kecuali yang menyuruh
“Setiap pembicaraan manusia membahayakannya, tidak bermanfaat baginya, kecuali yang menyuruh perbuatan makruf atau menahan dari yang mungkar, atau zikir kepada Allah” (HR. at-Tirmidzi).
Sepantasnya manusia sangat bersyukur dianugerahi lisan. Berbagai kebutuhan manusia, disadari atau tidak, bisa diperoleh dengan memanfaatkan lisan. Dengan lisan, manusia bisa berusaha mendekatkan diri kepada Allah siang dan malam. Berzikir, membaca Alquran, mengajak kepada kebenaran, dan mencegah kemungkaran, adalah di antara perbuatan mulia yang tak terlepas dari penggunaan lisan. Dengan lisan juga, manusia bisa mempengaruhi orang banyak untuk memilih atau tidak memilih seseorang sebagai pemimpin. Demikian banyak kenikmatan dari lisan. Meskipun demikian, banyak yang tidak mau bersyukur.
Di antara tanda orang yang tidak bersyukur, sebagaimana pernah diingatkan oleh Rasulullah, ialah menggunakan suatu pemberian Allah bukan pada tempat yang sepatutnya. Seperti menunggangi lisan untuk menyebarluaskan janji-janji yang sering tidak mau ditepati atau kedustaan. Padahal janji-janji yang disebarkan itu bagaikan jaring laba-laba yang akan terus menjaring banyak orang untuk dijadikan sebagai korban-korbannya. Dan tak ada yang tahu berapa orang yang terperangkap di dalamnya.
Menurut Rasulullah, “Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim). Disediakan tempat kembali yang baik dan buruk di akhirat menunjukkan bahwa manusia akan diminta pertanggungjawaban, termasuk dalam menjaga lisannya. Karena itu, Rasulullah mengajak, “...tahanlah lisanmu kecuali dari kebaikan” (HR. Imam Ahmad).