Tafakur
Menerima Kritikan
Jika ditawarkan dua pilihan antara pujian dan kritikan, mungkin banyak yang akan memilih yang pertama
“Tiap anak cucu Adam pasti punya kesalahan, dan yang terbaik di antara orang-orang yang berbuat kesalahan ialah yang bertaubat” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).
Jika ditawarkan dua pilihan antara pujian dan kritikan, mungkin banyak yang akan memilih yang pertama. Sebab, pujian terasa menyenangkan hati, sedangkan kritikan seringkali terasa menyakitkan. Meskipun demikian, dilihat dari fungsinya, kritikan sifatnya menantang untuk perbaikan. Sayyidina Umar r.a. adalah pemimpin Islam yang tidak alergi terhadap kritikan. Baginya, kritikan sama halnya dengan kesempatan memperbaiki diri. Bahkan menurut riwayat, orang yang sangat disukainya ialah yang mau menunjukkan kesalahan pada dirinya. Itulah sosok pemimpin yang tidak banyak di dunia ini.
Pemimpin yang sedikit lebih memilih sisi positifnya dari setiap kritikan. Biasanya, setiap individu atau penguasa yang selalu terbuka untuk dikritik, akan terhindar dari hal-hal yang menjerumuskan dirinya. Sebab, di antara kritik itu adalah pengingat. Kalau suatu perencanaan sudah dikritisi dan diperbaiki, maka akan lebih baik keadaannya. Lagipula, dilihat dari sisi perencanaan, kritikan berfungsi memperkuat apa yang sedang direncanakan. Kritikan merupakan bagian tak terpisahkan dari perencanaan. Kata orang bijak, menghasilkan suatu rencana yang matang sama halnya dengan sudah melaksanakan rencana itu sekian puluh persen.
Lebih-lebih dalam hidup ini, kita tak selamanya mampu mengawal diri sendiri dengan baik siang dan malam. Kadangkala kita melakukan kesalahan, yang tak selamanya disadari. Karena itu, sebahagian tugas pengawalan diri kita berada dalam tugas orang lain, seperti yang dilakukan dengan cara saling mengingatkan satu sama lain, tak terkecuali lewat kritikan. Namun demikian, Allah menganjurkan kita untuk saling mengingatkan dengan cara yang baik dan penuh hikmah. Dengan cara ini, kebersamaan akan terjaga dan peluang untuk mengikuti kritik sangat terbuka lebar. Sedangkan cara-cara yang keras cenderung dianggap sebagai pihak yang harus dijadikan lawan atau dimusuhi.