Minggu, 28 Desember 2014
Serambi Indonesia

Nilam Aceh Terbaik di Dunia

Minggu, 18 Maret 2012 10:09 WIB

TAPAKTUAN – Ahli Indikasi Geografis Kementan RI, Dr Riyaldi menilai, Provinsi Aceh sangat potensial untuk dikembangkan komoditas nilam berskala besar. Selain kondisi alamnya yang mendukung, kualitas nilam Aceh juga dinilai yang terbaik di dunia, sehingga tidak heran jika daerah Aceh ini menjadi daerah penyumbang terbesar ekspor nilam di Indonesia.

“Menurut hasil penelitian, minyak nilam asal Aceh memiliki kandungan zat minyak (rendemen) 2,5 hingga 3,3 persen. Sementara rendemen rata-rata nilam di dunia maksimal hanya 2,5 persen. Makanya mutu nilam Aceh ini terbaik di dunia. Oleh karenanya perlu dipatenkan,” kata Dr Riyaldi dalam acara sosialisasi indikasi geografis di kantor Nilam Bisnis Center (NBC) Caritas Aceh Selatan, Sabtu (17/3).

Namun sayangnya, tambah Riyaldi, selama ini ada pedagang dari luar Aceh yang mengaku nilam dari daerah lain sebagai nilam Aceh. “Kondisi ini tentunya akan merugikan petani di Aceh. Sebab nilam yang dari luar hasil kurang bagus sering disamakan dengan nilam Aceh yang mutunya cukup bagus,” papar Riyaldi.

Kunjungan Dr Riyaldi bersama Tim Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen HAKI) Kementerian Hukum dan HAM RI ke Aceh Selatan dalam rangka peninjauan lapangan terhadap usulan pengurusan hak paten nilam Aceh yang diajukan oleh Forum Masyarakat Pelindungan Nilam Aceh (FMPNA) bekerja sama dengan NGO Caritas Australia.

Manager Nilam Businees Center (NBC) Koperasi Nilam Aceh Selatan (Kinas), Edi Syahputra, mengatakan, tim yang datang dari Jakarta itu berjumlah tiga orang, masing-masing Dr Riyaldi (Tim ahli Indikasi Geografis Kementan), Idris ST dan Saki Septiono SH MH (Dirjen HAKI Kemen Hum dan HAM RI).

“Kunjungan ini dalam rangka meninjau kondisi geografis dan usulan pengurusan sertifikat Hak Panten Nilam Aceh,” kata Edi.

Ketua Forum Masyarakat Pelindungan Nilam Aceh (FMPNA) Aceh Selatan, Syafruddin, menjelaskan, forum yang dibentuk pada tanggal 21 November 2011 itu bertujuan menghimpun petani nilam di Aceh dalam rangka pengurusan sertifikat hak paten nilam Aceh. Sebab selama ini banyak petani dari luar Aceh mengaku nilam yang dijualnya itu berasal dari Aceh.

“Sebab pada tahun 2009 saya pernah mengeskpor nilam Aceh Selatan ke Perusahaan Payan Bertrand di Prancis, mereka mengatakan Nilam Aceh sangat bagus, sehingga untuk menjaga nama dan kualitasnya kami (FMPNA) yang dibantu Caritas berusaha keras mengurusi sertifikat hak paten itu,” paparnya sembari menjelaskan, Forum yang pendanaan dan pendampingannya dibantu NGO Caritas itu juga sudah melatih dan membina 932 petani nilam di Aceh Selatan.(tz)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas