Tafakur
Kemenangan Melalui Rezeki
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah” (QS. An Nahl: 114).
Bila meraih suatu emenangan, manusia akan merasakan suatu kepuasan dan kesenangan yang sulit terukur. Dan kemenangan itu sebenarnya bukan hal yang jarang. Setiap hari bisa diraih, misalnya, melalui pintu rezeki. Lantas mengapa layak disebut kemenangan?
Pasalnya, setiap hari banyak manusia harus bertarung untuk memilih antara rezeki yang halal dan yang haram. Tidak jarang kadangkala, tawaran yang haram lebih banyak jumlahnya, sehingga menggiurkan atau menggoda banyak orang untuk segera memilihnya. Dan, bertarung melawan godaan terbukti tidak mudah bagi manusia. Makanya tidak sedikit orang, terlepas statusnya terdidik atau tidak, yang bertekuk lutut pada harta banyak yang haram statusnya.
Meskipun demikian, banyak orang yang berbuat demikian, merasa dirinya menang karena melihat kuantitas hartanya yang banyak. Padahal sesungguhnya, yang menang bukan karena jumlahnya yang banyak, tetapi yang mampu meraih rezeki yang halal statusnya. Apalagi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan, “Tiada mendatangkan faedah bagi daging yang tumbuh dari sumber yang haram, ?melainkan nerakalah tempat yang sewajarnya bagi daging itu” (HR. Imam Turmudzi)?.
Dengan demikian, siapapun patut merayakan kemenangan pertarungannya setiap hari dalam meraih rezeki yang halal, dengan syukuran. Syukur adalah kepada Allah, yang telah memberikan rezeki sekaligus melindungi dari yang haram. Lebih-lebih, syukur dijanjikan kenikmatan yang bertambah-tambah.