Nasib Kuli Siapa Peduli?
HIRUK pikuk kampanye yang dilakukan calon bupati/wakil bupati Aceh Singkil, sejak Sabtu 24 Maret
Kuli bangunan asal Pulau Sarok, Singkil ini, memilih mengerjakan pesanan perahu dari seorang pengusaha ikan, yang sudah dua pekan ini dikarjakan sendirian. “Untuk apa sibuk-sibuk ikut kampanye, hanya sekarang saja mereka (calon bupati/wakil bupati) perhatian pada rakyat kecil. Setelah terpilih ingatpun tidak,” kata bapak lima anak itu, Minggu (25/3), sambil tangannya terus mengencangan baut pengikat lambung perahu.
Kuli yang mengaku sanggup menyelesaikan perahu sendirian dengan ukuran dua ton itu, tak paham bila harus mendengarkan visi dan misi 10 kandidat calon pemimpin di daerahnya. Apa lagi, sudah dua priode pria 40 tahun ini, ikut memilih pemimpin, nasibnya sama dengan keadaan tanah kelahirannya tak banyak mengalami perubahan.
Kiman, kuli bangunan di Gunung Meriah, memiliki cerita lain. Dalam pemilihan bupati Aceh Singkil, tahun 2007 lalu menjadi tim sukses salah satu kandidat. Sayang janji manis yang diterimanya tak pernah dinikmati.
“Aku tetap jadi kuli, katanya mau menciptakan lapangan kerja, kenyataanya di kampung aku tetap banyak pemuda yang menganggur, bahkan teman aku sesama kuli bangunan tak sanggup menyekolahkan anaknya,” kisah Kiman.
Jasmin memilih meneruskan memembuat perahu kendati hari sudah menjelang magrib. Bila cepat selesai, lembaran uang yang sudah ditunggu keluarganya akan segera dinikmati. Bila ikut-ikutan berpolitik, kampanye dan mendengarkan janji kandidat tugasnya sebagai pencari nafkah terbengkalai. Toh nasibnya tak berubah, kalau bukan Ia yang merubah sendiri.(dede rosadi)