Selasa, 23 Desember 2014
Serambi Indonesia

Di Brunei, Khutbah Jumat Diseragamkan

Senin, 26 Maret 2012 10:14 WIB

Di Brunei, Khutbah Jumat Diseragamkan
MUHAMMAD UZNY BIN NASIR
OLEH MUHAMMAD UZNY BIN NASIR, perantau asal Aceh, melaporkan dari Brunei Darussalam

SAYA ingin berbagi cerita tentang sebuah negeri yang hebat dalam banyak aspek, khususnya dalam hal agama, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Letaknya di utara Pulau Kalimantan, yakni Negara Brunei Darussalam.

Di sini terdapat dua masjid yang kubahnya terbuat dari emas 24 karat. Salah satunya bernama Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Masjid ini dibangun sangat indah, seakan-akan terapung di atas air dalam bulatan danau seluas lebih kurang dua hektare. Masjid yang selesai dibangun tahun 1958 ini merupakan masjid induk dari semua masjid di Brunei Darussalam. Nama masjid ini diambil dari nama Sultan Brunei ke-28. Segala macam bentuk acara, baik ritual maupun seremonial, terpusat dan terkontrol dari masjid ini, sehingga semua masjid di negara ini seragam dalam hal pedoman beribadah. Maka tak pernah kita dengar di negeri kaya dan makmur ini terjadi selisih paham dalam hal ajaran atau adanya aliran sesat, di samping karena kuatnya kewenangan kerajaan dalam mengawasi akidah rakyatnya.

Selain itu, sosialisasi bidang keagamaan di Brunei ini boleh dibilang sangat cukup. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui mimbar Jumat. Sultan mengharuskan isi khutbah Jumat diseragamkan di seluruh masjid yang terdapat di Brunei. Hal ini membawa efek yang sangat baik, karena jamaah Jumat di pelosok mana pun mendengarkan isi khutbah yang sama dengan yang disampaikan di masjid lainnya, tak terkecuali di masjid induk, Masjid Sultan Omar Ali.

Saya terbayang, bagaimana kalau cara ini kita uji terapkan di Aceh. Pengurus Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh misalnya diberi kewenangan mengontrol seluruh masjid di Aceh dengan cara menyiapkan konsep khutbah Jumat, lalu dikirimkan ke seluruh masjid di Aceh sebelum hari Jumat. Khatib tinggal membacakan saja apa isinya di setiap masjid. Kalau ini ditempuh, saya yakin rakyat Aceh akan terhindar dari segala bentuk pendangkalan akidah.

Brunei yang mempunyai Lagu Kebangsaan “Allah Peliharakan Sultan” ini, punya konsep Negara Zikir. Artinya, zikir sangat dianjurkan kepada rakyatnya, zikir membesarkan Zat Allah. Ternyata pemimpin Brunei sangat bijak dan serius dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada rakyatnya. Ini terbukti dengan upaya melunakkan hati rakyatnya dengan zikir, sehingga apabila rakyat telah me-mulazamah-kan hatinya dengan mengingat Allah, maka rakyat sudah barang pasti menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang agama. Kuncinya adalah hati.

Selama di Brunei ini, tidak pernah saya dengar istilah Islam kafah atau saya lihat wilayatul hisbah (polisi syariat). Namun, keseharian mereka penuh dengan nilai-nilai Islam. Rakyat hingga pemimpinnya dan terkawal rapi dalam sendi moral-moral Islam.

Salah satu contoh yang saya lihat adalah saat pelajar masuk sekolah. Mereka secara berjamaah membaca Surah Yasin sebelum mengikuti proses belajar-mengajar. Kemudian, mereka membaca Asmaul Husna menjelang pulang sekolah. Ini sesuatu yang saya kira sangat tepat kita tiru di Aceh, sebagai satu-satunya provinsi bersyariat Islam di Indonesia.

Tampaknya pemimpin mereka telah berhasil mempraktikkan konsep bernegara ala Rasullullah. Kalau memang nanggroe Aceh benar-benar ingin membumikan syariat Islam dan punya hak otonomi dalam mengatur daerahnya, maka menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak sekolah di seluruh Aceh bukanlah hal yang tidak mungkin diwujudkan.

Yang saya saksikan selama di Brunei, kemakmuran dan kerukunan tampak nyata dalam realitas kehidupan rakyatnya. Rakyat pun sangat bangga, ikhlas, dan bersyukur karena Allah memberi kepada mereka sultan yang adil. Lalu, sebagai rasa terima kasih dan syukur, setiap usai shalat lima waktu mereka selalu mendoakan sultan. Semoga di Aceh, Allah memberikan pemimpin seperti itu kepada kita melalui pilkada bulan depan. Amin.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas