Tafakur
Harapan
Di masa-masa kampanye kepala daerah, ribuan gambar dan tulisan menghiasi pelosok-pelosok negeri
Oleh: Jarjani Usman
“Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui” (QS al-Ankabut: 64).
Di masa-masa kampanye kepala daerah, ribuan gambar dan tulisan menghiasi pelosok-pelosok negeri. Miliaran uang dikorbankan untuk tujuan tersebut. Yang terkadang bukan sepenuhnya berasal dari diri sendiri, tetapi dikumpulkan dari mana saja. Termasuk dari sumbangan. Semua pengorbanan yang begitu itu tentunya tak akan mau dilakukan, bila bukan karena masing-masing pihak memiliki harapan besar untuk menang dalam pertarungan. Kenyataan ini membuktikan, harapan yang tinggi akan menghasilkan suatu tenaga penggerak yang kuat untuk melakukan apa saja untuk meraihnya.
Tak terbayangkan bila setiap orang memiliki harapan yang demikian tinggi untuk mendapatkan kebaikan di akhirat kelak. Sungguh akan menghasilkan tenaga penggerak yang tinggi untuk mengorbankan apa saja untuk meraih harapan besar itu. Tak akan merasa berat untuk beribadah. Tak akan merasa perlu untuk melakukan apa saja, termasuk kejahatan, untuk kepentingan dunia ini. Juga tak akan merasa kurang untuk menyisihkan sebahagian harta benda untuk kepentingan orang-orang yang kebetulan sedang kurang beruntung nasibnya. Apalagi Allah telah menjamin bahwa akhirat lah sebaik-baik tempat kembali yang abadi. Sedangkan dunia ini hanya tempat persinggahan. Sifatnya sangat sementara.
Namun, kenyataannya tidak sedikit di antara kita yang tidak serius dengan akhirat dan lebih mementingkan dunia. Hanya untuk meraih harapan di dunia, kejahatan mau dilakukan. Sesama manusia, bahkan seiman, mau saling menzalimi, menghujat, membunuh, melakukan ketidak-adilan, dan sejenisnya. Sebahagian orang malah terus melakukan hal-hal seperti itu sepanjang masa. Sehingga tak tahu kapan ada masa yang disisakan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meraih harapan di akhirat.